(Narsis) Surat yang Tak Pernah Sampai
Hujan turun perlahan sore itu, seolah langit pun ikut mengingat sesuatu yang telah lama terkubur.
Di sudut sebuah stasiun tua yang nyaris terlupakan, Arman duduk sendiri, menggenggam secarik surat yang telah menguning dimakan waktu.
Nama itu masih tertulis jelas di bagian depan:
Anita.
Sudah dua puluh tahun berlalu sejak terakhir kali ia melihat gadis itu. Gadis dengan mata teduh yang selalu menyimpan harapan, bahkan ketika dunia terasa begitu kejam. Anita yang selalu percaya bahwa cinta, jika dijaga, akan menemukan jalannya kembali.
Namun Arman… ia memilih pergi.
Bukan karena tak cinta. Justru karena terlalu cinta.
Saat itu, ia hanyalah lelaki tanpa masa depan yang jelas. Tak ingin menyeret Anita ke dalam ketidakpastian, ia memilih diam, menjauh, dan membiarkan waktu yang menghapus segalanya. Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.
Namun waktu ternyata hanya memperpanjang luka.
Setiap malam, dalam sunyi yang panjang, nama Anita kembali hadir.
Dalam lagu lama yang samar terdengar di radio, dalam wangi hujan yang jatuh di tanah, dalam setiap kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Hari ini, setelah sekian lama, Arman akhirnya memberanikan diri kembali ke tempat itu—stasiun tempat mereka berpisah tanpa kata.
Ia membuka surat itu perlahan. Tangannya gemetar.
“Anita, maafkan aku karena memilih pergi tanpa penjelasan. Aku takut tak mampu membahagiakanmu. Tapi yang tak pernah aku katakan adalah… aku mencintaimu lebih dari yang bisa aku pahami sendiri.”
Kalimat itu berhenti di sana.
Tak pernah selesai. Tak pernah terkirim.
Kereta melintas perlahan, membawa suara berderak yang memecah kesunyian. Arman menatap rel panjang yang menghilang di kejauhan.
Dulu, di sinilah Anita berdiri, menatapnya dengan mata yang basah, menunggu satu kata yang tak pernah ia ucapkan.
“Jangan pergi…”
Namun Arman tetap melangkah.
Dan hari itu, ia kehilangan lebih dari sekadar seseorang: ia kehilangan bagian dari dirinya sendiri.
Seorang petugas tua mendekat perlahan.
“Sedang menunggu seseorang?” tanyanya.
Arman tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca.
“Tidak… saya hanya terlambat memahami seseorang.”
Hujan semakin deras.
Ia melipat kembali surat itu, lalu meletakkannya di bangku kayu tempat Anita dulu duduk. Seolah berharap, entah bagaimana, semesta akan menyampaikannya.
Mungkin Anita kini sudah bahagia.
Mungkin ia telah melupakan segalanya.
Namun bagi Arman, satu hal tetap abadi:
Ada nama yang tak pernah benar-benar pergi.
Anita.
Dan dalam setiap detak yang sunyi, ia masih memanggilnya… tanpa suara.