Catatan Dari Hati

Flash Fiction: Dalam Diam, Aku Merindumu

Nada berjalan menyusuri jalan setapak di belakang rumah. Tempat itu saksi diam hubungan mereka. Dulu, tangan Reno selalu menggenggam tangannya, membisikkan rencana masa depan. Kini, yang tersisa hanya desau angin dan reranting kering.

Ia duduk di atas batu besar, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Tak ada pelukan, tak ada pelipur. Reno telah pergi, bukan karena meninggalkan, tapi karena maut memanggil lebih dulu.

Kecelakaan itu datang tiba-tiba, membawa separuh jiwanya.

Nada berbicara pada angin, seolah Reno masih bisa mendengar.

“Kalau waktu bisa kembali, aku akan lebih sering bilang aku sayang kamu.”

Sunyi menjawab, sepi menggema.

Tapi ia percaya, cinta yang tulus tak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti bentuk—menjadi doa, menjadi kenangan, menjadi bisikan rindu di tengah malam.

Dan di situ, Reno tetap hidup. Di hatinya. Selamanya.

Related Posts
Flash Fiction: Koper Hijau
Di sudut kamar, ada koper tua berwarna hijau lumut. Lapuk di bagian resleting, berdebu di pegangannya. Sudah bertahun-tahun tak disentuh, tapi tetap tak dibuang. Itu koper milik Dara. Ia mengemasnya sendiri: dua ...
Posting Terkait
Flash Fiction : Kursi Kosong
Di kafe tempat biasa mereka duduk, Arga memesan dua kopi. Seperti dulu. "Yang satu buat siapa?" tanya barista keheranan. "Kenangan," jawab Arga singkat, lalu duduk di kursi sudut. Kursi di depannya kosong, seperti sudah ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: PACAR PERTAMA
Sebuah pesan tampil atraktif di layar handphone ku. Dari Rita, pacarku dan ia dengan yakin menyatakan aku adalah pacar pertamanya. "Kapan bisa ketemu say? Bisa hari inikah?" Aku menggigit bibir, memikirkan jawaban yang ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: TUNTUTAN
Lelaki itu duduk didepanku dengan wajah tertunduk lesu. Terkulai lemas diatas kursi. Mendadak lamunanku terbang melayang ke beberapa tahun silam. Pada lelaki itu yang telah memporak-porandakan hatiku dengan pesona tak terlerai. Tak hanya ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: DUKUN
Lelaki tua yang mengenakan blankon yang duduk persis didepanku menatapku tajam. Pandangannya terlihat misterius.  Kumis tebalnya menambah sangar penampilannya. Menakutkan. Aku bergidik. Dukun itu mendengus dan mendadak ruangan remang-remang disekitarku menerbitkan ...
Posting Terkait
Menikmati Sensasi Kejutan dan Hentakan Imaji dari Narasi Sekilas Flash Fiction
Flash fiction atau fiksi kilat telah menjadi fenomena sastra yang semakin populer di era digital ini. Dengan keterbatasan kata yang ekstrem—biasanya di bawah 1.000 kata, bahkan seringkali hanya 55-300 kata—flash ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: AYAHKU, IDOLAKU
Bangga rasanya menjadi anak seorang dukun terkenal di seantero kota. Dengan segala kharisma dan karunia yang dimilikinya, ayah memiliki segalanya: rumah mewah, mobil mentereng dan tentu saja uang berlimpah hasil ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: PENEMBAK JITU
Dia baru saja menuntaskan tugasnya sore itu: melubangi kepala seorang boss besar dengan peluru yang ditembakkan olehnya dari jarak jauh, atas order boss besar yang lain. Dia puas menyelesaikan tugasnya dan ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : SEJATINYA, IA HARUS PERGI
ak pernah sekalipun ia akan melupakannya. Lelaki berwajah teduh dengan senyum menawan yang mampu memporak-porandakan hatinya hanya dalam hitungan detik sesaat ketika tatapan mata beradu. Kesan sekilas namun sangat membekas. Membuatnya ...
Posting Terkait
Flash Fiction : Jendela yang Selalu Terbuka
Setiap malam, Randy duduk di jendela rumahnya, menatap jalan. Ibunya bilang itu kebiasaan bodoh—menunggu orang yang tak akan kembali. Ayahnya pergi tujuh bulan lalu. Bukan karena perang atau kecelakaan, tapi karena kelelahan. ...
Posting Terkait
Flash Fiction: Lukisan yang Hidup
Rayyan mengisi malam dengan melukis wajah gadis yang selalu hadir dalam tidurnya. Rambut sebahu, tatapan teduh, senyum yang seolah mengenalnya. Setiap kali kuas menyentuh kanvas, Rayyan merasa ia makin nyata. Sampai suatu ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : TAHI LALAT RANO KARNO
Istriku uring-uringan dan mendadak membenciku dua hari terakhir ini. "Aku benci tahi lalatmu. Tahi lalat Rano Karnomu itu!" cetusnya kesal. "Pokoknya, jangan dekat-dekat! Aku benciii! Benciii! Pergi sanaa!", serunya lagi, lebih galak. Aku ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: ROMANSA DI MALL
Perempuan itu memandang mesra ke arahku. Aku pangling. Salah tingkah. Dia lalu memegang lenganku erat-erat seakan tak ingin melepaskan. Kami lalu berjalan bergandengan tangan di sebuah mall yang ramai. "Aku selalu berharap ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: PELET
Hancur!. Hatiku betul-betul hancur kali ini. Berantakan! Semua anganku untuk bersanding dengannya, gadis cantik tetanggaku yang menjadi bunga tidurku dari malam ke malam, lenyap tak bersisa. Semua gara-gara pelet itu. Aku ingat bulan ...
Posting Terkait
Flash Fiction: Seragam yang Sama
Pagi pertama sebagai istri. Intan menyeduh dua cangkir kopi di dapur sempit apartemen mereka. Aroma robusta mengisi udara, menyamarkan gugup yang belum juga hilang. Rio keluar dari kamar mandi, rambut masih ...
Posting Terkait
Flash Fiction :  Surat
Setiap pagi, Alin meninggalkan surat kecil di tas Rega. Kata-kata manis, puisi pendek, dan doa-doa lirih. Rega selalu tersenyum membacanya—atau itulah yang Alin pikirkan. Sampai suatu sore, ia datang lebih awal ke ...
Posting Terkait
Flash Fiction: Koper Hijau
Flash Fiction : Kursi Kosong
FLASH FICTION: PACAR PERTAMA
FLASH FICTION: TUNTUTAN
FLASH FICTION: DUKUN
Menikmati Sensasi Kejutan dan Hentakan Imaji dari Narasi
FLASH FICTION: AYAHKU, IDOLAKU
FLASH FICTION: PENEMBAK JITU
FLASH FICTION : SEJATINYA, IA HARUS PERGI
Flash Fiction : Jendela yang Selalu Terbuka
Flash Fiction: Lukisan yang Hidup
FLASH FICTION : TAHI LALAT RANO KARNO
FLASH FICTION: ROMANSA DI MALL
FLASH FICTION: PELET
Flash Fiction: Seragam yang Sama
Flash Fiction : Surat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *