PUISI : SEPERTI LANGIT BERSELIMUT BIANGLALA

romance1

Deru angin bulan Juli
Mengantar surat terakhirmu
dengan lampiran rindu di tepiannya
juga duka di kusam lembarannya
Ada lara lekat disana
juga api asmara yang menyala sia-sia

“Seperti langit berselimut bianglala,
dimana segala warna dan rupa, berpadu menaungi
setiap desir cinta yang berpendar lembut dari hati,” katamu perih

Aku tersenyum getir dan kembali membayangkan
ketika badai itu datang menghempaskan segala impian, kenangan
dan larik bianglala
yang telah kau bayangkan menyelimuti langit
akan membuatmu tersesat menemukan jalan pulang
dan mendapatiku kembali dibalik pekat kabut

“Aku percaya,” tulismu,”bila badai ini usai, pelangi
akan datang kembali menyelimuti langit
tempat semua impian kita bersemayam sepanjang musim
dan kangen itu kita semai diam-diam, sejak dulu”

Seketika kata-katamu menjelma kupu-kupu
terbang mencabik angkasa
menepis sepi yang telah kau guratkan
dengan jemari gemetar dan rintik airmata
diatas lembar suratmu

“Seperti langit berselimut bianglala,” aku menggumam pelan,
“dimana noktah-noktah asa mengapung tanpa daya
dan membiarkan dirinya melayang hingga batas cakrawala
bersama redup cahaya matamu dan debar jantungku
yang kerap mengharap perjumpaan meski sekilas
disela kepahitan dan putus asa
antara ada dan tiada…

Jakarta, 280709

Sumber Gambar

Related Posts
PUISI : SEBARIS BIANGLALA DI SELASAR JIWA
Kelam langit senja telah membawa kita Pada sebuah cerita tentang kenangan yang terdampar di sudut hati tentang cinta yang mengapung rendah antara harapan dan kenyataan serta  sebait kidung lirih bersenandung dengan syair rindu ...
Posting Terkait
UNTUK SEPOTONG SENJA DI AKHIR TAHUN
Dalam Diam, kau termangu Sepotong senja dibatas cakrawala memaku pandangmu "Di akhir tahun, selalu ada rindu yang luluh disana, sejak dulu" katamu, pilu Terlampau cepat waktu berderak hingga setiap momen tak sempat kau bekukan dalam ...
Posting Terkait
Sajak Sebatang Lisong oleh WS Rendra menghisap sebatang lisong melihat Indonesia Raya mendengar 130 juta rakyat dan di langit dua tiga cukung mengangkang berak di atas kepala mereka matahari terbit fajar tiba dan aku melihat delapan juta kanak - kanak tanpa ...
Posting Terkait
KETIKA PUISI-PUISI “BERPERANG”
Sebuah tantangan "menggairahkan" datang di kolom komentar posting saya di blog "Multiply". Tantangan itu datang dari Kalonica, salah satu blogger wanita dan komentator di blog saya yang menayangkan Puisi "Kita, Katamu". dan mengajak ...
Posting Terkait
PUISI : MENYESAP SENYAP
Selalu, aku rasa, kita akan bercakap dalam senyap Dengan bahasa langit yang hanya kita yang tahu serta menyemai setiap harap yang kerap datang mengendap lalu meresapinya ke hati dengan getir Selalu, aku rasa, kamu tersenyum disana, ...
Posting Terkait
Kaca-kaca bening di Wisma Atria  seperti memantulkan wajahmu perlahan luruh bersama cahaya senja  yang turun dengan enggan Pada kaki Mall Isetan dan Lucky Plaza sementara hiruk pikuk pejalan kaki yang berseliweran  pada pundak Orchard dari dua ...
Posting Terkait
PUISI : KITA TELAH MENOREH MALAM DENGAN ANGAN-ANGAN (Sajak Cinta Untuk Istriku)
Kerapkali kita menyempatkan diri duduk diberanda bercakap tentang hal-hal tak penting dan upaya-upaya menanggulangi kegetiran seraya menatap gelap yang luruh perlahan dipelupuk mata dan kunang-kunang melintas anggun membawa kerlip harapan sementara rindu memantul-mantul gemas ...
Posting Terkait
PUISI : TENTANG CINTA, PADA TIADA
Kesaksian luka itu sudah lama kita kemas dalam senyap hati juga pada mendung langit yang kian ranum menurunkan gerimis kita menyimpan rasa itu rapat-rapat sembari menatap nanar senja turun perlahan di ufuk menghayati setiap jejak merah saga yang ...
Posting Terkait
PUISI : SEMESTINYA, ENGKAULAH SEMESTAKU
Semburat cahaya senja merah jingga menerpa sendu wajahmu ketika jemari lentikmu lemah menuding langit Pada sebuah titik yang engkau namakan "ujung penantian" dan tak pernah bisa kumaknai secara jelas apakah itu akan menjadi akhir ...
Posting Terkait
PUISI : MENGENANG NAMAMU PADA LIRIH DESAU ANGIN
  Dalam banyak kisah, kita selalu percaya bahagia selalu ada di penghujung hilirnya sementara duka dan tangis hanyalah ornamen pelengkap yang kerap melekat ringkih di sepanjang perjalanan lalu akan luruh satu-satu meninggalkan jejak kelam dibelakang Saat ...
Posting Terkait
PUISI : SEBARIS BIANGLALA DI SELASAR JIWA
UNTUK SEPOTONG SENJA DI AKHIR TAHUN
MENGENANG WS RENDRA : SAJAK SEBATANG LISONG
KETIKA PUISI-PUISI “BERPERANG”
PUISI : MENYESAP SENYAP
PUISI : TERMANGU DI PUNDAK ORCHARD
PUISI : KITA TELAH MENOREH MALAM DENGAN ANGAN-ANGAN
PUISI : TENTANG CINTA, PADA TIADA
PUISI : SEMESTINYA, ENGKAULAH SEMESTAKU
PUISI : MENGENANG NAMAMU PADA LIRIH DESAU ANGIN

2 comments

  1. bukan main kak..disela sela pelangi tertulis makna yang ambigu, antara ada dan tiada, seperti fatamorgana…keren tulisannya kak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *