Catatan Dari Hati

Setiap Titik Malam Adalah Doa: Batik Indonesia Berlayar di Tengah Gelombang Dunia

“Kebudayaan sebuah bangsa bersemayam di dalam hati dan jiwa rakyatnya.”

Mahatma Gandhi

Kalimat Mahatma Gandhi itu terasa seperti ditulis untuk hari ini.

Sebuah kebetulan yang indah, tokoh kelahiran 2 Oktober tersebut pernah menjadikan kain buatan tangan sebagai lambang harga diri bangsanya, dan pada tanggal yang sama Indonesia merayakan kainnya sendiri.

Batik telah berabad lamanya tumbuh di tanah ini, dari balik tembok keraton hingga kampung pesisir, diwariskan dari ibu kepada anak melalui canting, malam panas, dan kesabaran yang nyaris tanpa batas.

Jalan menuju pengakuan dunia dimulai ketika Indonesia mendaftarkan batik ke UNESCO pada 4 September 2008. Setahun kemudian, pada 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi, sidang keempat komite antarpemerintah UNESCO memutuskan Batik Indonesia masuk ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.

Negara lalu meneguhkan momen itu lewat Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 yang ditetapkan pada 17 November 2009, menjadikan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Pengakuan itu tidak lahir dari keindahan motif semata. Naskah keputusan UNESCO mencatat bahwa batik menyertai hidup orang Indonesia sejak awal hingga akhir: bayi digendong dengan kain bermotif pembawa keberuntungan, dan jenazah diselimuti kain batik pada perjalanan terakhirnya.

Di antara dua titik itu terbentang pernikahan, kelahiran, doa, dan kerja. Dunia pun ikut jatuh hati. Nelson Mandela mengenakannya di panggung internasional sampai orang Afrika Selatan menamainya kemeja Madiba.

Tujuh belas tahun sejak hari bersejarah di Abu Dhabi, pertanyaan kita bukan lagi apakah dunia mengakui batik, melainkan apakah kita sendiri sanggup menghidupi orang yang membuatnya.

Tahun ini puncak peringatan berlangsung di Surabaya dengan tajuk “Batik Berlayar”, dipusatkan di Dermaga Kapal Taman Prestasi dan disertai pameran pada 30 September sampai 4 Oktober 2026 yang melibatkan lebih dari 40 peserta serta menyorot kekayaan batik Tulungagung.

Tajuk itu jujur. Berlayar berarti meninggalkan dermaga yang tenang dan bersiap menghadapi ombak. Dan ombak tahun ini memang tinggi.

Dana Moneter Internasional pada Juli 2026 memproyeksikan ekonomi dunia hanya tumbuh 3 persen tahun ini, lebih rendah dari capaian 3,5 persen pada tahun lalu, akibat rambatan perang di Timur Tengah dan kenaikan harga energi. Lembaga yang sama memperkirakan inflasi global naik menjadi 4,7 persen, sementara pertumbuhan perdagangan dunia melambat dari 5 persen menjadi 3,5 persen.

Bagi perajin di Pekalongan, Lasem, atau Madura, angka itu bukan berita dari negeri jauh. Ia hadir sebagai pesanan yang ditunda pembeli luar negeri, ongkos kirim yang membengkak, dan harga bahan baku yang rawan ikut merangkak.

Data Badan Pusat Statistik yang dikutip dari keterangan Kementerian Perindustrian memperlihatkan dua wajah sekaligus: ekspor batik sepanjang 2025 mencapai 20,14 juta dolar AS atau melonjak 32,50 persen, tetapi pada triwulan II 2026 nilainya turun 13,76 persen menjadi 4,39 juta dolar AS.

Di dalam negeri, kabar baik dan kabar cemas berjalan beriringan. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026, dengan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen dan menyumbang lebih dari separuh perekonomian.

Pasar sebesar itu semestinya menjadi rumah yang hangat bagi batik. Kenyataannya, rumah itu kian sesak oleh kain cetak mesin bermotif batik yang murah dan makin sulit dibedakan dari karya tangan.

Kementerian Perindustrian mencatat 3.196 unit usaha batik di negeri ini, dan 2.609 di antaranya berskala mikro serta kecil, kelompok yang paling tipis bantalannya ketika pasar goyah.

Angka yang paling menyesakkan justru menyangkut manusia: jumlah perajin batik menyusut sekitar 20 persen, dari kurang lebih 131 ribu orang pada 2019 menjadi 105 ribu orang pada 2023.

Dua puluh enam ribu pasang tangan berhenti membatik. Setiap tangan yang berhenti membawa pergi ingatan tentang motif, takaran warna, dan cerita yang tidak tertulis di buku mana pun.

Di titik inilah persoalan batik berubah dari urusan dagang menjadi urusan kemanusiaan. Selembar batik tulis halus bisa menyita waktu berminggu, bahkan berbulan.

Seorang pembatik duduk di bangku rendah, meniup ujung canting, menahan panas malam di ujung jari, lalu mengulanginya ribuan kali sampai kain putih berubah menjadi doa yang bisa dikenakan.

Ketika hasil kerja semacam itu dihargai setara dengan kain yang keluar dari mesin dalam hitungan menit, wajar bila anak para perajin memilih bekerja di tempat lain. Regenerasi tidak akan pulih oleh imbauan cinta budaya. Ia pulih ketika membatik kembali menjadi pekerjaan yang layak, dihormati, dan menjanjikan masa depan.

Sebagai orang yang berdiri di dua dunia, kebudayaan dan usaha, saya percaya jalan keluarnya nyata dan bisa dikerjakan mulai hari ini. Langkah pertama, jadikan pasar dalam negeri sebagai jangkar. Ketika permintaan luar negeri melemah, belanja warga sendiri menjadi penyelamat.

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan negara, sekolah, hotel, dan perusahaan swasta dapat menuliskan satu syarat sederhana dalam pengadaan seragam serta cendera mata: batik tulis atau batik cap asli buatan perajin, bukan kain cetak. Satu kalimat dalam dokumen pengadaan sanggup menghidupi satu kampung.

Langkah kedua, tegakkan kejujuran label. Pemerintah sendiri sudah mengingatkan bahwa kain bermotif batik sah berkembang sebagai produk tekstil asalkan tidak mengaburkan makna batik yang sesungguhnya.

Pembeli berhak tahu apa yang ia bayar. Tanda Batikmark perlu diperluas dan dipermudah bagi usaha kecil, sedangkan pengelola lokapasar patut memisahkan dengan tegas rak batik dari rak kain bermotif batik. Kejujuran semacam ini tidak mematikan siapa pun. Ia hanya mengembalikan harga kepada yang berhak.

Langkah ketiga, pulihkan regenerasi melalui penghasilan dan gengsi. Upah yang pantas, magang berbayar di sanggar, beasiswa bagi siswa kejuruan, serta pelajaran membatik sebagai muatan lokal akan membuat anak muda melihat canting sebagai profesi kreatif, bukan nasib.

Kolaborasi perajin dengan perancang muda dan kampus, seperti yang didorong pemerintah melalui pengembangan busana siap pakai, aksesori, dan produk kriya, membuka pintu bagi pembeli baru tanpa meninggalkan jati diri.

Langkah keempat, alirkan pembiayaan sampai ke teras rumah perajin. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat sudah mencapai Rp219,62 triliun hingga 11 September 2026 dan menjangkau sekitar 3,41 juta debitur, dengan bunga 6 persen efektif per tahun bagi sektor produksi dan usaha berorientasi ekspor.

Namun laporan yang sama menunjukkan porsi kredit usaha mikro, kecil, dan menengah terhadap total kredit perbankan turun dari 20,9 persen pada Januari 2023 menjadi 17 persen pada April 2026.

Perajin batik memerlukan skema yang mengikuti irama kerjanya: pinjaman berbasis pesanan, tenggang waktu selama proses produksi yang panjang, dan koperasi bahan baku agar kain mori, malam, serta pewarna dibeli bersama dengan harga yang lebih tahan terhadap gejolak.

Langkah kelima, perluas tujuan ekspor dengan cerdas. Perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia dan Uni Eropa akan meliberalisasi sekitar 98 persen pos tarif dan membuka pasar berisi 450 juta konsumen, dengan penandatanganan yang ditargetkan pada triwulan IV 2026 dan tarif nol persen bagi produk tekstil begitu perjanjian berlaku.

Pembeli di sana bersedia membayar lebih untuk asal usul yang jelas, pewarna alam, dan proses yang ramah lingkungan. Maka perlindungan indikasi geografis harus dikejar. Sampai sekarang baru 14 batik yang mengantongi sertifikat indikasi geografis, dan tiga di antaranya didampingi Kementerian Perindustrian, yaitu Batik Tulis Nitik Yogyakarta, Batik Tulis Complongan Indramayu, serta Batik Tulis Tenun Gedhog Tuban. Banyak daerah lain masih menunggu giliran.

Langkah keenam, manfaatkan ruang daring sebagai etalase tanpa sekat. Pada triwulan II 2026 transaksi ritel daring dan lokapasar melonjak 35,13 persen secara tahunan. Perajin yang didampingi untuk memotret karyanya, menuliskan kisah di balik motif, dan menjual langsung kepada pembeli akan menikmati bagian keuntungan yang selama ini habis di tangan perantara.

Pembeli masa kini tidak hanya membeli kain. Mereka membeli nama pembatiknya, desa asalnya, dan makna yang dititipkan pada setiap goresan.

Semua langkah itu pada akhirnya bertemu di satu tempat, yaitu keputusan kecil kita. Memilih batik asli ketika membeli seragam kantor.

Bertanya kepada penjual siapa pembuatnya. Mengajak anak mencoba canting pada akhir pekan. Membayar harga yang pantas tanpa menawar sampai perih.

Kapal bernama batik sudah meninggalkan dermaga Surabaya hari ini, dan gelombang dunia tidak akan mereda hanya karena kita berharap.

Tetapi kapal ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kain mana pun di dunia: jutaan orang yang masih menyimpannya di dalam hati.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *