(Narsis) Sisa Hujan di Matamu
Langit sore itu tidak benar-benar gelap, tapi juga tak pernah bisa disebut terang. Abu-abu, seperti perasaan yang dipaksa diam terlalu lama. Raka berdiri di halte yang sama seperti tiga tahun […]
» Read moreMeretas Harapan, Merawat Kewarasan
Langit sore itu tidak benar-benar gelap, tapi juga tak pernah bisa disebut terang. Abu-abu, seperti perasaan yang dipaksa diam terlalu lama. Raka berdiri di halte yang sama seperti tiga tahun […]
» Read moreHujan turun pelan di sudut kota, seperti sengaja meredam suara hati yang tak lagi tahu harus ke mana pulang. Aku duduk di bangku kayu tua di halte itu, tempat yang […]
» Read moreDi usia enam puluh tujuh tahun, Wening belajar bahwa kehilangan punya banyak wajah. Ada kehilangan yang datang seperti gempa : tiba-tiba, mengoyak segalanya, meninggalkan puing yang butuh bertahun-tahun untuk dirapikan. […]
» Read moreFilm Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? yang resmi tayang di bioskop Indonesia sejak 9 April 2026 bukan sekadar tontonan akhir pekan. Ia adalah cermin bagi siapa pun yang pernah berdiri di persimpangan […]
» Read moreAda yang aneh dari cara Dara dan Langit mencintai mimpi masing-masing , mereka terhubung justru karena impian mereka saling bertolak belakang. Dara ingin tinggal. Di kota kecil ini, di antara […]
» Read moreJauh sebelum ada internet, jauh sebelum ada tagar, manusia telah meramalkan sesuatu yang baru kita rasakan sepenuhnya hari ini: bahwa setiap perang membawa dua medan pertempuran : satu di tanah, […]
» Read moreAda sesuatu yang dingin dan sunyi dalam cara perang modern. Membunuh tidak selalu dengan dentuman meriam yang memekakkan telinga, tidak selalu dengan barisan prajurit yang berhadap-hadapan di ladang berlumpur. Kematian […]
» Read moreRibuan server berderet rapi dalam ruangan dingin ber-pendingin udara di Cikarang, Batam, dan pinggiran Jakarta. Di balik dinding baja dan kabel optik yang meliuk-liuk itu, tersimpan jejak digital ratusan juta […]
» Read moreSesuatu yang menggelisahkan tengah menggeliat di balik angka-angka gemerlap industri China. Di luar sana, ribuan cerobong asap pabrik masih mengepul, jutaan pekerja masih hadir setiap fajar, dan kapal-kapal kargo masih […]
» Read moreSetiap pagi, jutaan kaki melangkah tergesa di trotoar Jakarta. Klakson bersahutan. Knalpot menyemburkan napas panas. Dan di antara semua itu, kereta biru bersih meluncur senyap di atas rel : membawa […]
» Read morePada tahun 1969, seorang pria muda berusia dua puluh sembilan tahun tiba-tiba roboh di meja kerjanya di bagian distribusi sebuah koran besar Jepang. Ia mati. Bukan karena penyakit menular, bukan […]
» Read more“Laut adalah sekolah yang keras. Ia melahirkan ras manusia yang tangguh dan patut dimuliakan: para pelaut. Tidak ada penakluk lain selain mereka.” — Victor Hugo, The Toilers of the Sea […]
» Read moreSebuah ironi yang dalam dan menyakitkan di jantung tata kelola Indonesia tengah terjadi. Negara dengan lebih dari 270 juta jiwa, dengan ribuan pulau, ribuan desa, dan ratusan kementerian serta lembaga, […]
» Read moreMalam itu, Rania berdiri di ambang pintu dengan cara yang aneh : setengah tubuhnya masih di dalam rumah, setengahnya lagi sudah menjadi milik malam. Dimas menatapnya dari kursi ruang tamu. […]
» Read moreSelama 131 hari, seorang laki-laki bernama Amsal Christy Sitepu tidur di dalam sel tahanan. Bukan karena ia merampok, bukan karena ia menipu, bukan pula karena ia mencuri uang negara dengan […]
» Read moreLangit sore itu berwarna tembaga, seolah ikut menahan napas bersama Arman yang berdiri di halte tua, tempat segalanya pernah dimulai. Sudah sepuluh tahun berlalu. Sepuluh tahun sejak ia dan Sinta […]
» Read more