Flash Fiction : Gerimis dan Wajahmu
Gerimis jatuh di kota ini, seperti malam itu ketika ia berlari ke rumah sakit, hanya untuk menemukan tubuhmu terbaring kaku di ranjang putih.
Kecelakaan, kata dokter.
Tak seorang pun tahu berapa kali ia menahan napas, menutup mata, berharap saat membukanya kau akan tertawa kecil dan berkata semuanya hanya mimpi buruk.

Kini, tiap gerimis datang, ia duduk di bangku halte yang dulu kalian singgahi, membiarkan hujan membasahi wajahnya, menatap orang-orang yang lalu-lalang, seakan di antara mereka kau akan muncul, berlari padanya dengan langkah kecilmu yang ceroboh.
Namun tak pernah.
Dan ia tetap di sana, menggenggam payung kosong, menunggu.