SPIRIT KEPAHLAWANAN ALM.THAYEB MOHAMMAD GOBEL

Saat berkunjung ke Gorontalo bulan lalu, saya menyempatkan diri untuk berziarah ke makam keluarga Gobel (Hubulo) di Kabupaten Tapa Gorontalo. Di kompleks Makam keluarga yang terletak diatas bukit dengan pepohonan rindang disekelilingnya, saya mengirimkan do’a kepada alm.Pak Thayeb Mohammad Gobel yang makamnya terletak tak jauh dari gerbang masuk. Saya masih berumur 14 tahun saat beliau wafat (21 Juli 1984) dan sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya. Meskipun begitu, saya seakan sudah mengenal dekat dengan pendiri PT National Gobel tersebut dari cerita ayah sejak kecil saat kami masih di Bone-Bone, Kabupaten Luwu hingga pindah ke Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Ayah senantiasa menceritakan kepada saya mengenai figur dan inovasi pelopor industri elektronika Indonesia tersebut dengan mata berbinar. Penuh semangat. “Om Ebu” ,begitu selalu ayah memanggil beliau “dapat menjadi teladan kalian dan kita semua dalam meniti kehidupan yang memberikan begitu banyak manfaat dan kemaslahatan bagi masyarakat serta selalu konsisten pada sikap dan pendiriannya”. Hubungan kekerabatan kami sesungguhnya cukup dekat, kakek saya (Sun Gobel) adalah paman dari “Om Ebu”. Seperti dituliskan dalam buku biografi beliau yang ditulis oleh Ramadhan KH :  “Gobel : Pelopor Industri Elektronika Indonesia Dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang” (Pustaka Sinar Harapan,1994) disebutkan bahwa Bapu (kakek dalam Bahasa Gorontalo) Sun Gobel pernah membantu “Om Ebu” saat masuk SMPN (Sekolah Menengah Pertama Negeri) di Gorontalo.

Saya kian banyak tahu mengenai sepak terjang almarhum “Om Ebu” dalam membangun industry elektronika pertama kali di Indonesia lewat buku “Gobel” yang ditulis oleh penulis terkemuka alm.Ramadhan KH. Sejak kecil, pria kelahiran 12 September 1930 ini ditempa oleh kehidupan yang keras dan serba sulit. Namun beliau tak menyerah, romantika menjadi gembala kambing bersama sang adik Dhani, mencari kayu bakar untuk menanak nasi atau memasak didapur dilakoninya dengan tabah terutama saat dititipkan oleh ayah ibunya kepada Matji (Maria Moha), saudara sang ibu.

Saat melewati masa remaja di Makassar. “Om Ebu” sempat menjadi buruh pelabuhan disana sembari disaat yang sama menyelesaikan studi di SMA Perguruan Sawerigading (1947). Yang menarik adalah ketika ia memimpin teman-temannya para buruh untuk memperjuangkan nasib mereka yang memiliki upah rendah. Seperti dituturkan dalam buku “Gobel” : “Om Ebu” mengetik dengan rapi petisi dan tuntutan kenaikan upah kepada  penguasa pelabuhan yang waktu itu masih dijabat oleh orang-orang Belanda.

Di Suatu pagi yang mendung ketika 2 kapal merapat di Pelabuhan Makassar,para buruh sepakat mogok untuk membawa muatan kapal berupa terigu ke gudang. Dikawal dengan para mandor pelabuhan “Om Ebu” dengan mantap maju membawa petisi dan menyerahkannya kepada penguasa pelabuhan kemudian menjelaskan secara tegas dan santun alasan pengajuan petisi tersebut.Pada awalnya beliau mendapatkan penolakan yang kasar, namun dengan tenang “Om Ebu” menjelaskan bahwa jika tuntutan tak dipenuhi maka para buruh tetap menolak mengangkut karung-karung terigu ke gudang pelabuhan. Ujung-ujungnya, muatan karung terigu menumpuk dan berpotensi rusak karena hujan akan segera turun. Para penguasa pelabuhan panik dan kemudian berunding bersama. Akhirnya disepakati, mereka memenuhi segala tuntutan atas petisi yang diajukan “Om Ebu” dan kawan-kawan. Beliau mengajukan konsep pernyataan persetujuan yang sudah disiapkan sebelumnya kepada penguasa pelabuhan. Segera setelah pernyataan tersebut ditandatangani, sorak sorai membahana.

“Om Ebu” pun dieluk-elukan oleh kawan-kawan buruh sebagai pahlawan mereka. Muatan karung terigu kemudian mereka angkut kedalam gudang sebelum hujan mengguyur dengan deras. Ketika hujan reda, “Om Ebu” diusung dan digendong kemudian diarak ramai-ramai oleh buruh yang meluapkan kegembiraan atas terpenuhinya tuntutan mereka. Iring-iringan ini sempat mendapat perhatian dari sekeliling.

Apa yang sudah dilakukan “Om Ebu” menunjukkan beliau sudah memiliki figur pemimpin kharismatik dan jiwa patriotik dalam membela kebenaran dan keadilan. Dan ini dibuktikan kemudian pada kiprah selanjutnya merintis keberadaan industri elektronika di Indonesia. Beliau mendirikan PT Transistor Radio Mfg Co yang menjadi cikal bakal lahirnya PT National Gobel. Perusahaan ini dikenal sebagai produsen radio merek Tjawang yang begitu fenomenal..

“Om Ebu” melihat peluang besar mengembangkan industri radio transistor di Indonesia yang dikala usia Republik Indonesia masih berusia 9 tahun, sangat dibutuhkan sarana informasi yang praktis serta handal kepada masyarakat secara luas hingga ke pelosok dan menjadi alat pemersatu bangsa. Dengan cermat beliau melihat potensi pasar untuk mengembangkan perusahaan sembari disaat yang sama memegang teguh semangat idealism dan nasionalismenya menggalang persatuan lewat informasi yang diberitakan lewat Radio “Tjawang” yang diproduksinya.

Kelihaian “Om Ebu” dalam mengendalikan jaringan bisnisnya kian teruji saat meneken perjanjian kerjasama teknik bersama Matsushita Electronic yang mengusung merek “National” dan “Panasonic”.Jepang, yang ketika itu berkembang pesat sebagai raksasa industri elektronika dunia. Seperti dikutip dari tautan ini:

Dalam rangka penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta tahun 1962, bekerja sama dengan LEPPIN, PT Transistor Radio Mfg. Co. merakit televisi “National” yang pertama untuk memenuhi kebutuhan Pemerintah. Satu lagi teknologi modern dikuasai proses pembuatannya oleh bangsa Indonesia. Usaha makin membesar. Pabrik Cawang terus-menerus dibesarkan. Sebuah pabrik lain di Gandaria, Jakarta Timur, didirikan untuk menampung limpahan produksi. Pada tahun 1967 PT Transistor Radio Mfg. Co., sempat berubah nama menjadi Gobel & Cawang Concern. Nama yang tidak bertahan lama, karena kemudian berubah menjadi PT National Gobel pada 1970 ketika Drs. Th. M. Gobel menandatangani perjanjian patungan dengan Matsushita Electric. Langkah Gobel memang selalu penuh perhitungan.

Lima tahun, antara 1955-1960, ia berhubungan dengan Matsushita tanpa ikatan jangka panjang. Baru pada 1960 ia menyetujui perjanjian bantuan teknik. Sepuluh tahun kemudian, setelah masa “berpacaran” selama 15 tahun, barulah keduanya mengikat tali “pernikahan” dengan penempatan modal yang sekarang telah menjadi sebesar US$ 15 juta. Hajime Kinoshita, Presiden Direktur PT National Gobel, mengatakan bahwa ketika perjanjian patungan itu dilakukan, Matsushita Electric tidak lagi melihat untung ruginya mengikat perjanjian. “Kami lebih melihat keinginan Pak Gobel dalam menyumbangkan usahanya untuk pembangunan Indonesia. Ia ingin berbakti kepada negara melalui industri elektronika,” kata Kinoshita. Perjanjian patungan dengan Gobel itu, menurut Kinoshita, adalah suatu bentuk yang unik dan tak pernah dilakukan sebelumnya. Salah satu unsur baku dalam perjanjian itu adalah proses alih teknologi. “Dan perjanjian seperti itu tak pernah dilakukan Matsushita di 30 negara lainnya,” tambah Kinoshita. Ia juga menduga bahwa hal ini pulalah yang membuat Kaisar Jepang menganugerahi Mohammad Gobel dengan Bintang Pusaka Suci karena usaha patungan yang saling menguntungkan antara Indonesia-Jepang. Alih teknologi merupakan target yang harus dicapai dalam waktu tertentu. Matsuhita tidak sembarangan mengirim orang ke Indonesia. Orang itu harus benar-benar ahli di bidangnya dan menguasai bahasa serta kebudayaan Indonesia agar alih teknologi berjalan mulus.

Falsafah “Pohon Pisang” yang menjadi pegangan beliau dalam berusaha menjadi inspirasi berharga buat semua orang. Menjelang usia ke 10 PT National Gobel “Om Ebu” merumuskan falsafah tersebut dengan makna pohon pisang dimana menjadi simbol yang paling tepat untuk menggambarkan peran dari sebuah perusahaan di tengah masyarakat. Tidak ada bagian dari pohon pisang yang tidak dapat digunakan; buahnya dapat dimakan, sementara daun dan bagian lainnya dapat dipakai untuk berbagai keperluan sehari-hari. Sifat dari pohon pisang yang dapat tumbuh dimana saja menjadikannya selalu tersedia dimanapun, dan regenerasinya pun sangat mudah. Hal inilah yang menurut beliau merupakan refleksi terbaik dari sebuah perusahaan, dimana layaknya pohon pisang sebuah perusahaan hendaknya dapat sangat berguna bagi masyarakat. Falsafah ini selaras dengan sang mitra yang mengusung filosofi sang pendiri Konosuke Matsushita yaitu “Air Mengalir”.

Air merupakan hal yang sangat krusial untuk kelangsungan hidup manusia. Seperti halnya air yang mengalir, produk elektronik pun seharusnya mudah tersedia dengan harga yang terjangkau untuk kebutuhan masyarakat banyak. Sinergi dari kedua filosofi inilah yang membentuk produk-produk Panasonic yang berkualitas hingga saat ini. Layaknya air ia mengisi kebutuhan dari tempat terendah hingga atas, dan layaknya pohon pisang ia sangat berguna bagi masyarakat.

Komitmen “Om Ebu” dalam membangun manusia Indonesia yang produktif dan berkarakter ditegaskannya dengan mengirim karyawannya ke Osaka Training Centre guna meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya. Atas kerja sama dengan Matsushita pula Gobel mendirikan Yayasan Pendidikan Mas-Gobel untuk mendidik dan melatih pekerja terampil di bidang industri elektronika, baik pemasaran, produksi maupun manajemennya. Pusat pendidikan ini tak hanya untuk karyawan dan calon karyawan PT National Gobel, tetapi juga untuk perusahaan lain yang memerlukan.

Bagi saya, terlepas dari hubungan kekeluargaan dengan beliau, bagaimanapun sosok “Om Ebu” merupakan inspirasi bagi bangsa ini, bagi kita semua. Kepahlawanan beliau dalam merintis kemudian mengembangkan industri elektronika tanah air layak diapresiasi karena merupakan wujud semangat nasionalismenya untuk memberikan sumbangsih berharga terutama penyebarluasan informasi dari negara yang baru berdiri kepada masyarakat luas melalui produk elektronika yang praktis dan memiliki harga terjangkau. Keterbatasan jangkauan informasi dalam sosialisasi program-program yang dicanangkan pemimpin bangsa dapat sampai dengan mudah hingga ke pelosok negeri. Selain itu keberadaan PT National Gobel ketika itu sangat strategis karena mengantar industri bangsa ini dari sekedar “merakit” menuju “Full Manufacturing” dengan bersinergi bersama industri-industri kecil penunjang lainnya.

“Djauh dari Pusat, Tanpa Listrik, Tapi Anda Tak Ketinggalan dari Penerangan, Pendidikan, dan Pengetahuan.”, demikian slogan iklan produk yang disampaikan”Om Ebu” dimana mengandung spirit pembangunan karakter kebangsaan yang kental tidak cuma sekedar meraih keuntungan dari hasil penjualan produk. Sosok “Om Ebu” sebagai pemimpin perusahaan yang kharismatik dan dicintai oleh ribuan karyawannya serta pemimpin keluarga yang berwibawa, bersahaja, taat beribadah,ramah, rendah hati dan bersemangat adalah teladan buat kita semua. Saya pernah menuliskan disini tentang seorang mantan karyawan National Gobel yang sudah purna bhakti memberikan testimoni tentang kebaikan “Om Ebu” yang begitu perhatian pada karyawannya.

Tak salah jika ayah saya berharap beliau menjadi inspirasi buat saya dan adik-adik dalam mengarungi kehidupan. Dan di pusaranya, bersama sejuk pepohonan di kompleks Makam Keluarga Gobel (Hubulo), saya mendoakan arwah almarhum “Om Ebu” semoga mendapatkan tempat terbaik disisi Allah SWT. Kini, kita semua menikmati hasil perjuangan beliau merintis industri elektronika di Indonesia dengan falsafah “Pohon Pisang” yang sederhana namun memiliki makna mendalam.

Catatan:

Tulisan ini saya ikutkan dalam Lomba Blog Kompasianival

Related Posts
MUDIK LEBARAN KE YOGYA (1) : DARI MUSEUM BENTENG VREDEBURG HINGGA KE KOMPLEKS MAKAM RAJA IMOGIRI
esawat Citilink QG 102 yang kami tumpangi mendarat mulus di bandara Adisucipto Yogyakarta pukul 20.50 malam, hari Minggu (27/7). Meski telat sekitar 15 menit karena menanti giliran mendarat, disebabkan meningkatnya ...
Posting Terkait
PENGALAMAN MENCONTRENG : DARI BRONDONG KADALUARSA SAMPAI DPT “COPY PASTE”
Tepat pukul 10.00 pagi pada Hari Kamis(9/4), kami sekeluarga berangkat ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) 23 yang berlokasi di Sekretariat RW 10 Jl.Tarum Barat Raya Perumahan Cikarang Baru (kira-kira ...
Posting Terkait
RINDU LAGU LUGU DARI MASA KECIL DULU
Tante Gode' Naik di Becak Becak ta' putar Tante Gode' ta' lempar.. Lagu diatas saya nyanyikan dengan riang bersama kawan-kawan satu SD saya di Kota Maros, sebuah ibukota kabupaten yang berjarak kurang lebih 30 ...
Posting Terkait
NASI GORENG KEKAR MEMBAHANA TAMPIL DALAM LOMBA MASAK KOKITA
inggu pagi (30/6) yang cerah tadi, saya menemani istri untuk mengikuti lomba masak nasi goreng yang dilaksanakan oleh Kokita di Pasar Bersih Cikarang. Awalnya, saya sama sekali tidak ada rencana ...
Posting Terkait
KOTA DELTAMAS : MENUAI KETEDUHAN ALAMI DALAM GEMURUH KOTA TERPADU BERBASIS INDUSTRI
abupaten Bekasi, khususnya wilayah Cikarang, terus tumbuh menjadi kawasan hunian, industri dan komersial yang terintegrasi. Sejak 16 tahun tinggal disini, saya merasakan secara langsung berbagai perubahan yang terjadi dan menunjukkan ...
Posting Terkait
CHAU, THANKS!
Namanya Andi Ahmad Makkasau. Dia kawan masa kecil sekaligus kawan "masa besar" saya. Kami sama-sama pernah satu kelas di kelas 6 SD Negeri 1 Kabupaten Maros, Sulawesi-Selatan. Saya memanggilnya dengan nama ...
Posting Terkait
1. Wordcamp Indonesia ketiga siap digelar tahun depan di Bandung Kota Bandung akan menjadi tuan rumah pelaksanaan Wordcamp Indonesia ketiga yang akan dilaksanakan pada tanggal 29-30 Januari 2011 di Bumi Khayangan ...
Posting Terkait
SELAMAT DATANG RAMADHAN 1432 H
Ramadhan 1432 H telah tiba. Hari pertama puasa jatuh tepat pada tanggal 1 Agustus 2011. Umat Islam seluruh dunia, termasuk Indonesia menyambut dengan suka cita. Termasuk keluarga kami. Yang paling ...
Posting Terkait
SETELAH 10 TAHUN BERLALU …
ampaknya, inilah jawaban atas doa-doa itu. Doa kedua anak saya, Rizky dan Alya, seusai sholat yang senantiasa mendoakan sang ayahanda tercinta selamat dalam perjalanan kembali ke rumah dan segera mendapatkan pekerjaan ...
Posting Terkait
YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (41)
1. Buku Gratis ? Beli Dunks! Sebuah tulisan menarik dari mbak Risa Amrikasari (penulis buku Especially for You) yang menggugah apresiasi para calon pembaca buku untuk lebih menghargai kerja keras penulis ...
Posting Terkait
KISAH MUDIK 2010 (2) : TERHALANG BANJIR DAN DERITA MACET SEPANJANG MALAM
Dari Garut, kendaraan kami melaju kencang menyusuri pebukitan yang teduh namun minim penerangan lampu jalan. Pak Heru mengendarai kendaraannya dengan hati-hati. Dibelakang, Alya terbatuk-batuk tak bisa tidur. Rupanya radang tenggorokannya ...
Posting Terkait
CATATAN KECIL PERINGATAN 9 TAHUN USIA PERNIKAHAN
"Jika kamu sudah yakin, jalanilah. Segera lamar calon pendamping hidupmu itu di Yogya. Jangan kamu tunda-tunda lagi. Insya Allah, kami, orangtuamu akan merestui keinginanmu, nak. Tetapkan niat, jangan ragu-ragu. Soal ...
Posting Terkait
ROMANTIKA MUDIK KE MAKASSAR (1) : SETELAH 4 TAHUN, MELAMPIASKAN RINDU
Rizky dan Alya terlihat masih mengantuk saat sahur di bandara Soekarno Hatta, Selasa (6/8) sebelum bertolak ke Makassar dengan pesawat Garuda Indonesia GA 654 jam 05.00 pagi Pesawat Garuda GA 654 ...
Posting Terkait
ICE AGE, WAHANA BARU DUFAN ANCOL & SENSASI YANG MENYERTAINYA
ari Kamis, 10 April 2014 yang kebetulan juga bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Perkawinan saya ke-15, saya menghadiri undangan peresmian wahana baru"Ice Age" di Dunia Fantasy Ancol. Bersama sejumlah rekan ...
Posting Terkait
RONDA MALAM DAN UPAYA MELAPANGKAN JIWA
Sabtu Malam (5/4) lalu merupakan waktu giliran saya untuk ronda malam di Rukun Tetangga (RT 02/RW 02) tempat saya dan keluarga bermukim (Jalan Antilop 5 H3/110 Perumahan Cikarang Baru, Kota ...
Posting Terkait
MAAFKANLAH, DAN HIDUP AKAN TERASA JAUH LEBIH INDAH
"Rela Memaafkan Adalah Jalan Terpendek Menuju Tuhan"(Gerard G.Jampolsky dalam bukunya "Forgiveness, The Greatest Healer of All") Saya mengelus pipi dengan rasa geram luar biasa. Bahkan oleh ayah sendiri sekalipun, saya tidak ...
Posting Terkait
MUDIK LEBARAN KE YOGYA (1) : DARI MUSEUM
PENGALAMAN MENCONTRENG : DARI BRONDONG KADALUARSA SAMPAI DPT
RINDU LAGU LUGU DARI MASA KECIL DULU
NASI GORENG KEKAR MEMBAHANA TAMPIL DALAM LOMBA MASAK
KOTA DELTAMAS : MENUAI KETEDUHAN ALAMI DALAM GEMURUH
CHAU, THANKS!
YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (38)
SELAMAT DATANG RAMADHAN 1432 H
SETELAH 10 TAHUN BERLALU …
YANG “MELENGKING” DARI BLOGWALKING (41)
KISAH MUDIK 2010 (2) : TERHALANG BANJIR DAN
CATATAN KECIL PERINGATAN 9 TAHUN USIA PERNIKAHAN
ROMANTIKA MUDIK KE MAKASSAR (1) : SETELAH 4
ICE AGE, WAHANA BARU DUFAN ANCOL & SENSASI
RONDA MALAM DAN UPAYA MELAPANGKAN JIWA
MAAFKANLAH, DAN HIDUP AKAN TERASA JAUH LEBIH INDAH

6 comments

  • sudah 7 tahun saya meninggalkan Ponpes Hubulo yang didirikan atas permintaan Almarhum Pak Thayeb dan selama 6tahun di Hubulo kami belajar banyak tentang ketokohan beliau. Perjuangannnya sungguh luar biasa.

    cerita tentang perjuangannya setiap tahun akan menjadi materi pembuka bagi siswa baru Ponpes Hubulo. terimkasih sudah mengulang kembali cerita itu di sini. Inspiring

  • Walau saya bukan orang Gorontalo,namun pertama kali menginjak tanah Gorontalo untuk mengunjungi keluarga istri,sampai sekarang ada kerinduan yang tidak bisa di ungkapkan.
    untuk Paguyuban 2 Gorontalo di perantuan lebih aktif lagi angkat budaya2 Gtlo.

    Peace Keturuann Sunda Gorontalo ( Izabel Celio KArawang )

  • Rily Gobel (RIGO)

    Pikiran dan tindakan beliau selalu mempertimbangkan masa depan bangsa, beliau yakin “untung” itu pasti jika kita berusaha, tapi “bermanfaat” itu tidak mudah diraih jika pikiran dan tindakan kita tidak tulus dan ikhlas…….terharu dengan cerita om ebu, semoga menjadi inspirasi banyak orang, Alfatehah buat Om Ebu semoga sorga Firdaus untuk Almarhum…..Amiiinnn

  • Rily Gobel (RIGO)

    Pikiran dan tindakan beliau selalu mempertimbangkan masa depan bangsa, beliau yakin “untung” itu pasti jika kita berusaha, tapi “bermanfaat” itu tidak mudah diraih jika pikiran dan tindakan kita tidak tulus dan ikhlas…….terharu dengan cerita om ebu, semoga menjadi inspirasi banyak orang, Alfatehah buat Om Ebu semoga sorga Firdaus untuk Almarhum…..Amiiinnn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × two =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.