Catatan Dari Hati

Dari Bandung, Insinyur ASEAN Menegakkan Kembali Pilar Harapan

“Ketika kita membangun, marilah berpikir bahwa kita membangun untuk selamanya.” John Ruskin, The Seven Lamps of Architecture, 1849

Ruskin menulis kalimat itu pada 1849, jauh sebelum beton bertulang dan kereta cepat menjadi keseharian, namun pesannya terasa dekat dengan perjalanan para insinyur Asia Tenggara, yang sejak awal membangun persaudaraan mereka untuk bertahan lintas generasi.

Kisah mereka bermula pada 1973, saat perhimpunan insinyur Malaysia dan Singapura menggelar konvensi bersama demi merawat persaudaraan dua negeri serumpun. Pada 1976 undangan diperluas kepada seluruh negara ASEAN, lalu pada Februari 1980 di Manila disepakati pembentukan ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO), federasi organisasi insinyur Asia Tenggara.

Dua tahun berselang, pertemuan yang digelar di Indonesia dicatat sebagai CAFEO pertama, dan sejak 1982 konferensi tahunan ini berpindah dari satu negara anggota ke negara anggota berikutnya tanpa kehilangan niat awalnya, yakni memupuk iktikad baik, saling pengertian, dan kerja sama.

Lima organisasi pendiri, termasuk Persatuan Insinyur Indonesia (PII), kini tumbuh menjadi sebelas. Setelah Jakarta pada 2019 dan Bali pada 2023, giliran Bandung menjadi tuan rumah CAFEO 44 pada 20 hingga 22 Oktober 2026 dengan tema masa depan ASEAN yang makmur dan manusiawi melalui industrialisasi yang inklusif serta berkelanjutan.

Bandung bukan pilihan kebetulan. Di kota inilah pada 1955 negara Asia dan Afrika yang baru merdeka belajar berbicara dengan suara sendiri. Di kota ini pula pesawat dirakit, vaksin diproduksi, dan generasi demi generasi insinyur ditempa.

Panitia menyiapkan 17 sesi kelompok kerja, delapan di antaranya digelar langsung di jantung industri dan lembaga kota ini, mulai dari PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, Bio Farma, dan ITB hingga Museum Geologi yang membahas kesiapsiagaan bencana.

Delegasi yang datang dari Jakarta akan menumpang kereta cepat Whoosh yang melesat hingga 350 kilometer per jam, sebuah salam pembuka tentang apa yang sanggup dikerjakan negeri ini.

PII sebagai tuan rumah, yang dahulu berdiri dengan 75 anggota dan kini menaungi sekitar 98.000 insinyur, seolah hendak berkata bahwa pintu rumah telah terbuka dan kami siap bekerja.

Namun perhelatan ini berlangsung di bawah langit yang belum cerah. Dana Moneter Internasional pada Juli lalu memperkirakan ekonomi dunia hanya tumbuh 3,0 persen pada 2026 sebelum pulih ke 3,4 persen pada 2027, sementara inflasi global direvisi naik menjadi 4,7 persen akibat perang di Timur Tengah yang mengguncang pasokan energi.

Bagi dunia konstruksi, guncangan semacam itu tidak pernah berhenti sebagai berita luar negeri. Ia menjelma menjadi harga solar di lokasi proyek, harga besi di toko bangunan, dan kecemasan di meja makan keluarga pekerja.

Indonesia sejauh ini bertahan dengan kepala tegak. Ekonomi tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 dan 5,45 persen sepanjang semester pertama, capaian paruh tahun tertinggi dalam lima tahun terakhir, sedangkan sektor konstruksi melaju 6,68 persen. Sektor ini menyumbang 9,81 persen produk domestik bruto dan menghidupi sekitar 8,2 juta pekerja.

Di balik deretan angka itu berdiri manusia: tukang besi yang berangkat sebelum subuh, mandor yang hafal nama seluruh anak buahnya, juga insinyur muda yang untuk pertama kali melihat gambar rancangannya menjelma jembatan.

Karena itu pula tekanan yang kini datang terasa begitu pribadi. Asosiasi Kontraktor Indonesia mencatat harga solar industri naik 41,52 persen menjadi Rp23.050 per liter, besi beton naik 27,78 persen, aspal 23,85 persen, dan beton siap pakai 9,77 persen, sementara rupiah sempat melemah 7,82 persen ke Rp17.964 per dolar AS.

Biaya pelaksanaan proyek gedung membengkak 20 hingga 35 persen, padahal sebagian besar kontrak diteken dengan asumsi harga awal tahun. GAPENSI mengingatkan bahwa tanpa penyesuaian nilai kontrak, para pelaksana berpotensi menanggung kerugian besar. Para kontraktor mengaku masih sanggup menelan pahit itu, tetapi mereka bertanya sampai kapan.

Ruang fiskal pun menyempit. Pagu Kementerian Pekerjaan Umum untuk 2027 disetujui Rp114,59 triliun, terpaut Rp105,22 triliun dari kebutuhan Rp219,81 triliun yang diusulkan. Tantangan yang paling sunyi justru menyangkut manusia.

Dari jutaan pekerja konstruksi tadi, baru 629.622 orang yang mengantongi sertifikat kompetensi, belum sampai delapan persen. Rasio insinyur Indonesia masih berkisar 2.500 hingga 2.670 orang per satu juta penduduk, jauh di bawah Vietnam yang mencapai sekitar 9.000. Kita sedang membangun negeri besar dengan barisan ahli yang terlalu tipis.

Di titik inilah CAFEO 44 menemukan maknanya, dan dari pengalaman panjang di lapangan saya melihat setidaknya lima jalan keluar yang dapat ditempuh dunia konstruksi Indonesia. Jalan pertama adalah keadilan dalam kontrak.

Menteri Pekerjaan Umum telah menyatakan kesediaan menyesuaikan nilai kontrak agar beban kenaikan harga tidak dipikul kontraktor seorang diri, dan pemerintah tengah menyiapkan aturan penyesuaian harga proyek konstruksi.

Aturan itu perlu segera terbit, sederhana, berpijak pada indeks harga yang terbuka, serta menjangkau proyek daerah tempat kontraktor kecil menggantungkan hidup. Pembagian risiko yang adil bukan kemurahan hati, melainkan syarat agar mutu bangunan tidak dikorbankan.

Jalan kedua adalah kemandirian bahan bangunan. Selama ini sekitar 78 persen kebutuhan aspal nasional dipenuhi dari impor sedangkan aspal Buton baru terpakai 4 persen, dan pemerintah kini menargetkan porsinya naik menjadi 30 persen.

Langkah itu diperkirakan menghemat devisa sekitar Rp4,08 triliun per tahun. Semangat serupa layak diperluas ke baja, semen rendah karbon, dan bahan lokal lain, sehingga gejolak di selat yang jauh tidak lagi serta merta menghentikan pengaspalan jalan desa.

Jalan ketiga adalah bekerja lebih cerdas dengan uang yang lebih sedikit. Anggaran yang terbatas menuntut ketelitian memilih, yaitu mendahulukan pemeliharaan aset yang sudah berdiri, memperluas kerja sama pemerintah dengan badan usaha, serta memakai beton pracetak dan pemodelan digital untuk memangkas pemborosan sejak tahap gambar.

Anggaran kecil pun bisa berdampak besar bila menyentuh warga secara langsung, seperti program infrastruktur berbasis masyarakat dan jembatan gantung senilai Rp6,62 triliun di 16.670 lokasi pada 2027 yang membuka lapangan kerja di kampung sendiri.

Jalan keempat, dan yang terpenting, adalah manusia. Sertifikasi harus didekatkan ke lokasi proyek, dibuat murah, dan dihargai dengan upah yang lebih layak. Pendidikan vokasi yang membekali anak muda dengan teknologi konstruksi mutakhir perlu digandakan, sejalan dengan dorongan PII menuju 10.000 insinyur per satu juta penduduk.

Kawasan ini pun telah menyediakan tangga untuk naik kelas: jumlah insinyur profesional yang diakui lintas negara ASEAN telah mencapai 10.137 orang per Juni 2026. CAFEO 44 juga menyiapkan panggung khusus bagi insinyur perempuan dan insinyur muda, sebab masa depan profesi ini tidak boleh hanya berwajah satu generasi dan satu gender.

Jalan kelima adalah membangun dengan hormat kepada alam. Negeri cincin api ini memerlukan bangunan yang tangguh terhadap gempa, banjir, dan longsor, sekaligus hemat energi serta rendah emisi.

Tidak heran bila agenda Bandung memuat konferensi geoteknik, kelompok kerja kesiapsiagaan bencana, hingga penanaman pohon pada hari penutup. Setiap pohon yang ditanam para delegasi adalah pengakuan bahwa beton dan baja hanya berarti bila bumi tempatnya berpijak tetap lestari.

Pada akhirnya konstruksi adalah pekerjaan tentang harapan. Kita menuang fondasi hari ini untuk anak yang belum lahir, bagi sekolah yang kelak ia masuki, jembatan yang kelak ia seberangi, dan air bersih yang kelak ia minum.

Tujuh puluh satu tahun silam, dari Gedung Merdeka, Bandung mengajarkan dunia bahwa bangsa yang lama dianggap kecil sanggup berdiri sejajar bila mau duduk bersama.

Oktober ini giliran para insinyur melanjutkan pelajaran itu dengan bahasa mereka sendiri, yaitu perhitungan yang jujur, rancangan yang berpihak kepada manusia, dan kerja yang tuntas. Wilujeng sumping, para pembangun ASEAN. Mari bekerja.

“Pelita Pengertian telah kembali dinyalakan, Pilar Kerja Sama telah kembali ditegakkan.” Soekarno, pidato pembukaan Konferensi Asia Afrika, Bandung, 18 April 1955

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *