MERAYAKAN ULANG TAHUN KE-44 BERSAMA PESTA DEMOKRASI INDONESIA
Walau dengan kondisi kaki yang masih terpincang-pincang pasca kecelakaan motor yang dialami 3 hari sebelumnya, istri saya dengan bersemangat memasak nasi kuning dan segala pernak-perniknya di dapur untuk merayakan hari penting ini. “Demi suami tercinta tidak apa-apalah, sekali setahun, lagipula kondisinya sudah lumayan membaik kok”kata istri sembari tersenyum saat saya mencoba melarangnya beraktivitas di dapur agar kondisi bengkak serta luka di dengkul dan lutut kanan kakinya tidak bertambah parah.
Seusai berdoa bersama segenap anggota keluarga, kami segera menyantap hidangan yang disiapkan berupa nasi kuning, ayam kremes burangkeng, mie goreng. telur, tempe dan sayur. Sungguh sangat mengesankan, meskipun sederhana saya merasakan kebahagiaan dikelilingi orang-orang tercinta yang ikut merayakan hari ulangtahun ini. Kedua anak saya tercinta, Rizky dan Alya spontan mencium dengan gemas kedua pipi saya yang tembem 🙂
Tepat pukul 09.00 saya bersama isteri berjalan kaki menuju TPS 38 yang berlokasi didepan Musholla Al-Ishlah RT 02/RW 07 Perumahan Cikarang Baru yang terletak dibelakang rumah kami. Saya menyapa para tetangga yang bertugas sebagai panitia Pemilu hari itu, sekaligus berpose sejenak didepan bilik suara. “Silahkan ditunggu gilirannya ya pak Amril,” kata pak Ananto , Sekretaris RT 02 yang saat itu bertugas sebagai salah seorang panitia dengan ramah. Saya lalu mengambil tempat duduk disamping isteri, menanti giliran.
Saat giliran saya tiba, 4 kartu suara saya bawa masuk ke bilik yang pencoblosan yang terdiri atas 4 “bilik kardus” tertutup. Jantung saya berdebar saat membuka kertas suara yang lumayan lebar. Saat mencoblos caleg pilihan saya untuk DPR, DPRD-1 & DPRD-2, bukanlah persoalan besar buat saya, karena saya sendiri sudah punya pilihan preferensi sosok atau partai tertentu. Persoalannya saat membuka lembar kertas suara DPD saya sempat kebingungan.Tak ada satupun yang saya kenal atau setidaknya pernah berinteraksi sebelumnya. Saya sempat cukup lama melihat kertas suara tersebut sampai akhirnya menetapkan pilihan pada sosok caleg yang menurut saya, secara visual & kesan pertama, terlihat cerdas, simpatik dan jujur.
Saya kemudian memasukkan lembar kertas suara di kotak yang disediakan sesuai warnanya. Saya melirik ke istri yang belum selesai mencoblos di biliknya. Setelah kami berdua selesai menunaikan hak pilih, kami segera pamit dan kembali kerumah dengan harapan agar pilihan kami adalah tepat untuk membawa masa depan Indonesia menjadi lebih baik.




