Catatan Dari Hati

Takbir di Atas Reruntuhan: Memaknai Idul Fitri 1447 H di Tengah Dunia yang Terluka

Pagi ini, jutaan kaki melangkah menuju lapangan dan masjid dengan baju terbaik, wajah berseri, dan takbir yang bergema membelah langit. Anak-anak berlari-lari kecil dengan amplop di tangan.

Perempuan-perempuan tua memeluk cucu mereka sambil menangis terharu. Laki-laki berjabat tangan, saling menepuk bahu, saling meminta maaf atas segala luka yang pernah tak sengaja ditinggalkan.

Inilah Idul Fitri , hari kemenangan yang datang kembali, tahun ini jatuh pada 21 Maret 2026, hadir seolah menjadi oasis di tengah padang pasir dunia yang kian gersang.

Namun di sudut lain bumi ini, suasananya sangat berbeda. Asap tebal mengepul di langit Gaza. Sirene meraung di kota-kota Ukraina. Pengungsi menatap perbatasan yang tertutup dengan mata kosong.

Menurut laporan CNBC Indonesia mengutip Institute for Economics and Peace, sebanyak 59 negara kini terlibat konflik bersenjata , jumlah terbanyak sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Nilai rata-rata Indeks Perdamaian Global telah menurun hingga 5,4 persen sejak 2008, mencerminkan betapa bumi yang kita huni ini sedang sakit serius.

Lalu, di tengah kemelut seperti inilah kita merayakan Idul Fitri. Dan justru di sinilah pertanyaan yang paling dalam mesti kita renungkan: apa sesungguhnya makna kemenangan yang kita rayakan, ketika saudara-saudara kita di belahan bumi lain tidak merasakan kedamaian yang sama?

Dunia tahun 2026 bukan dunia yang tenang. IDN Times melaporkan bahwa ketegangan global sepanjang 2025 mencapai tingkat yang jarang terjadi sejak berakhirnya Perang Dingin , dengan konflik bersenjata yang tidak lagi terbatas satu kawasan, melainkan menyebar dari Eropa Timur, Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara.

Perang Rusia-Ukraina yang memasuki tahun keempat, konflik Gaza yang melampaui 71.000 korban jiwa, ketegangan India-Pakistan yang kembali membara setelah insiden Kashmir, hingga eskalasi antara Iran dan Israel yang memicu guncangan pada pasar energi dunia , semuanya menjadikan tahun ini sebagai salah satu titik paling rapuh dalam sejarah modern.

Dampaknya terasa nyata hingga ke dapur rumah tangga kita. Bank Indonesia mencatat bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 direvisi turun menjadi 3,1 persen, sebagian besar akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia.

Konflik geopolitik, dalam bahasa sederhana, telah menggerogoti kantong rakyat biasa di mana-mana , termasuk mereka yang hari ini berusaha menyajikan ketupat dan opor ayam di meja makan keluarga.

Namun Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk menutup mata pada kenyataan. Justru sebaliknya , Ramadan yang baru saja kita lalui adalah sekolah paling intens dalam melatih empati.

Lapar yang kita rasakan selama sebulan penuh bukan semata latihan menahan diri dari makan dan minum. Ia adalah cara Allah SWT mempertemukan kita, walau sebentar, dengan perasaan jutaan manusia yang kelaparan bukan karena pilihan, melainkan karena perang dan penjajahan memutus jalur pangan mereka.

Menurut laporan situasi Gaza terkini, kematian di sana tidak hanya disebabkan serangan militer, tetapi juga kelaparan akibat blokade yang memutus bantuan kemanusiaan.

Inilah mengapa Idul Fitri tahun ini terasa berbeda — lebih berat, sekaligus lebih bermakna. Ketika kita mengucapkan “taqabbalallahu minna wa minkum,” semoga Allah menerima amal ibadah kita semua, ada dimensi yang lebih luas dari sekadar ritual antarkeluarga.

Ucapan itu adalah deklarasi bahwa kita adalah bagian dari umat yang satu, yang rasa sakitnya sama ketika satu anggota tubuh terluka. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai dan menyayangi seperti satu tubuh.” Tubuh itu kini sedang merasakan sakit yang luar biasa di banyak persendiannya.

Maka kemenangan Idul Fitri sejati bukan hanya kemenangan atas lapar dan dahaga. Ia adalah kemenangan atas nafsu yang lebih besar : nafsu untuk berdiam diri, nafsu untuk acuh tak acuh, nafsu untuk hanya merayakan kesenangan sendiri sementara saudara-saudara kita menangis.

Setiap sajadah yang kita gelar pagi ini seharusnya menjadi “landasan” doa yang melampaui batas geografis. Setiap air mata haru yang jatuh di hari raya ini hendaknya juga menyisihkan sebagian untuk mereka yang menangis di bawah langit yang berbeda.

Di Indonesia, kita memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki banyak bangsa lain. Tahun ini, Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri hadir dalam waktu yang berdekatan : sebuah simbol harmoni yang langka dan bermakna, momen di mana keheningan Nyepi bertemu dengan gegap gempita takbir Lebaran.

Dua hari raya, dua tradisi spiritual yang berbeda, namun tumbuh berdampingan di tanah yang sama. Ini bukan sekadar kalender yang kebetulan bertepatan , ini adalah cerminan bahwa bangsa kita menyimpan modal perdamaian yang seharusnya menjadi teladan dunia yang sedang lupa caranya hidup berdampingan.

Para analis konflik internasional seperti Profesor Neophytos Loizides dari Universitas Warwick memperingatkan bahwa frekuensi konflik global diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan, bukan karena tidak ada yang bisa dilakukan, melainkan karena mekanisme kolektif untuk mencegah eskalasi terus melemah.

Artinya, dunia tidak membutuhkan lebih banyak senjata , dunia membutuhkan lebih banyak manusia yang memilih jalan damai, yang mampu memaafkan, yang berani berbicara untuk kebenaran meski suaranya gemetar.

Dan di sinilah nilai Idul Fitri melampaui dimensi ritualnya. Perayaan ini bukan sekadar tentang baju baru, kue nastar, dan amplop lebaran , meski semua itu indah dan sah-sah saja.

Idul Fitri adalah deklarasi periodik bahwa manusia mampu berubah, bahwa hati yang keras bisa melunak, bahwa dendam yang telah berbulan-bulan bersemayam bisa luruh dalam satu pelukan dan satu ucapan tulus.

Jika nilai ini mampu kita hirup ke dalam jiwa, lalu kita pancangkan jauh melampaui satu hari perayaan , maka itulah revolusi yang sesungguhnya.

Ramadan mengajarkan bahwa setiap orang bisa menjadi versi terbaik dirinya. Puasa bukan hanya tentang menahan lapar , ia tentang melatih diri untuk tidak bereaksi dengan amarah ketika diperlakukan tidak adil, untuk tidak membalas ketika dicaci, untuk memilih jalan yang lebih sulit namun lebih mulia.

Dalam skala yang lebih besar, nilai itulah yang sedang dibutuhkan oleh pemimpin-pemimpin dunia yang saat ini saling berhadapan dengan senjata dan sanksi ekonomi, alih-alih bernegosiasi dengan empati.

Sebagai bangsa dengan populasi Muslim terbesar di dunia — lebih dari 240 juta jiwa — Indonesia menyimpan tanggung jawab moral yang tidak ringan. Setiap suara takbir yang berkumandang dari Sabang sampai Merauke pada hari ini bukan hanya gema kegembiraan pribadi.

Ia adalah pernyataan kolektif bahwa ada kekuatan lembut yang bisa mengimbangi kekerasan di dunia. Dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin atau Islam sebagai rahmat bagi seluruh semesta , bukan slogan yang berhenti di spanduk masjid. Ia adalah panggilan untuk hadir nyata dalam kesedihan dunia.

Maka, sambil kita memeluk orang-orang terkasih hari ini, sambil kita menyantap hidangan yang telah disiapkan dengan penuh kasih, marilah kita sisipkan doa yang lebih lebar. Doa untuk ibu di Gaza yang memeluk anaknya dalam pengungsian tanpa tahu besok ada makan atau tidak.

Doa untuk prajurit muda Ukraina yang mungkin hari ini tidak tahu apakah masih bisa melihat keluarganya. Doa untuk anak-anak di Sudan dan Myanmar yang tumbuh tanpa mengenal apa itu rasa aman. Karena doa adalah senjata orang-orang beriman, dan hati yang peduli adalah benteng peradaban.

Idul Fitri 1447 Hijriah ini adalah pengingat bahwa meski dunia bergolak, meski langit di banyak tempat dipenuhi asap perang, masih ada jutaan manusia yang memilih untuk bersujud, meminta ampun, dan bermaaf-maafan.

Masih ada yang percaya bahwa kasih sayang lebih kuat daripada kebencian. Masih ada yang yakin bahwa perdamaian bukan utopia : ia adalah pilihan yang harus dibuat setiap hari, mulai dari ruang keluarga kita sendiri.

Inilah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan kemenangan atas musuh di medan perang, melainkan kemenangan atas kegelapan yang setiap hari mengetuk pintu hati kita masing-masing.

Dan selama masih ada manusia yang memilih cahaya , di mana pun mereka berada, dalam situasi apa pun mereka berjuang , maka harapan itu tidak pernah padam.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal aidin wal faizin. Selamat Idul Fitri 1447 H.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *