Resensi Film “Marty Supreme” : Peluru Karet di Atas Meja Kebenaran
Kota New York di era 1950-an bukan sekadar latar. Ia adalah napas, ia adalah tekanan, ia adalah aroma sampah basah di trotoar yang sengaja dibuat lembab oleh kru produksi agar para aktor merasakan grit asli kehidupan kelas bawah Manhattan.
Di sinilah Marty Supreme lahir — sebuah film yang sejak detik pertama sudah menyeret kita ke dalam pusaran hidup seorang pemuda bernama Marty Mauser, sosok yang dibuang dunia tapi menolak untuk tenggelam.
Disutradarai oleh Josh Safdie dan ditulis bersama Ronald Bronstein, film ini terinspirasi dari kisah nyata pemain tenis meja legendaris Marty Reisman melalui memoarnya yang terbit pada 1974, The Money Player: The Confessions of America’s Greatest Table Tennis Champion and Hustler.
Safdie, yang selama ini dikenal sebagai separuh dari duo Safdie Bersaudara lewat karya-karya seperti Uncut Gems dan Good Time, kini berdiri sendirian di balik kamera untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Dan pilihan itu, ternyata, menghasilkan sebuah mahkota sinema.
Timothée Chalamet memerankan Marty Mauser — seorang pemuda dengan mimpi yang tak dihargai siapa pun, yang rela menembus neraka demi mengejar keagungan.
Chalamet bukan sekadar memainkan karakter ini; ia memahat ulang dirinya sendiri. Ia mengambil pelajaran tenis meja bertahun-tahun, bahkan dikabarkan membiarkan penglihatannya memburuk sedikit demi penampilan yang lebih autentik.
Wajahnya yang biasanya bersih dan simpatik kini tampak tergerus oleh obsesi, oleh kerinduan, oleh arogansi yang menghancurkan semua orang di sekitarnya , termasuk dirinya sendiri. Dan justru di sanalah letak keindahannya: Chalamet berhasil membuat kita mencintai seseorang yang sesungguhnya tidak pantas dicintai.
Di sisi Chalamet, Gwyneth Paltrow hadir sebagai Kay Stone, seorang aktris Hollywood yang sudah melewati masa kejayaannya dan kini terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan seorang pengusaha kaya bernama Milton Rockwell.
Menurut Paltrow sendiri dalam wawancara dengan Vanity Fair, filmnya mengisahkan “perempuan yang menikah dengan seseorang yang terlibat dalam ‘mafia pingpong’.”
Ia menggambarkan hubungan antara Kay dan Marty sebagai sesuatu yang bersifat transaksional di kedua belah pihak, namun di dalamnya tersimpan kehangatan yang nyata.
Paltrow, yang lama absen dari layar lebar, menemukan kembali kedalaman aktingnya dalam peran ini — sunyi namun bergetar, rapuh namun bermartabat.
Odessa A’zion tampil memukau sebagai Rachel Mizler, kekasih masa kecil Marty yang harus menanggung akibat dari egoisme sang protagonis. A’zion memberikan penampilan yang mengesankan, meski ia kerap absen dalam rentang waktu yang panjang karena struktur film yang menempatkan Chalamet di setiap adegan.
Ketidakhadiran Rachel dalam separuh film justru terasa seperti metafora: perempuan yang selalu ada tapi selalu diabaikan, selalu dibutuhkan tapi tidak pernah dihargai.
Kejutan terbesar datang dari Tyler, the Creator — musisi rap yang dikenal dengan nama asli Tyler Okonma — yang memerankan Wally, sahabat Marty. Ia tampil memukau dalam peran ini, dan kharismanya di layar sungguh mengejutkan siapa pun yang belum pernah melihatnya berakting sebelumnya.
Lalu ada Kevin O’Leary dari acara realita Shark Tank sebagai Milton Rockwell yang memancarkan arogansi uang, Fran Drescher sebagai ibu Marty bernama Rebecca Mauser, serta sutradara cult Abel Ferrara dalam peran pendukung yang tak terduga namun tepat sasaran.
Secara visual, film ini adalah pesta keindahan yang menyakitkan. Sinematografer Darius Khondji, yang sebelumnya berkolaborasi dengan Safdie dalam Uncut Gems, mengabadikan hampir seluruh gambar menggunakan film seluloid 35mm dengan kamera Arriflex dan lensa anamorfik Panavision vintage dari seri C dan B — semuanya demi menciptakan atmosfer dekade 1950-an yang terasa nyata di kulit.
Khondji menggambarkan pendekatan visualnya seperti melihat karakter melalui teropong: sangat dekat, sangat intim, seperti mengintip jiwa seseorang dari jarak yang terlalu dekat untuk terasa nyaman.
Skor musik dari Daniel Lopatin, yang dikenal dengan nama panggung Oneohtrix Point Never, menambahkan lapisan kecemasan yang organik. Musiknya tidak menuntun emosi penonton — ia mengganggu, ia menggelisahkan, ia berada tepat di bawah kulit. Ini bukan musik latar yang menenangkan; ini adalah denyut jantung seorang pecundang yang menolak menyerah.
Para kritikus di Rotten Tomatoes menyebut film ini sebagai “kisah petualangan yang mendebarkan tentang seorang yang bukan siapa-siapa yang ingin menjadi seseorang” — sebuah perjalanan yang berlangsung seperti permainan tenis meja itu sendiri: eksplosif, tak terduga, dan didorong oleh gerakan-gerakan lincah yang dilakukan dengan semangat sekaligus ketepatan.
Tidak mengherankan bila film ini menuai pujian kritis yang luas, meraih pendapatan $179,3 juta di seluruh dunia, menjadikannya film dengan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah A24, serta masuk dalam daftar sepuluh film terbaik versi National Board of Review dan American Film Institute. Wikipedia
Di musim penghargaan, Marty Supreme mengumpulkan sembilan nominasi Academy Awards termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Aktor Terbaik untuk Chalamet. Yahoo! Chalamet bahkan lebih dulu meraih penghargaan Golden Globe dan Critics Choice atas penampilannya.
Namun — dan di sinilah kisah menjadi ironi yang indah — film ini tidak membawa pulang satu pun piala dari seluruh nominasinya di 98th Academy Awards. Bagi Chalamet, ini adalah kekalahan ketiga dalam kategori Aktor Terbaik setelah Call Me by Your Name pada 2018 dan A Complete Unknown pada 2025. Complex
Seolah semesta menegaskan sesuatu: nasib Timothée Chalamet di malam Oscar itu adalah cermin sempurna dari nasib Marty Mauser dalam filmnya sendiri. Keduanya berlari lebih cepat dari siapa pun, memukul lebih keras dari siapa pun, namun tiba di garis akhir dengan tangan kosong — dan justru kekosongan itulah yang membuat semuanya terasa begitu manusiawi, begitu nyata.
Marty Supreme bukan film yang sempurna. Ia berantakan di beberapa bagian, karakter-karakter pendukungnya sesekali terasa seperti bintang-bintang yang berkelip lalu padam sebelum kita sempat mengenalnya.
Tapi justru seperti itulah hidup berjalan: tidak semua orang yang kita temui akan tinggal cukup lama, tidak semua babak berakhir dengan jelas. Safdie tahu ini. Dan ia membangun sebuah film yang tidak berusaha menjadi lebih rapi dari kehidupan itu sendiri.
Yang paling menyentuh bukan adegan-adegan besar di atas meja pingpong. Yang paling menyentuh adalah momen-momen di mana Marty berdiri diam — di sudut ruangan, di tepi jalan, di ujung mimpi yang hampir terwujud — dan kita melihat di matanya bahwa ia tahu.
Ia tahu betapa mahal harga yang ia bayar. Ia tahu berapa banyak orang yang ia tinggalkan di dalam abu ambisinya. Tapi ia tidak akan berhenti. Karena orang seperti Marty tidak mengenal cara lain untuk hidup.
Film ini layak ditonton bukan karena ia memberi jawaban, melainkan karena ia mengajukan pertanyaan yang tepat: seberapa jauh kita rela pergi untuk menjadi sesuatu? Dan siapa yang kita tinggalkan di sepanjang jalan itu?