(Narsis) : Satu Nama Di Ujung Doa
amanya Wisnu. Dan selama dua puluh dua tahun, ia menyebut nama itu dalam setiap doa yang ia panjatkan : bukan meminta, hanya menyebut, seperti orang yang meletakkan bunga di atas […]
» Read moreMeretas Harapan, Merawat Kewarasan
amanya Wisnu. Dan selama dua puluh dua tahun, ia menyebut nama itu dalam setiap doa yang ia panjatkan : bukan meminta, hanya menyebut, seperti orang yang meletakkan bunga di atas […]
» Read moreSetiap tahun, tanggal 18 April hadir bukan sekadar sebagai angka di kalender. Hari itu adalah undangan untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia yang bergerak semakin cepat, lalu menoleh ke […]
» Read moreLangit sore itu tidak benar-benar gelap, tapi juga tak pernah bisa disebut terang. Abu-abu, seperti perasaan yang dipaksa diam terlalu lama. Raka berdiri di halte yang sama seperti tiga tahun […]
» Read more“Sebuah negara yang tidak mengelola sumber dayanya akan dikelola oleh kelangkaannya.” — John F. Kennedy Sesuatu yang menyentuh hati terjadi ketika kita menyaksikan sebuah mesin raksasa yang pernah menggetarkan dunia, […]
» Read moreHujan turun pelan di sudut kota, seperti sengaja meredam suara hati yang tak lagi tahu harus ke mana pulang. Aku duduk di bangku kayu tua di halte itu, tempat yang […]
» Read moreDi usia enam puluh tujuh tahun, Wening belajar bahwa kehilangan punya banyak wajah. Ada kehilangan yang datang seperti gempa : tiba-tiba, mengoyak segalanya, meninggalkan puing yang butuh bertahun-tahun untuk dirapikan. […]
» Read moreFilm Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? yang resmi tayang di bioskop Indonesia sejak 9 April 2026 bukan sekadar tontonan akhir pekan. Ia adalah cermin bagi siapa pun yang pernah berdiri di persimpangan […]
» Read moreAda yang aneh dari cara Dara dan Langit mencintai mimpi masing-masing , mereka terhubung justru karena impian mereka saling bertolak belakang. Dara ingin tinggal. Di kota kecil ini, di antara […]
» Read moreJauh sebelum ada internet, jauh sebelum ada tagar, manusia telah meramalkan sesuatu yang baru kita rasakan sepenuhnya hari ini: bahwa setiap perang membawa dua medan pertempuran : satu di tanah, […]
» Read moreAda sesuatu yang dingin dan sunyi dalam cara perang modern. Membunuh tidak selalu dengan dentuman meriam yang memekakkan telinga, tidak selalu dengan barisan prajurit yang berhadap-hadapan di ladang berlumpur. Kematian […]
» Read moreRibuan server berderet rapi dalam ruangan dingin ber-pendingin udara di Cikarang, Batam, dan pinggiran Jakarta. Di balik dinding baja dan kabel optik yang meliuk-liuk itu, tersimpan jejak digital ratusan juta […]
» Read moreSesuatu yang menggelisahkan tengah menggeliat di balik angka-angka gemerlap industri China. Di luar sana, ribuan cerobong asap pabrik masih mengepul, jutaan pekerja masih hadir setiap fajar, dan kapal-kapal kargo masih […]
» Read moreSetiap pagi, jutaan kaki melangkah tergesa di trotoar Jakarta. Klakson bersahutan. Knalpot menyemburkan napas panas. Dan di antara semua itu, kereta biru bersih meluncur senyap di atas rel : membawa […]
» Read morePada tahun 1969, seorang pria muda berusia dua puluh sembilan tahun tiba-tiba roboh di meja kerjanya di bagian distribusi sebuah koran besar Jepang. Ia mati. Bukan karena penyakit menular, bukan […]
» Read moreArif masih menyimpan draf pesan itu di ponselnya. Sudah sembilan bulan. Sudah berkali-kali ia membukanya, membacanya, lalu menutupnya lagi tanpa mengirim. Jarinya selalu berhenti tepat di tombol kirim, seperti ada […]
» Read more“Laut adalah sekolah yang keras. Ia melahirkan ras manusia yang tangguh dan patut dimuliakan: para pelaut. Tidak ada penakluk lain selain mereka.” — Victor Hugo, The Toilers of the Sea […]
» Read more