PUISI : SEMESTINYA, ENGKAULAH SEMESTAKU
Semburat cahaya senja merah jingga menerpa sendu wajahmu
ketika jemari lentikmu lemah menuding langit
Pada sebuah titik yang engkau namakan “ujung penantian”
dan tak pernah bisa kumaknai secara jelas
apakah itu akan menjadi akhir perjalanan atau justru awal bahagiamu
Disanalah, lanskap kesunyian dan getar kecemasan berpadu bersama kelam malam
ketika langkahmu terpacak jelas pada lembut pasir di pantai Kuta
kau menandainya sebagai kenangan yang kelak akan terhapus oleh deru ombak
dan saat bulan purnama dengan rona pucat di angkasa kau tatap nanar
laksana selaksa perih yang tersimpan lama dalam dada luruh satu-satu bersama kilau sinarnya
“Semestinya, kaulah semestaku,” ucapmu lirih, pada desau angin
Kita telah lama berbincang tentang pilihan-pilihan
juga tentang kemungkinan-kemungkinan yang musykil
Dan sesungguhnya bersama rentetan musim yang telah kita lalui
Segalanya kelak akan menjadi bagian masa lalu tepat ketika kuucapkan salam perpisahan
“Semestinya, kaulah semestaku,” katamu gusar, pada debu yang menderu
Dan aku tetap akan pergi, meninggalkanmu
sembari membawa keping-keping kerinduan tentangmu
yang telah kupunguti satu-satu dengan hati pilu,
pada sudut cafe di Legian, alunan ombak di Sanur dan
gerimis yang menetes di Gianyar
karena sebenarnya,
engkaulah semestaku juga,
semestinya ….
Kuta, 26 Februari 2012
.
Diksi yang indah mas amril… dan senjanya, luar biasa cantik 🙂
wahhh puisi yang sangat indah dan bagus……
boleh dong mampir ke website kami juga di http://unsri.ac.id/ untuk sebagai refrensi berbagi informasi yang lebih luas dan lainnya…
catatannya bagus mas, inspriratif.