BANG RAMELAN, BAPAK BLOGGER KOMPASIANA, MERETAS JALAN MENUJU KURSI GUBERNUR DKI JAKARTA

Saya bersama Pak Pray pada Peluncuran Buku "Japan After Shock", Sabtu (28/1) di Gramedia Matraman
Saya sempat tersentak kaget, saat pertama kali membaca berita tentang tampilnya Pak Prayitno Ramelan yang juga dikenal sebagai Bapak Blogger Kompasiana sebagai salah satu kandidat calon Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017 dari jalur independen. Hal pertama yang terlintas di benak saya adalah: Pak Pray — demikian kerap saya memanggil beliau– melakukan sebuah tindakan nekad. Pilkada Gubernur DKI Jakarta yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat akan menjadi medan “pertarungan” yang hebat antar sejumlah calon pimpinan daerah tertinggi untuk ibukota negara ini.

Segala daya dan upaya akan dikerahkan demi merebut kursi Gubernur DKI Jakarta. Sebuah “kursi panas” karena bagi yang terpilih bakal menghadapi problematika kota besar yang amat kompleks dan sebagian besar diantaranya memerlukan solusi yang cepat dan efektif.  Dilain pihak “keberanian” Pak Pray yang mencalonkan diri bersama tokoh Islam Ir. H. Teddy Suratmadji, M.Sc. sebagai wakil Gubernur, tanpa dukungan politis partai alias lewat jalur independen merupakan sebuah tantangan besar dan membutuhkan kerja keras untuk memperoleh dukungan masyarakat yang lebih luas. Sesuatu hal yang sungguh tak mudah.

Belum lama saya mengenal sosok Pak Pray yang dalam event Pilkada kali ini mengusung julukan baru “Bang Ramelan”. Tahun 2008, adalah tahun dimana saya mulai pertama kali mengenal sosok Purnawiran TNI-AU berbintang dua yang tegas dan rendah hati ini. Saya justru mengenal “Bang Ramelan” sebagai sosok penulis handal dan menjadi penggagas awal dibukanya kanal Kompasiana untuk publik (sebelumnya hanya terbatas pada jurnalis Kompas saja).

“Gebrakan” anak kelima dari budayawan Betawi Ran Ramelan dan Pariah itu yang kemudian membuat namanya terangkat dengan julukan sebagai Bapak Blogger Kompasiana.yang kemudian dinobatkan secara resmi pada peringatan Ulang Tahun Pertama Kompasiana.  Tulisan-tulisan Bang Ramelan yang lugas, bernas dan penuh inspirasi ini menunjukkan kemampuan, ketajaman dan kepiawaian beliau dalam menganalisa sesuatu. Di Kompasiana, hampir setiap komentar ke posting blognya dibalas bahkan hingga membentuk diskusi panjang. Dan disitulah saya sangat menikmati interaksi virtual dengan sosok perwira tinggi militer negeri ini yang begitu membumi, humoris dan tegas dalam bersikap.

Saat peluncuran buku Pak Chappy Hakim, bulan November 2008, saya pertama kali berjumpa secara fisik dengan Bang Ramelan. Sama halnya saat berbincang secara virtual lewat blog, kehangatan dan keramahan beliau begitu nampak dalam gestur tubuh maupun perbincangan kami. Bang Ramelan juga lincah melontarkan humor segar di sela-sela perbincangan dan mengundang gelak tawa pendengarnya. Tak hanya itu, pada kesempatan tersebut pula Bang Ramelan memamerkan kehebatannya dalam bernyanyi. Suara serak-serak basah beliau saat menyanyikan lagu “What A Wonderful World”-nya  Louis Amstrong begitu indah dan impresif. Sejak saat itu, kami kian akrab dan meski tidak sempat bertemu lagi secara fisik, komunikasi tetap jalan via SMS, telepon bahkan lewat Blacberry Messenger Group.

Saya akhirnya bisa mewawancarai Bang Ramelan secara pribadi (baca disini) dan mendapatkan berbagai pandangan, visi dan sikap beliau mulai dari filosofinya memaknai hidup hingga komitmennya untuk tetap menulis sebagai bagian dari ibadahnya. Darah penulis sang ayah Ran Ramelan tampaknya menurun pada sang anak.

Alm.Ran Ramelan (wafat tahun 1989) dikenal sebagai wartawan 3 zaman dan pada tanggal 9 Februari 1985 pernah mendapat penghargaan dari pemerintah melalui Departemen Penerangan karena masih aktif menulis untuk harian “Berita Buana” di usianya yang sudah diatas 70 tahun.

Sebagai sosok budayawan Betawi, alm.Ran Ramelan dikenal pula sebagai pemrakarsa Lembaga Kebudayaan Betawi serta pernah menjadi penulis sejumlah kisah khas Betawi seperti “Macan Kemayoran”, “Lagoa Jago Tanjung”, “Singa Betina dari Marunda”, dan lain-lain. Kemampuan sang ayah ini kemudian diteruskan Bang Ramelan melalui kiprahnya sebagai Blogger. Belakangan, Bang Ramelan kerap kali diundang di berbagai media elektronik sebagai narasumber masalah-masalah terorisme dan intelijen ditengah-tengah kegiatan beliau yang lain sebagai anggota kelompok ahli di BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).

Saya trenyuh membaca latar belakang kehidupan Bang Ramelan yang dituturkan begitu menyentuh oleh sang keponakan yang juga seorang blogger, mas Junanto Herdiawan. Dalam artikelnya, mas Junanto menulis:

Dari berbagai hubungan keluarga itu, saya melihat pembawaan pak Pray yang disiplin, keras, namun di sisi lain juga santai. Bagi saya, Pak Pray adalah seorang militer yang berhati sipil. Ia memiliki displin dan ketegasan seorang militer, namun kerap berpikir dan bertindak layaknya seorang sipil. Di sisi lain, sifat humorisnya juga tinggi. Setiap bertemu pak Pray, pasti banyak lelucon atau joke-joke yang ia lontarkan. Jadi, ia jauh dari kesan seram seorang jendral militer.

Di keluarga Ramelan, kepemimpinan Pak Pray juga sangat terasa. Banyak keputusan keluarga belum berjalan kalau ia belum memberikan suaranya. Hampir banyak keputusan besar di keluarga kami, juga dilakukan oleh Pak Pray. Namun bukan berarti Pak Pray adalah seorang yang otoriter, karena ia juga mendengarkan masukan dari seluruh anggota keluarga, termasuk keponakannya yang masih kecil. Sikap demokratis ini, diikuti sikap keras dan decisive, menjadi ciri Pak Pray di keluarga.

Soal keras dan disiplin, saya teringat waktu SMA dulu, pernah pergi keluar malam dengan anak sulung pak Pray yang usianya hampir sama dengan saya. Namanya Didit. Saat itu, kita berdua pergi ke pesta ulang tahun teman dan pergi bergadang sampai pagi. Padahal janjinya pulang jam 10 malam. Tentu saja kita tidak memberi kabar ke rumah, karena saat itu belum ada handphone, dan telpon umum masih sulit ditemukan. Maklum namanya anak SMA, jadi pikirannya tidak jauh dari main saja.

Sampai di rumah keesokan harinya, kita berdua kena tegur oleh Pak Pray. Kita diceramahi berjam-jam tentang pentingnya disiplin, kejujuran, dan arti keluarga dalam kehidupan. Ia mengingatkan bagaimana ibu dan nenek kita khawatir karena kita tak pulang semalaman. Pesan tersebut saya selalu pegang hingga sekarang. Dalam bekerja, saya selalu mengingat pentingnya disiplin, kejujuran, dan doa Ibu.

Pak Pray sangat menekankan pentingnya Doa Ibu. Menurutnya, itu adalah kunci utama keberhasilan seseorang. Tak heran bila Pak Pray begitu cinta dengan Ibunya, nenek Ramelan. Saat ia sudah berpangkat Jendral dan dihormati anak buahnya, Pak Pray masih secara rutin menyempatkan diri mengunjungi dan memohon doa pada Ibunya di setiap kesempatan. Ia kerap berkomentar, “Ridho Allah itu adalah Ridho Ibu”

Bang Ramelan bersama ibunda tercinta (sumber blog Junanto Herdiawan)

Saya melihat sosok Gubernur DKI Jakarta yang ideal berada pada diri Bang Ramelan. Tidak hanya sekedar pada tubuhnya mengalir darah Betawi asli, namun kecerdasan, ketegasan serta kepiawaian Bang Ramelan mulai dalam hal memprediksi sesuatu dan menganalisa fenomena untuk kemudian menuliskannya dalam sajian tulisan yang tajam serta inspiratif seperti selama ini dilakoninya sebagai pengamat intelijen, menjadi bekal yang sangat berharga bagi beliau dalam “bertarung” dalam Pilkada DKI Jakarta bulan Juni 2012 nanti. Saya meyakini, pendekatan aplikatif yang akan beliau implementasikan sebagai pimpinan tertinggi di DKI Jakarta benar-benar telah melalui analisis komprehensif yang terukur dan efektif.  “Jakarta sebagai sebuah kota yang tak memiliki belas kasihan dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, kami akan mencoba membenahi segala permasalahan yang dihadapi Jakarta,” kata Bang Ramelan seperti yang saya kutip dari tautan ini.

Kepekaan beliau dalam membaca situasi akan sangat membantu setiap keputusan yang diambil. Satu hal yang menjadi keunggulan Bang Ramelan adalah, sebagai blogger, kemampuannya membangun komunikasi virtual yang hangat dengan pembaca lewat tulisan-tulisannya. “Kedekatan emosional” akan tercipta sehingga dialog-dialog soal pembangunan termasuk wacana-wacana konstruktif terkait mencari upaya solusi menanggulangi persoalan rumit ibukota dapat dibahas secara terbuka dan demokratis. Bang Ramelan juga “gaul” dengan kemampuannya melek internet dan tahu menggunakan piranti-piranti media sosial (Facebook, Twitter) untuk berinteraksi, langsung dan tanpa harus melalui prosedur protokoler yang rumit. Ini sebuah modal berharga bagi beliau untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta di era cybermedia.

Perjuangan Bang Ramelan masih panjang dan sekali lagi, tidak mudah. Sebagai Calon Gubernur yang tidak didukung oleh Partai Politik, maka Bang Ramelan bersama pasangannya Kang Teddy mesti bekerja keras menggalang dukungan. Mereka mesti mengumpulkan 407.000 + Fotocopy KTP dari masyarakat Jakarta (atau 4% dari total penduduk) sebagai syarat untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta melalui jalur independen. Mari kita bantu perjuangan Bang Ramelan dan Kang Teddy dengan download formulirnya disini serta melihat prosedur pengirimannya lewat situs resminya disini. 

 

Mari kita dukung bersama calon Gubernur & Wakil Gubernur DKI Jakarta, Bang Ramelan dan Kang Teddy ! 

Related Posts
MENULIS, BLOGGING DAN PERGAULAN VIRTUAL
“Writing is an exploration. You start from nothing and learn as you go.” E. L. Doctorow quotes (American Author and Editor, b.1931) Taken from : www.thinkexist.com/quotation   MENULIS sudah menjadi bagian dari hidup ...
Posting Terkait
BUNAKEN, ANDALAN MANADO
nilah sebuah tempat wisata memukau di utara Sulawesi. Ketika menyebut nama Taman Nasional Bunaken maka akan identik dengan lokasi menyelam paling menawan sedunia. Di sana surga bawah laut terletak, di ...
Posting Terkait
KOPDAR KOMPASIANA BERHADIAH KOMPAS PHONE
Dikutip dari sini Kopi darat kecil-kecilan yang lebih tepat disebut silaturahmi rencananya digelar pada Hari Minggu, 14 Juni 2009, mulai pukul 14.00 WIB, di acara Indonesian Celluar Show (ICS) di JHCC, ...
Posting Terkait
EV HIVE, CO-WORKING SPACE DAN IKHTIAR MENGEMBANGKAN EKOSISTEM BISNIS INDONESIA DI ERA TEKNOLOGI DIGITAL
eusai mengikuti meeting bersama kolega di kawasan Blok M, Senin siang (21/8), saya menyempatkan waktu berkunjung ke lokasi Co-Working space EV Hive di lantai dua Gedung "The Maja" yang berlokasi ...
Posting Terkait
CATATAN DARI MAKASSAR : BLOGSHOP YANG RAMAI DAN HEBOH
Kamis (27/8) pagi, suasana ruang Digital Library gedung Perpustakaan Unhas Makassar Lantai 3 terlihat ramai. Hari ini adalah pelaksanaan Blogshop Pesta Blogger 2009 yang merupakan rangkaian Roadshow 10 Kota ...
Posting Terkait
Hari ini, Senin 25 Januari 2010, wajah saya yang imut, montok, menggemaskan dan bersahaja itu nongol di iklan Kompasiana di Harian Kompas. Ini adalah kali pertama saya bergaya -- dengan ...
Posting Terkait
Perjalanan lahirnya buku “Sop Konro untuk Jiwa” ini berawal dari keinginan anggota komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri (www.angingmammiri.org) untuk mempersembahkan tulisan-tulisan inspiratif pembangun dan penyemangat yang mampu mencerahkan jiwa guna ...
Posting Terkait
KOPDAR II KOMPASIANA : KEHANGATAN SEBUAH “RUMAH SEHAT”
Edi Taslim (General Manager Kompas Cybermedia) didampingi Pepih Nugraha memberikan penjelasan soal Kompas Phone dan QR Code Kompas dalam kesempatan Kopdar kedua Kompasiana bertempat di JHCC, Minggu,14 Juni 2009 Hari Minggu ...
Posting Terkait
“MIND EYE” DAN KESIGAPAN MENGANTISIPASI KEMUNGKINAN
  “Your Mind’s Eye is your “mental television”, the personal channel you can tune in to see what could happen if the unexpected occurs. When you use your Mind’s Eye, you ...
Posting Terkait
BANK MANDIRI : MERENTANG HARAPAN, MENISCAYAKAN IMPIAN
da begitu banyak ekspektasi yang berkembang di benak saya dan istri seusai menikah di tahun 1999. Salah satunya yang begitu dominan adalah keinginan memiliki rumah sendiri, dan tak perlu lagi ...
Posting Terkait
MENULIS, BLOGGING DAN PERGAULAN VIRTUAL
BUNAKEN, ANDALAN MANADO
KOPDAR KOMPASIANA BERHADIAH KOMPAS PHONE
EV HIVE, CO-WORKING SPACE DAN IKHTIAR MENGEMBANGKAN EKOSISTEM
CATATAN DARI MAKASSAR : BLOGSHOP YANG RAMAI DAN
TAMPIL SEBAGAI MODEL IKLAN KOMPASIANA
“SOP KONRO BAGI JIWA”, BUKU KEDUA KOMUNITAS BLOGGER
KOPDAR II KOMPASIANA : KEHANGATAN SEBUAH “RUMAH SEHAT”
“MIND EYE” DAN KESIGAPAN MENGANTISIPASI KEMUNGKINAN
BANK MANDIRI : MERENTANG HARAPAN, MENISCAYAKAN IMPIAN

4 comments

  1. dari artikelnya saya bisa melihat sisi keteladanan dari bang ramelan. Sukses buat bang ramelan. Sebagai blogger saya turut senang menyalonkan diri menjadi gubernur Jakarta!

  2. Semalam saya bermimpi didatangi pak Pray. Dalam mimpi itu pak pray datang ke rumah saya ngobrol-ngobrol dengangaya khasnya. Semoga pak pray terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta

    salam
    Omjay

  3. Secara pribadi saya merasa senang ada seorang blogger yang mencalonkan dirinya dair jalur independen. Semoga juga dalam hal ini para netter lain bukan hanya melihat profesinya sebagai seorang netter, namun juga dapat menganalisa secara baik untuk kepentingan bersama kemajuan kota Jakarta.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

Leave a Reply to saidialhady Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 2 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.