Belajar Menerima Tanpa Merasa Kalah (Catatan Seorang Pensiunan Baru)
Pukul 04.15. Saya terbangun.
Bukan karena alarm. Semalam, untuk pertama kalinya sejak entah kapan, saya sengaja membiarkan ponsel saya bisu. Saya terbangun karena tubuh saya belum diberi tahu.
Ada semacam jam di dalam tulang — dipasang perlahan selama tiga dekade, satu pagi setiap kali — dan jam itu tidak tahu bahwa kemarin siang seseorang dari bagian Human Capital menyalami tangan saya, menyerahkan map berlogo perusahaan, dan mengucapkan terima kasih atas pengabdian saya. Sebelumnya di Resto “Kampung Kecil” dirayakan pesta perpisahan kecil-kecilan bersama rekan kantor, mengantar saya memasuki masa purna bhakti.
Saya berbaring memandangi langit-langit. Ada retak kecil di sudut dekat lemari, memanjang seperti sungai di peta.
Baru hari ini saya menyadarinya. Selama tiga puluh dua tahun, saya tidak pernah punya waktu untuk memandangi langit-langit kamar saya sendiri.
Istri saya masih tidur, punggungnya naik turun pelan. Saya turun dari ranjang dengan hati-hati, seperti maling di rumah sendiri.
Yang Diambil Bersama Kartu Akses
Yang mereka minta kembali sebenarnya cuma benda-benda kecil. Kartu akses. Kunci laci. Laptop dengan stiker yang sudah mengelupas di pojoknya. Saya menyerahkan semuanya, menandatangani formulir, lalu berjalan keluar melewati pos satpam.
Seorang satpam yang sudah menjaga gerbang itu berdiri dan memberi hormat. “Sehat-sehat, Pak,” katanya. Saya mengangguk. Saya ingin mengatakan sesuatu yang pantas, sesuatu yang sepadan dengan hari-hari kami saling menganggukkan kepala setiap pagi. Tapi yang keluar cuma, “Iya, Pak. Semoga sehat selalu juga ya .”
Lalu saya melangkah melewati gerbang itu dan menyadari sesuatu yang membuat dada saya aneh: besok, kalau saya berdiri di depan gerbang yang sama, dan bertemu kembali dengannya, tentu dia harus bertanya dulu, saya bisa bantu apa, Pak?
Bukan kartu akses yang mereka ambil.
Yang mereka ambil adalah hak untuk masuk tanpa ditanya.
Aritmatika yang Menakutkan
Saya ingin jujur soal ini, karena tidak ada gunanya menulis catatan yang sopan.
Malam-malam terakhir sebelum hari itu, saya sering terbangun dan menghitung. Bukan mengenang tapi menghitung. Uang pensiun bulanan dikurangi listrik, dikurangi air, dikurangi iuran BPJS, dikurangi harga beras yang tahun ini naik lagi. Sisa tabungan dibagi berapa tahun kira-kira saya masih akan ada. Aritmatika yang jahat, karena salah satu variabelnya adalah tanggal kematian saya sendiri, dan saya berharap angkanya kecil supaya hasilnya cukup.
Ada ketakutan yang lebih pengecut lagi, yang bahkan sulit saya tulis: saya takut menjadi beban.
Anak sulung saya baru saja bekerja setelah menamatkan kuliah di Telkom University. Yang bungsu masih mengerjakan skripsinya di President University.
Mereka anak-anak yang baik. Justru itu yang menakutkan. Saya tahu kalau suatu hari nanti tubuh saya rusak — dan tubuh memang selalu akhirnya rusak — mereka akan datang, akan membayar, akan menggeser hidup mereka sendiri untuk memberi ruang bagi ayahnya.
Dan saya tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan pengetahuan itu.
Selama tiga puluh tahun saya adalah orang yang memberi. Saya tidak pernah belajar menjadi orang yang menerima.
Tidak ada pelatihan untuk itu. Tidak ada masa orientasi.
Ruang Tamu Pukul Sembilan Pagi
Hari ketiga, saya menemukan hal yang tidak pernah saya duga akan menyakitkan: rumah saya sendiri, pukul sembilan pagi, adalah tempat yang asing bagi saya.
Istri saya punya sistem. Ada jam untuk menyapu, jam untuk ke pasar, jam untuk duduk di teras dengan tetangga sebelah membicarakan hal-hal yang tidak saya pahami konteksnya. Selama tiga dekade, rumah ini adalah negaranya, dan saya turis yang datang setiap malam pukul tujuh, lelah dan tidak banyak bertanya.
Sekarang saya ada di sana sepanjang hari. Duduk di kursi yang salah.
Bertanya “kok belum masak?” pada jam yang ternyata memang bukan jam masak. Menawarkan bantuan dengan cara yang justru merepotkan.
Hari keempat, dia berkata pelan sambil melipat baju, tanpa marah, “Pa, gak mau main ke mana gitu, daripada bosan di rumah?”
Saya tertawa. Dia ikut tertawa. Lalu kami berdua diam agak lama, karena kami sama-sama tahu bahwa pertanyaan itu jauh lebih besar daripada pagi itu.
Ke mana. Setelah semua ini : ke mana.
Yang Perlahan Saya Temukan
Tapi ada hal-hal lain juga.
Dan saya ingin mencatatnya, supaya kalau nanti saya terbangun pukul tiga pagi dengan dada sesak, saya bisa membaca ulang bagian ini.
Saya menemukan bahwa pagi punya warna. Bukan kiasan. Antara pukul enam dan pukul tujuh, cahaya yang jatuh di dinding belakang rumah berubah dari abu-abu ke sesuatu yang kekuningan, hampir seperti madu encer. Selama tiga puluh tahun cahaya itu ada, dan selama tiga puluh tahun saya menghabiskannya di dalam LRT, bis atau di atas motor, memikirkan rapat.
Saya menemukan bahwa istri saya menyeduh teh dengan cara yang sangat spesifik — dituang dua kali, jeda sekitar sepuluh detik. Dia sudah melakukannya selama tiga puluh tahun untuk saya. Saya baru melihatnya minggu ini. Dan entah kenapa, saya begitu takjub menyaksikannya melakukan itu, dengan takzim seraya tersenyum pada saya yang menatapnya lama.
Yang Saya Harapkan
Saya tidak akan berpura-pura bahwa saya sudah tenang.
Aritmatika itu masih ada di laci kepala saya, dan sesekali masih saya buka.
Tapi mungkin masa pensiun bukan soal berhenti, melainkan soal berpindah dari pekerjaan yang menghidupi ke pekerjaan yang menghidupkan.
Dan pekerjaan itu — merawat tanaman di pot ember cat, menulis esai di laptop, menemani perempuan yang sudah tiga puluh tahun menyeduh teh saya dan belum pernah saya ajak jalan-jalan tanpa alasan — pekerjaan itu tidak punya jam masuk, tidak punya kartu akses, dan tidak bisa dipensiunkan oleh siapa pun.
Maka harapan saya sederhana, dan saya tulis di sini supaya tidak lupa:
Semoga saya diberi tubuh yang cukup kuat untuk tidak merepotkan, dan hati yang cukup lapang untuk merelakan diri direpotkan kalau saatnya tiba.
Semoga saya belajar menjadi orang yang menerima tanpa merasa kalah. Semoga anak-anak saya mengingat ayah mereka bukan sebagai orang yang bekerja keras, tapi sebagai orang yang akhirnya pulang.
Dan semoga besok pagi, ketika saya terbangun pukul 04.15 karena tubuh saya masih belum diberi tahu, saya bisa berbaring sebentar lebih lama, memandangi retak kecil di langit-langit yang bentuknya seperti sungai,
lalu tersenyum,
dan membiarkannya.