FLASH FICTION: ROMANSA DI MALL

Perempuan itu memandang mesra ke arahku. Aku pangling. Salah tingkah. Dia lalu memegang lenganku erat-erat seakan tak ingin melepaskan.

Kami lalu berjalan bergandengan tangan di sebuah mall yang ramai.

“Aku selalu berharap berada didekatmu, selamanya”, bisiknya lirih. Aku tersenyum. Ia mempererat pegangannya, sampai lenganku terasa sakit.

Beberapa pasang mata yang berpapasan dengan kami melirik penasaran.

Aku mendadak merasa rikuh. Mungkin penampilanku dengan kaos dan jeans belel tak sepadan bersanding perempuan yang berjalan disampingku yang berbusana glamour bercahaya.

Perempuan itu tetap cuek dan berjalan anggun dengan sorot mata percaya diri ke depan. Dia begitu menikmati momen ini.

Mendadak sepasang suami istri bersama dua orang bocah lucu berusia sekitar empat dan enam tahun berpapasan dengan kami. Mereka tertawa riang dan bercanda.

Perempuan itu berhenti dan melepas pegangannya pada lenganku.

“Aku berharap, aku bisa punya anak seperti mereka,”katanya dengan nada pilu. Pandangannya masih ke arah keluarga tadi yang telah berlalu melewati kami. Ada kilat mata cemburu dimatanya.

“Kamu tahu, itu tak akan mungkin terjadi, say”, sahutku sambil angkat bahu. Sebenarnya aku tak nyaman dengan ucapannya tadi.

Tak ada jawaban dari perempuan itu, dia hanya memperlihatkan seringai sinis di mulutnya.

Tiba-tiba perempuan itu menyeretku menuju ke sebuah toko mainan.

“Yuk kita kesana sebentar,” ucapnya.

“Mau ngapain?”

“Ayo ikut sajalah,” ujarnya setengah memaksa.

Disana, perempuan itu memilih sebuah boneka wanita cantik berbusana indah. Dia tersenyum puas menyaksikannya, kemudian mengangsurkan boneka itu kearahku yang menatap bingung.

“Ini untuk anakmu”, katanya pelan.

Dan aku tak bisa berkata apa-apa.

Aku menatap tak percaya pada perempuan anggun setengah baya, yang berusia 20 tahun diatas umurku itu, yang berada tepat didepanku seraya menyunggingkan senyum misterius. 

Related Posts
Teng!-Teng! Tubuhku dipukul dua kali. Begitu selalu. Setiap jam dua dini hari. Biasanya aku terbangun dari lelap tidur dan menyaksikan sesosok lelaki tua, petugas ronda malam kompleks perumahan menatapku puas dengan ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : FACE OFF
“Segini cukup?” lelaki setengah botak dengan usia nyaris setengah abad itu berkata seraya mengangsurkan selembar cek kepadaku. Ia tersenyum menyaksikanku memandang takjub jumlah yang tertera di lembaran cek tersebut. “Itu Istrimu? ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: HATI-HATI DI JALAN
Menjelang berpisah, perempuan itu, yang sudah memiliki hatiku sepenuhnya, tersenyum samar. Pandangannya tajam namun mesra. "Kamu tetap sayang aku kan'?", tanyanya manja. Disentuhnya daguku pelan. Aku tersenyum. "Jawab dong, jangan hanya senyum doang",rengeknya. "Tentu ...
Posting Terkait
Dibawah ini adalah Flash-Fiction saya yang merupakan "modifikasi" dari salah satu posting saya dalam lanjutan cerita estafet (cerfet) forum blogfam yang berjudul "Bayang Hitam"  Nah..selamat menikmati: My Momma always said: Life was like ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: TUNTUTAN
Lelaki itu duduk didepanku dengan wajah tertunduk lesu. Terkulai lemas diatas kursi. Mendadak lamunanku terbang melayang ke beberapa tahun silam. Pada lelaki itu yang telah memporak-porandakan hatiku dengan pesona tak terlerai. Tak hanya ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : CINTA SATU MALAM
Baginya, cinta adalah nonsens. Tak ada artinya. Dan Sia-sia. Entahlah, lelaki itu selalu menganggap cinta adalah sebentuk sakit yang familiar. Ia jadi terbiasa memaknai setiap desir rasa yang menghentak batin tersebut sebagai ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : ROBOT
Seperti yang pernah saya lakukan diblog lama, saya akan menayangkan karya flash-fiction saya diblog ini secara teratur, paling tidak minimal 2 minggu sekali. Contoh koleksi flash-fiction lama saya bisa anda lihat ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: BUKAN JODOH
Berkali kali lelaki itu merutuki kebodohannya. Mengabaikan perasaannya paling dalam kepada perempuan sederhana namun rupawan yang dia sukai, hanya demi harga diri sebagai lelaki kaya, tampan dan terkenal--lalu kemudian, ketika semua ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: PACAR PERTAMA
Sebuah pesan tampil atraktif di layar handphone ku. Dari Rita, pacarku dan ia dengan yakin menyatakan aku adalah pacar pertamanya. "Kapan bisa ketemu say? Bisa hari inikah?" Aku menggigit bibir, memikirkan jawaban yang ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: AYAHKU, IDOLAKU
Bangga rasanya menjadi anak seorang dukun terkenal di seantero kota. Dengan segala kharisma dan karunia yang dimilikinya, ayah memiliki segalanya: rumah mewah, mobil mentereng dan tentu saja uang berlimpah hasil ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: DUKUN
Lelaki tua yang mengenakan blankon yang duduk persis didepanku menatapku tajam. Pandangannya terlihat misterius.  Kumis tebalnya menambah sangar penampilannya. Menakutkan. Aku bergidik. Dukun itu mendengus dan mendadak ruangan remang-remang disekitarku menerbitkan ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: SETAN KREDIT
Aku menyeringai puas. Bangga. Sebagai Debt Collector yang disegani dan ditakuti, membuat debitur bertekuk lutut tanpa daya dan akhirnya terpaksa membayar utangnya merupakan sebuah prestasi tersendiri buatku. Sang debitur, lelaki tua dengan ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: PENEMBAK JITU
Dia baru saja menuntaskan tugasnya sore itu: melubangi kepala seorang boss besar dengan peluru yang ditembakkan olehnya dari jarak jauh, atas order boss besar yang lain. Dia puas menyelesaikan tugasnya dan ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : BALADA SI KUCING BUTUT
Dari balik jendela yang buram aku menyaksikan sosoknya menari riang diiringi lagu hip-hop yang menghentak dari CD Player dikamar. Poni rambutnya bergoyang-goyang lucu dan mulutnya bersenandung riang mengikuti irama lagu. ...
Posting Terkait
BERPACULAH ! MENGGAPAI KEMENANGAN !
Keterangan foto: Menggigit Buntut, karya Andy Surya Laksana, Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia elaki itu menatap nanar dua sapi yang berada di hadapannya. Matahari siang menjelang petang terik membakar arena pertandingan. ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: TAKDIR TAK TERLERAI
Hening. Sunyi. Di ujung telepon aku hanya mendengar helaan nafasnya yang berat. "Jadi beneran mbak tidak marah?", terdengar suara adikku bergetar. "Lho, kenapa harus marah?", sergahku gusar "Karena Titin melangkahi mbak, menikah lebih dulu,"sahutnya ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : TIANG LISTRIK
FLASH FICTION : FACE OFF
FLASH FICTION: HATI-HATI DI JALAN
FLASH FICTION : KESEMPATAN KEDUA
FLASH FICTION: TUNTUTAN
FLASH FICTION : CINTA SATU MALAM
FLASH FICTION : ROBOT
FLASH FICTION: BUKAN JODOH
FLASH FICTION: PACAR PERTAMA
FLASH FICTION: AYAHKU, IDOLAKU
FLASH FICTION: DUKUN
FLASH FICTION: SETAN KREDIT
FLASH FICTION: PENEMBAK JITU
FLASH FICTION : BALADA SI KUCING BUTUT
BERPACULAH ! MENGGAPAI KEMENANGAN !
FLASH FICTION: TAKDIR TAK TERLERAI

Leave a Reply

Your email address will not be published.

three × 4 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.