Flash Fiction: Kode Rahasia
Setiap sore, Anita duduk di jendela kamarnya, memandangi ujung jalan tempat Andi dulu biasa berdiri, mengacungkan dua jari—kode rahasia mereka: “tunggu aku.”
Orangtuanya bilang Andi bukan pilihan. “Anak sopir, masa depanmu suram bersamanya,” kata ibunya.
Andi pergi tanpa pamit setahun lalu.

Tapi sore ini, ada suara motor berhenti. Anita membuka jendela, dan Andi berdiri di sana, mengacungkan dua jari—senyumnya masih sama.
Ayahnya meneriaki dari belakang, tapi Anita tak menoleh.
Ia hanya turun dari kamarnya dan berkata lirih, “Aku sudah cukup menunggu.”