Menang Tanpa Mengalahkan: Petuah Sandiwara Radio “Saur Sepuh” untuk Indonesia yang Sedang Diuji
“Segala sesuatu bisa dirampas dari manusia, kecuali satu hal: kebebasan terakhirnya untuk memilih sikap dalam keadaan apa pun, untuk memilih jalannya sendiri.” Begitu tulis Viktor E. Frankl, psikiater penyintas kamp konsentrasi Nazi, dalam Man’s Search for Meaning.
Kalimat itu lahir dari penderitaan yang nyaris tak tertanggungkan, dan justru karena itulah ia terasa begitu dekat dengan kita hari ini.
Saya masih ingat betul suasana pertengahan 1980-an di kota kecil, 30 km dari Makassar.
Menjelang jam siaran, saya yang waktu itu baru masuk Sekolah Menengah Pertama bersama ketiga adik saya, duduk mengelilingi meja makan, menyimak dengan takzim dari radio transistor kesayangan tepat didepan kami .
Sebagai anak tertua, saya bertugas menertibkan adik-adik untuk tidak berisik yang mengganggu atensi kami mendengarkan sandiwara radio legendaris itu.Yang menjengkelkan kerap kali adik bungsu saya iseng mengubah saluran radio dengan memutar tombolnya sambil tertawa lantang.
Ayah yang masih menggunakan sarung usai sholat isya terlihat menyeruput kopinya seraya tersenyum dan ibu menghidangkan pisang goreng menemani momen tersebut. Begitu suara berat itu mengucapkan dua kata, Saur Sepuh, semua orang mendadak diam.
Dalam bahasa Sunda, frasa itu berarti petuah orang tua, dan memang begitulah kami mendengarnya: seperti petuah yang disampaikan lewat cerita silat.
Saya tidak sendirian dalam kegilaan itu.
Karya Niki Kosasih ini diudarakan sejak pertengahan 1985 lewat puluhan radio di seluruh Indonesia, dan satu radio di Yogyakarta saja menerima sekitar 25.000 surat penggemar setiap tahun. Ensiklopedia bebas pun mencatat bahwa radio kala itu masih hiburan yang langka, sehingga orang mendengarkannya beramai-ramai bahkan dari rumah tetangga, persis seperti yang saya alami.
Demamnya bahkan menjelma menjadi film kolosal Saur Sepuh I: Satria Madangkara yang tayang perdana pada September 1988 dan ditonton lebih dari 2,2 juta orang.
Empat puluh tahun kemudian, petuah yang dulu saya dengar dengan mata terbelalak itu ternyata belum usang.
Ia hanya menunggu didengarkan kembali, kali ini dengan telinga orang dewasa.
Salah satu adegan yang paling membekas di ingatan saya adalah kisah Pedang Setan milik Dewi Mantili.
Setiap kali pedang itu dicabut dari sarungnya, narator menggambarkan bau busuk yang menyebar ke udara, membuat lawan mual dan kehilangan pusat perhatian.
Kami yang mendengar di depan radio sampai ikut menutup hidung, seolah baunya merembes keluar dari pengeras suara. Anehnya, Mantili sendiri tak terganggu, karena ia pemilik sahnya.
Ketika pedang itu dirampas oleh Mariba, si perampas justru harus menyumpal hidungnya dengan kapas dan sabut kelapa agar tahan memegang senjata curiannya. Waktu itu saya menganggapnya sekadar adegan lucu.
Kini saya memahaminya sebagai pelajaran: pusaka yang direbut dengan curang tidak pernah benar-benar menjadi milik, dan kekuasaan yang diraih dengan merampas selalu menyisakan bau yang harus terus ditutupi.
Biasanya, tepat ketika pertarungan memuncak, sandiwara terpotong iklan obat flu sponsornya, dan seisi ruangan mengeluh serempak.Kisahnya masih bersambung hingga besok.
Kami lalu bubar dengan hati penasaran, menebak-nebak siapa yang menang. Namun yang saya bawa pulang dari tahun-tahun itu bukan siapa yang menang, melainkan bagaimana cara menang.
Brama Kumbara, raja Madangkara yang sakti mandraguna, memiliki ilmu tertinggi bernama Ajian Lampah Lumpuh. Dalam benak saya yang sekarang, ilmu itu sejalan dengan pepatah lama kita, menang tanpa mengalahkan. Di dunia nyata, kesaktian semacam itu tidak bernama ajian. Ia bernama sikap hormat kepada sesama.
Kisah lain yang diam-diam mengubah cara saya memandang manusia adalah kisah Lasmini, sang Kembang Gunung Lawu. Semasa kecil, kami membencinya. Ia perempuan penggoda, pendekar haus darah, musuh bebuyutan Mantili yang kami idolakan.
Namun Niki Kosasih membuka lapis demi lapis masa lalunya, dan perlahan kebencian saya berubah menjadi iba. Lasmini muda ternyata pendekar pembela kebenaran. Ia kehilangan kekasih, diusir dengan hinaan, mencari pelipur lara dalam pelukan seorang hartawan yang tak memberinya bahagia, lalu dianiaya dan dilempar ke jurang.
Seorang guru tua, Nenek Lawu, menangkap tubuhnya, merawat luka badan dan jiwanya, dan mewariskan ilmu kepadanya. Akan tetapi luka yang belum sembuh tuntas berubah menjadi dendam yang membanjiri Pajajaran dengan darah.
Dari Lasmini saya belajar sesuatu yang kelak menjadi pegangan dalam pekerjaan saya: setiap orang yang tampak jahat menyimpan cerita yang belum kita dengar, dan tugas kita pertama adalah memahami, bukan menghakimi.
Kini, setelah bertahun-tahun menekuni persoalan sosial budaya dan kesehatan jiwa, saya membaca kembali dua kisah masa kecil itu sebagai peta batin bangsa kita hari ini.
Benang merahnya sederhana sekaligus dalam: luka yang tidak dirawat akan mencari jalan keluarnya sendiri, dan kekuatan yang tidak dibingkai rasa hormat akan berubah menjadi bau busuk yang mengusir sesama.
Lihatlah keadaan dunia.
Harga minyak mentah diproyeksikan naik sekitar 32 persen dan harga pangan sekitar 8 persen sepanjang tahun ini. Dunia sedang berada di tengah rimba persilatan yang riuh: perang, harga energi yang melambung, dan perebutan pusaka bernama teknologi kecerdasan buatan.
Indonesia sejauh ini bertahan dengan gagah. Bank Indonesia mencatat ekonomi kita tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026, dengan konsumsi rumah tangga naik 5,06 persen. Namun angka besar tidak selalu bercerita tentang dapur kecil.
Analisis Perbanas menilai pertumbuhan konsumsi yang masih moderat menandakan daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. BPS mencatat 7,24 juta orang masih menganggur pada Februari 2026, dan 7,27 persen penduduk bekerja tergolong setengah pengangguran, yakni bekerja kurang dari 35 jam seminggu sambil masih mencari pekerjaan lain.
Di balik angka itu banyak anak muda yang baru hendak menapaki hidup. Kementerian Ketenagakerjaan juga mencatat 53.490 pekerja melaporkan terkena PHK sepanjang Januari hingga Agustus 2026, dengan Jawa Barat menyumbang angka terbanyak, tanah kelahiran Niki Kosasih sendiri.
Di balik setiap angka itu pula terdapat manusia yang sedang dilempar ke jurang seperti Lasmini. Kehilangan pekerjaan bukan hanya kehilangan gaji. Ia kehilangan harga diri, kehilangan peran di keluarga, dan sering kali kehilangan alasan untuk bangun pagi.
Maka tidak mengherankan bila luka ekonomi menjelma luka batin. Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan lebih dari satu miliar manusia kini hidup dengan gangguan kesehatan jiwa, dengan kecemasan dan depresi sebagai yang paling umum.
Di tanah air, program Cek Kesehatan Gratis menemukan sekitar 4,8 persen anak bergejala depresi dan 4,4 persen bergejala cemas dari kurang lebih 7 juta anak yang diperiksa.
Lebih menyesakkan lagi, Kementerian Kesehatan mengutip survei kesehatan pelajar yang menunjukkan proporsi anak yang pernah mencoba bunuh diri naik dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.
Sementara itu, Pedang Setan berkeliaran di layar gawai kita. Ruang digital yang mestinya menjadi balai bersama justru kerap menjadi arena saling hina.
Kita mencabut pedang berbau busuk setiap kali menulis komentar yang merendahkan, menyebar kabar bohong, atau menertawakan penderitaan orang lain.
Kita mengira diri kebal seperti Mantili, padahal sering kali kita lebih mirip Mariba yang harus terus menyumpal hidung agar tidak mencium kebusukan sendiri.
Lantas, apa tantangan kita ke depan?
Tantangan pertama adalah ketahanan ekonomi rumah tangga di tengah dunia yang guncang. Tantangan kedua adalah jurang yang lebar antara kebutuhan dan layanan kesehatan jiwa.
Di negeri sendiri, jumlah psikolog klinis di puskesmas baru sekitar 203 orang, sementara jutaan anak baru saja menjalani skrining.
Tantangan ketiga, dan barangkali yang paling halus, adalah terkikisnya kebiasaan mendengarkan bersama.
Dulu satu radio menyatukan satu keluarga bahkn satu kampung. Kini setiap orang memegang radio pribadinya sendiri, mendengar gema pendapatnya sendiri, lalu kesepian di tengah keramaian.
Jalan keluarnya, saya percaya, bisa kita gali dari petuah orang tua itu sendiri.
Kita perlu melahirkan seribu Nenek Lawu. Lasmini tidak selamat karena kesaktiannya, melainkan karena seseorang menangkapnya saat jatuh.
Indonesia memerlukan jaringan penolong di tingkat paling dekat: kader kesehatan jiwa di setiap RT dan RW, guru bimbingan konseling yang terlatih mengenali tanda bahaya, pemuka agama dan tokoh adat yang mau mendengar tanpa menghakimi.
Langkah pemerintah memperkuat layanan jiwa di puskesmas dan membuka layanan konseling gratis Healing119 melalui nomor 119 ekstensi 8 patut kita sambut dan perluas, sebab skrining tanpa tindak lanjut hanyalah daftar luka yang dibiarkan menganga.
Kita juga perlu menyatukan kebijakan perut dan kebijakan jiwa. Pekerja yang terkena PHK semestinya tidak hanya menerima uang jaminan kehilangan pekerjaan, tetapi juga pelatihan ulang, pendampingan usaha kecil, dan ruang konseling.
Pemulihan ekonomi yang mengabaikan pemulihan batin akan melahirkan generasi Lasmini: tangguh di luar, penuh dendam di dalam.
Kita perlu kembali mengajarkan Ajian Lampah Lumpuh di rumah, sekolah, dan ruang digital. Menang tanpa mengalahkan berarti bersaing tanpa menginjak, berpendapat tanpa menghina, berkuasa tanpa merampas.
Para pemimpin semestinya menjadi teladan pertama, sebab pusaka kekuasaan yang direbut dengan curang akan selalu berbau, tak peduli seberapa tebal kapas yang dipakai menutupinya.
Dan kita perlu menghidupkan kembali kekuatan cerita. Saur Sepuh membuktikan bahwa nilai luhur bisa sampai ke hati jutaan orang tanpa ceramah, cukup lewat suara, imajinasi, dan tokoh yang terasa nyata.
Para pegiat budaya, penyiar, dan pembuat siniar hari ini bisa melahirkan sandiwara audio baru yang menenun kearifan lokal dengan pesan kesehatan jiwa, sehingga anak muda belajar bahwa meminta pertolongan bukanlah tanda kalah, melainkan langkah pertama pendekar yang bijak.
Brama Kumbara tidak dikenang karena badai yang mampu ia ciptakan, tetapi karena kearifannya memahami Lasmini ketika semua orang memilih membenci.
Di situlah kesaktian sejati sebuah bangsa. Bukan pada angka pertumbuhan semata, melainkan pada kesediaan warganya untuk saling menangkap ketika ada yang jatuh.
Radio rumah kami itu sudah lama rusak dan tiada, zaman sudah berganti wajah, tetapi petuah orang tua yang saya dengar semasa kecil tetap berbisik dari kejauhan: rawatlah lukamu sebelum ia menjadi dendam, dan simpanlah pedangmu sebelum baunya mengusir orang yang kau cintai.