Catatan Dari Hati

Resensi Film “Senin Harga Naik” : Ketika Harga yang Sesungguhnya Bukan Soal Properti, Melainkan Kasih Ibu

Musim Lebaran selalu membawa ritual yang sama di bioskop-bioskop Indonesia: keluarga berdatangan, layar menyala, dan air mata pun tumpah entah dari mana.

Namun dalam rimba film Lebaran 2026 yang diramaikan oleh banyak judul besar, satu film hadir dengan langkah yang lebih pelan, lebih rendah hati, seolah tidak membutuhkan sorak sorai — dan justru itulah yang membuatnya paling lama tinggal di dalam dada. Film itu bernama Senin Harga Naik.

Diproduksi oleh Starvision Plus dan Legacy Pictures, film berdurasi 116 menit ini disutradarai oleh Dinna Jasanti dan ditulis oleh Rino Sarjono, serta telah mendapatkan klasifikasi untuk penonton semua umur dari Lembaga Sensor Film Indonesia.

Judul yang dipinjam dari jargon dunia pemasaran properti itu mengandung ironi yang cerdas: dalam semesta kapitalisme modern, segalanya memiliki harga — termasuk hubungan yang retak antara seorang ibu dan putrinya. Tapi film ini hadir untuk membantah logika itu, dengan penuh kelembutan namun tegas.

Cerita berpusat pada Mutia (Nadya Arina), seorang gadis ambisius yang memutuskan meninggalkan rumah setelah pertengkaran hebat dengan ibunya, Retno (Meriam Bellina), seorang ibu tunggal yang membesarkan keluarganya dengan tangan besi namun hati yang sesungguhnya penuh cinta.

Konflik bermula karena Retno tidak menyetujui pekerjaan Mutia sebagai sales marketing perumahan, yang dianggap tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan Mutia di bidang farmasi.

Di sinilah luka itu bermula: bukan dari kebencian, melainkan dari dua versi kasih sayang yang berbicara dalam bahasa yang berbeda.

Sutradara Dinna Jasanti mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam mengarahkan film ini adalah membangun ketegangan yang organik di dalam rumah.

Menurutnya, Mutia dan Ibu Retno adalah representasi perempuan kuat yang kerap bentrok karena perbedaan “bahasa cinta” yang mencolok: sang ibu menunjukkan kasih melalui masakan di meja makan, sementara anak generasi kini merasa cukup dengan layanan pesan antar.

Perbedaan perspektif yang terdengar sepele ini, di tangan Dinna Jasanti, menjelma menjadi konflik yang terasa sangat nyata — seperti menatap cermin di ruang tamu rumah sendiri.

Tiga tahun kemudian, Mutia sukses meniti karier di sebuah perusahaan properti besar. Namun sebuah dilema besar muncul saat ia mendapatkan tugas penting demi promosi jabatannya: ia harus melobi pemilik toko roti legendaris bernama “Mercusuar” agar mau menjual lahannya — dan toko itu tak lain milik Retno, sang ibu yang selama tiga tahun tak pernah ia sapa.

Situasi itu bukan sekadar ironi naratif. Ini adalah tangan takdir yang menampar kita dengan halus: bahwa jalan menuju puncak karier sering kali justru memaksa kita kembali ke tempat asal dan menghadapi hal-hal yang selama ini kita hindari.

Nadya Arina — nama lengkapnya Nadya Arina Pramudita, lahir di Bandar Lampung pada 15 Oktober 1997 — adalah aktris yang sudah melewati banyak lapis pengalaman.

Namanya meroket lewat film Magic Hour (2015) dan perannya yang ikonis sebagai Catherine di sinetron Ikatan Cinta, sebelum kemudian membuktikan kualitas aktingnya sebagai pemeran utama di film orisinal Netflix A Perfect Fit (2021). Belakangan, dalam setahun ia bisa membintangi minimal tiga film, mulai dari horor Sekawan Limo (2024), hingga komedi GJLS: Ibuku Ibu Ibu (2025).

Namun dalam Senin Harga Naik, ia tampil dengan kedalaman yang berbeda. Nadya mengaku bahwa tantangan terbesar adalah membangun chemistry sebagai sebuah keluarga utuh dalam waktu singkat, namun kekhawatiran itu sirna karena ikatan antar pemain langsung terasa “klik” sejak hari pertama syuting.

Dan hasilnya terasa di layar: setiap tatapan matanya menyimpan pertanyaan yang belum terjawab, setiap langkahnya membawa beban tiga tahun yang tidak pernah benar-benar pergi.

Di hadapannya berdiri Meriam Bellina — legenda akting Indonesia bernama lengkap Ellisa Meriam Bellina Maria Bamboe, lahir di Bandung pada 10 April 1965. Ia merupakan aktris termuda kedua sepanjang sejarah perfilman Indonesia yang memenangkan Piala Citra kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik saat berusia 19 tahun pada tahun 1984 lewat film Cinta di Balik Noda, dan kembali meraih Piala Citra melalui film Taksi pada Festival Film Indonesia 1990.

Lebih dari empat dekade berkarier, Meriam membuktikan sekali lagi bahwa pengalaman panjang melahirkan keahlian yang tidak bisa dipalsukan. Meriam menjelaskan bahwa karakter Ibu Retno yang ia perankan adalah sosok yang keras dan tegas, namun ketegasan itu lahir dari kebutuhan seorang ibu yang ingin membesarkan keluarganya dengan kokoh, meski sering kali memicu kesalahpahaman di antara anak-anaknya.

Dalam setiap adegan dialognya bersama Nadya Arina, kita menyaksikan duel akting yang tidak membutuhkan kata-kata berlebihan — cukup diam, tatapan, dan helaan napas yang berat. Dialog dua aktris beda generasi ini terasa begitu nyata, mengalir, dan natural, seolah keduanya tidak sedang berakting.

Namun Senin Harga Naik bukan pertarungan dua wanita semata. Film ini diperkuat oleh deretan pemain lintas generasi yang solid: Andri Mashadi sebagai Amal, kakak sulung yang menjaga jarak emosional namun tetap peduli; Nayla D. Purnama sebagai Tasya, si bungsu yang menjadi saksi diam atas semua luka keluarga; Givina Lukita, Adam Xavier, hingga Brandon Salim sebagai Nando — pacar sekaligus rekan kerja Mutia yang menyimpan sedikit kejutan di sepertiga akhir film.

Kembalinya wajah-wajah senior seperti Hamish Daud sebagai Ruli, bos Mutia yang karismatik, serta Rianti Cartwright yang memerankan Retno muda, turut memberikan warna tersendiri dalam ansambel drama keluarga ini.

Sementara Nungki Kusumastuti sebagai Ida — asisten setia Retno sejak merintis toko roti Mercusuar — serta duo komedi Aci Resti dan Arif Alfiansyah hadir mencairkan ketegangan dengan humor yang segar tanpa terasa dipaksakan.

Andri Mashadi membocorkan bahwa adegan pertengkaran hebat antara dirinya dan Mutia dilakukan tanpa latihan khusus agar reaksinya tetap murni — tidak ada yang direkayasa, semuanya apa adanya.

Dan pilihan itu terbayar lunas. Adegan-adegan konflik dalam film ini terasa seperti menguping pertengkaran di rumah tetangga — tidak nyaman, tapi susah untuk dialihkan.

Secara sinematik, film ini memilih kehangatan visual yang rendah hati: pencahayaan alami rumah, sudut kamera yang dekat dengan wajah para pemain, dan tata suara yang tidak ingin lebih keras dari gemerisik angin di dapur Mercusuar. Musik latar dipilih dengan cermat untuk mendukung momen-momen penting, baik yang dramatis maupun yang lebih ringan, sehingga membangun keterikatan yang kuat dengan jalan cerita.

Lagu utama Saat Kau Telah Mengerti yang dibawakan Virgoun — penyanyi yang secara terbuka menyatakan bahwa konflik dalam film ini persis mencerminkan kisahnya sendiri bersama sang ibu — menjadi mahkota emosional yang menyempurnakan perjalanan menonton ini.

Senin Harga Naik menyajikan cerita yang dekat dengan kehidupan kebanyakan masyarakat Indonesia: orangtua yang terlalu dominan mengatur anak, pergulatan batin antara karier dan keluarga, hingga konflik kakak beradik dalam satu atap.

Semua konflik keluarga itu disajikan dengan detail tanpa membuat penonton lelah dalam mencerna maknanya. Ini bukan film yang akan membuat penonton bertepuk tangan karena aksi yang memukau. Ini adalah film yang akan membuat penonton menunduk saat lampu bioskop kembali menyala, karena mendadak teringat satu nama yang sudah lama tidak mereka hubungi.

Film yang awalnya dianggap sebagai “kuda hitam” di antara deretan film Lebaran 2026 yang lebih diperhitungkan ini, perlahan menemukan tempat tersendiri di hati penonton.

Itu bukan kebetulan. Itu adalah hasil kerja keras sebuah tim yang percaya bahwa kisah keluarga yang jujur — tanpa sensasi berlebihan — selalu punya jalan pulang ke dalam hati siapa pun.

Andri Mashadi menutup konferensi pers film ini dengan harapan bahwa Senin Harga Naik bisa menjadi “pencair suasana” bagi konflik-konflik terpendam dalam sebuah keluarga, terutama setelah momen saling memaafkan di hari Idul Fitri. “Mudah-mudahan bisa menjadi sebuah pencerahan atau solusi buat keluarga yang sedang tidak merasa pas,” ujarnya seperti dikutip dari Tempo

Dan rasanya, harapan itu bukan sekadar basa-basi promosi. Sebab pada akhirnya, Senin Harga Naik bukan tentang toko roti yang akan digusur. Bukan tentang promosi jabatan yang dipertaruhkan.

Bukan tentang siapa yang menang dalam perdebatan panjang antara seorang ibu dan putrinya. Film ini adalah tentang momen di mana seseorang akhirnya memilih untuk pulang — bukan karena terpaksa, melainkan karena akhirnya mengerti bahwa tidak ada karier, tidak ada jabatan, tidak ada properti di dunia ini yang mampu menggantikan kehangatan rumah yang sesungguhnya.

Dan rumah itu, selama ini, selalu ada di dalam pelukan seorang ibu yang menunggu, meski pura-pura tidak menunggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *