(Narsis) : Di Ujung Jalan yang Tak Bertepi
Namanya Satria. Dan ia memang lahir untuk menjadi pejalan.
Orang-orang di kampungnya dulu sering berkata bahwa anak itu punya kaki yang tidak bisa diam, seperti ada angin yang selalu menarik telapak kakinya ke cakrawala yang lain.
Ibunya pernah bercerita bahwa bahkan saat masih bayi, Satria tidak pernah tidur menghadap ke dalam rumah. Selalu ke jendela. Selalu ke langit.
Ia meninggalkan Bone pada usia dua puluh dua tahun dengan sebuah gitar tua yang senarnya sudah berkarat di ujung-ujung, dan selembar foto Rania yang terlipat empat di saku kemejanya.
Rania : perempuan dengan tawa yang bisa membuat hujan merasa malu karena tidak bisa lebih indah dari itu.
“Pergi dulu,” kata Satria waktu itu. “Aku ingin menjadi sesuatu sebelum aku berani memintamu menjadi milikku.”
Rania menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa dibaca oleh Satria yang masih muda dan terlalu percaya diri itu.
Sesuatu yang sudah tahu : bahwa lelaki dengan jiwa seperti angin tidak akan pernah benar-benar berhenti, meski ia sendiri berjanji akan pulang.
“Pergi,” kata Rania akhirnya, dengan suara yang terdengar seperti do’a dan perpisahan sekaligus.
***
Sepuluh tahun berlalu seperti arus sungai di musim hujan : deras, tak terbendung, dan tidak pernah menoleh ke belakang.
Satria berkelana dari kota ke kota. Makassar, Surabaya, Bandung, Jakarta. Ia main gitar di kafe-kafe kecil yang berbau bir dan asap rokok, di festival-festival jalanan yang penontonnya lebih banyak yang berdiri sambil memegang minuman daripada benar-benar mendengarkan.
Ia menulis lagu-lagu tentang perjalanan, tentang malam-malam yang dingin di kota orang, tentang rindu yang ia paksa tidur supaya tidak mengganggu langkahnya.
Sesekali ia mengirim surat ke Bone. Ke alamat rumah Rania.
Beberapa dibalas. Kemudian tidak ada lagi.
Ia tidak mau tahu apa artinya. Karena kalau ia tahu, mungkin kakinya akan terpaksa berhenti.
Di Yogyakarta, suatu malam di bulan Maret yang basah, ia duduk sendirian di warung angkringan dekat Malioboro. Lagu-lagunya hari itu tidak berjalan baik , pengunjung kafe terlalu sibuk dengan layar ponsel mereka, tepuk tangan terasa seperti basa-basi, dan honornya hampir tidak cukup untuk membayar kamar kos.
Satria memandang jalanan yang masih ramai meski sudah lewat tengah malam. Orang-orang berpasangan berlalu lalang. Tertawa. Berpegangan tangan.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasakan sesuatu yang dulu selalu ia usir : kesepian yang tidak bisa diisi oleh kota mana pun, oleh panggung mana pun, oleh lagu mana pun.
Ia mengeluarkan foto Rania dari dompetnya. Lipatan foto itu sudah bertambah banyak, permukaannya kusam, wajah Rania di sana sudah agak buram karena terlalu sering disentuh jari-jari yang kelelahan.
Tunggu aku, bisiknya dalam hati. Atau mungkin itu hanya gema dari sesuatu yang sudah lama tidak ia ucapkan.
***
Dua puluh tahun setelah ia pergi, Satria akhirnya kembali ke Bone.
Rambutnya sudah mulai beruban di pelipis. Langkahnya tidak selincah dulu.
Gitarnya sudah berganti tiga kali, tapi yang ia bawa hari itu adalah yang pertama , yang berkarat, yang bersuara sedikit serak, yang paling jujur di antara semuanya.
Rumah Rania masih di tempat yang sama. Cat temboknya sudah berganti warna, dari putih menjadi krem, dan di halaman depan ada ayunan kecil berwarna merah yang tidak ada dulu.
Seorang perempuan membuka pintu saat Satria mengetuk.
Wajahnya familiar , tapi bukan Rania.
Adik Rania. Yang dulu masih SD waktu Satria pergi.
“Kak Satria?” Perempuan itu memandangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
“Rania ada?” tanya Satria, dan ia sendiri terkejut betapa getarnya suaranya.
Hening yang panjang. Angin bergerak di antara dedaunan pohon mangga di samping rumah. Di kejauhan, suara ayunan merah itu berderit pelan.
“Kak Rania sudah menikah,” kata adiknya akhirnya. “Dua belas tahun lalu. Sekarang di Makassar. Sudah punya dua anak.”
Satria tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk , lambat, seperti seseorang yang baru saja mendengar berita yang sudah lama ia tahu akan datang, tapi tetap tidak siap.
“Mau masuk, Kak? Ibu ada di dalam—”
“Tidak perlu,” kata Satria. “Sampaikan salam saja.”
Ia berbalik. Berjalan kembali ke jalan besar. Di belakangnya, pintu rumah itu menutup pelan.
***
Malam itu, di tepi pantai Tanjung Bira, Satria duduk sendirian dengan gitarnya.
Angin laut bertiup dari selatan. Langit penuh bintang , jenis langit yang hanya ada di tempat-tempat yang jauh dari keramaian kota, jenis langit yang membuat manusia terasa sangat kecil sekaligus sangat utuh pada saat yang bersamaan.
Ia memetik senar gitarnya. Pelan. Tanpa terburu-buru.
Nada-nada mengalir keluar seperti air yang akhirnya menemukan muaranya.
Ia menyanyikan lagu yang belum pernah ia nyanyikan di panggung mana pun : lagu yang selama dua puluh tahun ia simpan di bagian dirinya yang paling dalam, seperti batu yang terlalu berat untuk diangkat ke permukaan.
Lagu tentang seorang pengembara yang terlalu lama menunggu untuk menjadi sesuatu, sampai ia lupa bahwa menjadi ada untuk seseorang jauh lebih penting dari sekadar menjadi sesuatu.
Gelombang datang dan pergi. Datang dan pergi. Seperti harapan-harapan yang dulu ia bawa dari kota ke kota.
Di sudut matanya ada sesuatu yang menggenang , bukan air mata yang meledak, tapi jenis yang lebih menyakitkan: yang datang perlahan, yang tidak terburu-buru, yang tahu bahwa ia punya sepanjang malam untuk jatuh.
Foto Rania masih ada di saku kemejanya. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak mengeluarkannya. Bukan karena ia sudah melupakan. Tapi karena ia akhirnya mengerti bahwa beberapa kenangan lebih baik hidup di dalam dada, di tempat yang tidak tersentuh cahaya, di tempat ia tidak perlu melihatnya untuk merasakannya.
Aku kira aku berkelana untuk mencarimu, batinnya. Ternyata aku hanya berkelana untuk menghindari kenyataan bahwa aku takut tidak cukup baik untukmu. Dan sekarang, aku sudah terlambat untuk tahu apakah ketakutan itu benar atau tidak.
Angin bertiup lagi. Senar gitarnya bergetar tanpa ia sentuh , getaran kecil, seperti bisikan.
Jauh di kejauhan, ada sesuatu yang berputar di atas bukit : kincir angin tua yang entah siapa yang mendirikannya di sana, yang berputar terus menerus tanpa peduli siang atau malam, tanpa peduli apakah ada yang melihat atau tidak.
Satria menatapnya lama.
Ya, pikirnya akhirnya, dengan kedamaian yang menyakitkan namun tulus.
Mungkin memang begini akhirnya. Mungkin aku memang selalu akan menjadi prajurit nasib , pejalan yang tidak punya peperangan untuk dimenangkan, hanya jalan untuk ditempuh.
Dan malam itu, di bawah langit Sulawesi yang penuh bintang, dengan suara gelombang dan kincir angin yang berputar, Satria akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri , bukan dengan kebahagiaan, tapi dengan sesuatu yang lebih dalam dari itu: penerimaan.
Ia terus bermain gitar. Lagunya menggema ke laut.
Dan laut, tidak menjawab.
Hanya menerima.