MERANGKAI SEMANGAT KEBANGSAAN DALAM BINGKAI MEDIA SOSIAL

Saya masih terkenang pengalaman itu. Sebuah momen langka dan sederhana 3 tahun silam yang membuat batin saya sontak bergelora dalam gemuruh semangat nasionalisme yang begitu kental.

Keempatbelas pemuda-pemudi nampak berdiri diatas panggung dengan kepala tegak dan sorot mata berbinar, seketika memantik keharuan di batin saya. Dengan baju kaos seragam berwarna sama dan syal merah putih dikalungkan di leher, mereka terlihat begitu gagah dan penuh semangat. Ya, mereka adalah perwakilan 14 komunitas Blogger se Indonesia, pada hari itu, Kamis (28/10/2010) berkumpul bersama di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat dengan lantang menyerukan kembali Sumpah Pemuda.  Dinding-dinding aula museum yang dipenuhi oleh sekitar 200 hadirin tersebut memantulkan suara lantang mereka, bergema jauh, hingga ke relung hati paling dalam.

Yang menarik adalah, kegiatan yang digagas dengan nama “Sumpah Pemuda 2.0” itu secara serentak di-Retweet-kan di seluruh jaringan Media Sosial Twitter. Jadi tatkala para blogger dari 14 komunitas (Makassar, Medan,Padang, Palembang,Jakarta, Bodetabek, Bandung,Semarang, Yogyakarta,Solo, Surabaya,Manado,Kalimantan Selatan dan Ambon) dengan penuh antusias bersama-sama mengucapkan ikrar tersebut yang merepresentasikan semangat kebangsaan dan nasionalisme, maka secara serentak pula, hadirin dan para simpatisan lainnya, me-retweet ulang sumpah itu melalui jalur media sosial twitter mereka.

Saya membayangkan pesan-pesan singkat berisi Sumpah Pemuda itu menyebar serentak di dunia maya, menyentak dan membangkitkan ruang sadar yang membacanya betapa penting dan berharganya mengaktualisasikan kembali makna persatuan bangsa di era globalisasi yang riuh ini.

Pemilihan blogger yang menjadi wakil menyuarakan Sumpah Pemuda 2.0 menurut saya adalah sebuah langkah yang tepat dan strategis. Tentu tanpa mengabaikan peran yang lain, Blogger yang mewartakan informasi lewat ranah “new media” berupa blog atau perangkat social media lainnya mempunyai kekuatan dashyat menggalang solidaritas sosial tanpa dibatasi oleh sekat-sekat primordial. Eksistensinya mewakili suara rakyat biasa, memaparkan banyak hal tentang keresahan, optimisme, ketidaksetujuan, dukungan bahkan cinta dengan menggunakan piranti teknologi informasi dan sudah terkoneksi dengan internet, secara terbuka dan independen.

Prof.Dan Gilmor, penulis buku “We The Media:  Grassroots Journalism by the people,  for the people (2004)” antara lain menyatakan evolusi media di masa depan  akan dicirikan dengan terbentuknya sebuah ekosistem yang menghadirkan dialog multi arah, serta penguatan dialog masyarakat sipil di tingkat lokal,nasional maupun internasional. Dan Blogger memegang peran penting sebagai bagian utama dari ekosistem tersebut dengan membangun dialog yang sehat dan bermartabat lintas komunitas  lewat masing-masing media yang dimiliki.

Selain mewartakan informasi dan mempublikasikan opininya lewat blog,  blogger juga menjalin interaksi kolegial dengan pembaca, lingkungan komunitasnya bahkan lintas komunitas sekalipun. Dialog multi arah yang terjadi dapat saja merupakan sebuah bagian dari inspirasi melaksanakan gerakan aksi nyata untuk menyikapi sebuah isyu tertentu, misalnya. Semangat berbagi yang dicetuskan oleh blogger lewat media yang dimiliki, mempunyaii potensi besar untuk menggerakkan secara spontan, hingga berbenah menuju perubahan yang  lebih baik dari sebelumnya.

Ketika bencana alam melanda Indonesia mulai dari Banjir Bandang Wasior Papua, Meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta  hingga Tsunami kepulauan Mentawai, komunitas blogger dan online indonesia. langsung ikut bergerak cepat untuk menggalang dana bantuan atau barang untuk disumbangkan pada korban bencana. Upaya penggalangan dana ini menjadi sangat esensil dan bernilai  karena digerakkan bukan melalui campur tangan pemerintah yang sarat birokrasi namun secara independen dalam sebuah bingkai semangat dan kepedulian yang sama.

Wujud Indonesia pada saat ini,tak lagi berupa gugus-gugus yang mesti dipertahankan secara fisik dari pijakan penjajahan asing. Tak lagi berupa sebuah teritori kesadaran yang terancam karena ada helai-helai hegemoni menyelusup ke file-file kesadaran kita dan kemudian adalah virus yang dapat merobek sendi tulang, bahkan sumsum kebangsaan.

Sebagai bangsa, Indonesia serta merta menjelma menjadi kerja keras membangun kehidupan ekonomi, menata kehidupan politik, menyaksikan perjalanan budaya :  Sesuatu yang senantiasa mesti diberi legitimasi historis dari apa yang disebut sebagai “spirit sumpah pemuda 1928? atau “semangat juang ‘45? berdasarkan acuan tunggal bernama UUD 1945 yang dibingkai oleh kesadaran ber-Pancasila.

Dari sini akan timbul pertanyaan, apakah masih relevan mengedepankan aspek historis yang lahir dari kancah revolusi fisik tersebut untuk menjadi sumber motivasi dan inspirasi justru ditengah kecamuk keterbukaan dunia yang kian menyempitkan pilihan-pilihan kita untuk bisa tetap bertahan?

Tentu tak semudah itu. mentransformasikan kesadaran era lahirnya Sumpah Pemuda yang disemangati oleh api nasionalisme kepada kenyataan kontemporer yang berpijak pada bara modernisme, globalisme bahkan post modernisme. Pada gilirannya, modernisme pun “mengkhianati” nasionalisme  itu dengan “putra bungsu” bernama Globalisme.

Bangsa inipun menjelma tidak sekedar sebuah “Nation” dengan negara sebagai perwujudan strukturnya : sesuatu yang kemudian memudahkan kita sebagai bangsa diatur dan dikendalikan semata-mata oleh negara, yang membawa kita membela dan mempertahankannya di tengah revolusi fisik. Saat ini, Pasar dan Media Massa menjelma menjadi “struktur” lain yang kemudian menggusur kokohnya “Nation” itu bahkan hingga sampai ke tingkat kesadaran. Bagaimana kiranya nasib “nasionalisme” (juga patriotisme) pada kenyataan ini? Logika pasar dan juga media massa jelas-jelas sangat berbeda dengan logika bangsa yang mengedepankan persatuan, keutuhan, kesatu paduan.

Era Globalisasi yang muncul menderu-deru, menjelma menjadi sebuah hegemoni baru, yang ternyata tidak lagi biadab seperti era Kolonialisme dan imperialisme, melainkan sangat “beradab” dan bekerja secara halus serta perlahan tapi pasti menggerogoti tulang sum-sum kebangsaan kita. Dan kita sudah merasakan konflik-konflik bernuansa anarkis kerap terjadi di berbagai daerah di Indonesia dan melukai semangat persatuan dan kesatuan kita. Ini memprihatinkan.

Menarik disimak apa yang diungkapkan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Puan Maharani, seperti dikutip disini yang menyatakan bahwa

Indonesia saat ini sangatlah berbeda dengan Indonesia tahun 1960-an. Pada periode itu, Indonesia telah mampu menjadi inspirasi bagi kemerdekaan bangsa-bangsa Asia Afrika. Angkatan Perang Indonesia merupakan angkatan perang terkuat di Asia Tenggara.

Kepemimpinan Indonesia di dunia internasional, bahkan sangat jelas watak perikemanusiaannya, dengan menjadi pelopor Gerakan Non Blok, dan The New Emerging Forces (NEFOS). Di dalam negeri, Indonesia memiliki konsepsi perekonomian yang luar biasa melalui Pembangunan Semesta dan Berencana. Semangat kepeloporan Indonesia itu, kini digerus oleh melunturnya spirit kebangsaan. Intoleransi kembali terjadi. Wibawa negara merosot dan berbagai persoalan ekonomi yang sangat pelik kini menghadang.

Akibat dari semua ini, disiplin nasional merosot. Kebanggaan sebagai bangsa meluntur dengan berbagai bentuk ketergantungan Indonesia terhadap produk impor. Spirit berdikari berubah menjadi spirit berkonsumsi. Rupiah pun terus tertekan hingga menembus Rp 12.000 per dolar AS karena besarnya ketergantungan terhadap impor.

Pengangguran dan kemiskinan, yang seharusnya bisa ditekan dalam spirit pembangunan yang berkeadilan sosial, kini justru menjadi wajah buram perekonomian Indonesia. Ketidaktaatan terhadap hukum semakin melemahkan sendi-sendi bernegara. Padahal Indonesia dibangun sebagai negara hukum. Kokohnya Indonesia yang disatukan oleh prinsip kebangsaan dengan nilai kebhinekaan, kini semakin dinodai oleh intoleransi, konflik sosial akibat SARA yang seharusnya tidak terjadi lagi.

Revitalisasi Sumpah Pemuda dalam kemasan baru melalui Sumpah Pemuda 2.0 dengan Blogger sebagai ujung tombaknya merupakan salah satu contoh gerakan yang “menghimbau” kita untuk kembali pulang ditengah riuh globalisasi, menghayati kebhinekaan, merasakan Indonesia sebagai sebuah kesatuan yang koheren dan patut dibanggakan. Masih banyak yang bisa dilakukan untuk menggelorakan semangat dan solidaritas kebangsaan, apalagi bila disimak presentasi “Indonesia Digital Landscape 2013”  yang secara gamblang memaparkan potensi penting dan luar biasa bangsa kita di era media sosial saat ini.

2013-12-30 12_58_01-Indonesia digital landscape 2013

Terlihat pada grafik diatas (dikutip dari lembar presentasi “Indonesia Digital Landscape 2013”) , telah terjadi peningkatan yang signifikan pada pengguna jaringan sosial di Indonesia yang juga berbanding lurus dengan pemakai internet di Indonesia. Hanya dalam jangka waktu 3 tahun, terjadi peningkatan pengguna jaringan sosial di Indonesia menjadi lebih dari dua kali lipat. Ini tentu sangat menggembirakan dan bisa menjadi peluang untuk mengokohkan kembali semangat kebangsaan lewat bingkai media sosial. Khusus untuk Twitter, Indonesia berhasil menjadi negara dengan pertumbuhan akun twitter terbesar di dunia.

2013-12-30 13_49_51-Indonesia digital landscape 2013

Saya sangat salut pada kreatifitas pelaku dan praktisi dunia digital di Indonesia untuk merealisir hal ini : menjadikan media sosial sebagai piranti menggalang kebanggaan berbangsa dan bernegara. Tidak hanya melalui “Sumpah Pemuda Digital 2.0” saja namun juga aktifitas serupa, misalnya “Upacara Bendera Digital” tepat saat peringatan Hari Kemerdekaan yang digelar secara online oleh Indonesia Optimis. Upacara Bendera ini tidak hanya bisa diikuti melalui situs ID Optimis saja, namun bagi yang tertarik untuk ikut serta bisa juga mem-posting lewat akun Twitter untuk memeriahkan upacara digital ini ada dua tagar yang bisa digunakan #17 dan #upacara, termasuk mendekati momen detik-detik proklamasi. Partisipasi masyarakat Indonesia dalam kegiatan ini akan kembali menggelorakan semangat nasionalisme dan patriotisme.

Spirit kebangsaan bisa juga dikobarkan lewat solidaritas sosial dengan memberdayakan media sosial yang ada. Jalin Merapi, Akademi Berbagi, Sedekah Rombongan, Blood For Life dan lain-lain, merupakan sejumlah contoh nyata pemberdayaan media sosial untuk kegiatan yang positif dan bermanfaat. Upaya merangkai semangat kebangsaan dengan berbagai cara, termasuk lewat fasilitas media sosial akan memberikan dampak pada peningkatan spirit nasionalisme, pantang menyerah dan tentu kebanggaan berbangsa. Mengakhiri posting ini, saya ingin mengutip tulisan bagus dari Goenawan Muhammad:

Sejarah Indonesia menunjukkan, harapan adalah sesuatu yang sulit, tapi tak pernah padam. Kita memang sering kecewa; kita memang tahu sejak 1945 Indonesia dibangun oleh potongan-potongan optimisme yang pendek. Tapi sejak 1945 pula Indonesia selalu bangkit kembali. Bangsa ini selalu berangkat kerja kembali, mengangkut batu berat cita-cita itu lagi, biarpun berkali-kali tangan patah, tubuh jatuh, dan semangat terguncang.

Sementara itu, makin lama kita makin arif: kita memang tidak akan bisa mencapai apa yang kita cita-citakan secara penuh; tapi kita merasakan bahwa Indonesia adalah sebuah amanah-dan dalam pengertian saya, sebuah amanah adalah tugas takdir dan sejarah. Dengan kata lain, kita tak bisa melepaskan diri dari komitmen kita buat Indonesia. Selama kita ada.

–Goenawan Muhammad, Majalah Tempo 24 Mei 2010 

Related Posts
MUDIK LEBARAN KE YOGYA (1) : DARI MUSEUM BENTENG VREDEBURG HINGGA KE KOMPLEKS MAKAM RAJA IMOGIRI
esawat Citilink QG 102 yang kami tumpangi mendarat mulus di bandara Adisucipto Yogyakarta pukul 20.50 malam, hari Minggu (27/7). Meski telat sekitar 15 menit karena menanti giliran mendarat, disebabkan meningkatnya ...
Posting Terkait
IDBLOGILICIOUS MAKASSAR : SERU, MERIAH DAN INSPIRATIF (Bagian Kedua)
Malam minggu (21/5) terasa begitu berkesan dilewatkan bersama rekan-rekan panitia dari Komunitas Blogger Anging Mammiri Makassar serta tim IDBlognetwork dan para narasumber acara IDBlogilicious. Bertempat di lantai 2 Restorant Apong ...
Posting Terkait
SHALAWAT TARHIM DAN KENANGAN SUBUH YANG BERGEMA DARI MASA LALU
Hari ini, Pak Ananto, seorang kawan di mailing list Cikarang Baru, mengirimkan email mengenai shalawat Tarhim kepada kami semua. Membacanya kembali dan mendengarkannya setelah mengunduh dari link ini, membuat batin ...
Posting Terkait
“RUMAH TANPA JENDELA” : TENTANG IMPIAN BERSAHAJA DAN KETULUSAN PERSAHABATAN (RE-POST)
Catatan: Tulisan dibawah ini sebelumnya pernah ditayangkan di Yahoo OMG Indonesia pada tanggal 28 Februari 2011 (sayang link-nya sudah tak bisa dibuka lagi  🙁 ). Saya tayangkan ulang kembali disini menyongsong pemutaran ...
Posting Terkait
BINAR MATA GADIS KECIL YANG MENGGIGIL
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal... (Iwan Fals, Sore Tugu Pancoran) Tanpa sadar air mata ...
Posting Terkait
AMPROKAN BLOGGER 2011 (2) : TENTANG MATAHARI KECIL YANG MENGHANGATKAN & ATRAKSI ANGKLUNG YANG MEMUKAU
rosesi acara pembukaan Amprokan Blogger 2011 yang dibuka oleh Menkominfo Tifatul Sembiring (baca artikelnya disini) kemudian dilanjutkan diskusi tematik tentang Kebebasan Berekspresi di Internet. Dipandu oleh Presiden Blogger ASEAN chapter ...
Posting Terkait
Berfoto dulu sebelum berangkat ke Hongkong
  Hari Kamis sore 17 Maret 2011, kegairahan saya untuk "menjemput impian" jalan-jalan ke Hongkong Disneyland begitu membuncah. Sebuah impian yang sesungguhnya dapat terwujud secara tak terduga berkat aktifitas dan konsistensi ...
Posting Terkait
PENTAS “I LA GALIGO, ASEKKU!” : MANIFESTASI KEARIFAN LOKAL DALAM KARYA TEATRIKAL YANG MEMUKAU
etelah mengarungi kemacetan panjang akhir pekan, saya akhirnya tiba juga di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jum'at malam (13/5). Di tempat ini saya akan menyaksikan pentas "I La ...
Posting Terkait
SURAT CINTA TERBUKA BUAT ISTRIKU (Merayakan 12 Tahun Pernikahan)
Istriku sayang, Membuka bulan keempat di tahun 2011 yang juga merupakan bulan penuh kenangan dimana cinta kita berdua dikekalkan dalam ikatan suci pernikahan, kita menyaksikan betapa malapetaka berupa bencana alam serta ...
Posting Terkait
Penjual Kue Pancong (Buroncong ala Cikarang) foto : Ananto
Diskusi di milis Cikarang Baru tiba-tiba membuat kenangan saya pada kue masa lalu mengapung kembali. Berawal dari posting Pak Ananto yang menceritakan soal penjual kue pancong di pasar Tegal Danas ...
Posting Terkait
MUDIK LEBARAN KE YOGYA (1) : DARI MUSEUM
IDBLOGILICIOUS MAKASSAR : SERU, MERIAH DAN INSPIRATIF (Bagian
SHALAWAT TARHIM DAN KENANGAN SUBUH YANG BERGEMA DARI
“RUMAH TANPA JENDELA” : TENTANG IMPIAN BERSAHAJA DAN
BINAR MATA GADIS KECIL YANG MENGGIGIL
AMPROKAN BLOGGER 2011 (2) : TENTANG MATAHARI KECIL
MENJEMPUT IMPIAN KE HONGKONG DISNEYLAND
PENTAS “I LA GALIGO, ASEKKU!” : MANIFESTASI KEARIFAN
SURAT CINTA TERBUKA BUAT ISTRIKU (Merayakan 12 Tahun
KENANGAN BURONCONG DAN ROMANTIKA YANG MENYERTAINYA

Related Posts

2 thoughts on “MERANGKAI SEMANGAT KEBANGSAAN DALAM BINGKAI MEDIA SOSIAL

    1. Terimakasih mas Iman, saya juga percaya itu. Mengokohkan kembali semangat kebangsaan lewat media sosial menjadi salah satu hal niscaya yang bisa kita lakukan, sebagai blogger maupun sebagai praktisi media digital

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 5 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.