Surat dari Tanah yang Retak: Ketika Duka Menemukan Maknanya
Viktor Frankl, psikiater yang selamat dari kamp maut dan kemudian mengabdikan hidupnya untuk memahami penderitaan, menulis satu kalimat yang seolah dirancang untuk negeri seribu gunung api ini: “Jika hidup memiliki makna, maka penderitaan pun pasti memiliki makna.”
Kalimat itu bukan pembenaran atas luka. Ia adalah undangan untuk membaca luka sebagai teks, bukan sekadar sebagai nasib.
Selasa dini hari, 20 Februari 1979, sebuah teks semacam itu tergores di Dataran Tinggi Dieng. Rentetan gempa dangkal merobek perut bumi, dan pukul lima lebih empat menit gas karbon dioksida bertekanan tinggi membobol dasar Kawah Sinila.
Sebanyak 149 orang meninggal dan sekitar 15.000 warga terpaksa mengungsi dari kawasan barat dataran tinggi itu. Desa Kepucukan di Kecamatan Batur, Banjarnegara, dinyatakan tidak layak huni, penduduknya direlokasi dan ditransmigrasikan, lalu nama desa itu dihapus dari peta administratif dan hanya tersisa di ingatan para penyintas.
Di sebuah kamar kos di Yogyakarta, seorang penyair muda bernama Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far, yang kita kenal sebagai Ebiet G. Ade, mendengar kabar itu dan menuliskan kegelisahannya ke dalam buku catatan.
Lahirlah “Berita Kepada Kawan”, yang dirilis dalam album Camellia II pada akhir 1979. Empat puluh tujuh tahun kemudian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana sendiri mencatat lagu itu sebagai karya yang lahir dari tragedi, semacam prasasti yang dinyanyikan.
Yang membuat lagu itu abadi bukanlah kesedihannya, melainkan cara ia menolak berhenti pada kesedihan. Ebiet tidak menutup baitnya dengan ratapan, ia menutupnya dengan pertanyaan: mungkinkah alam mulai enggan bersahabat dengan kita.
Di situlah letak kejeniusannya sebagai dokumen kebudayaan. Manusia mengambil makna dari bencana melalui tiga pintu, dan ketiganya terbuka dalam lagu itu.
Pintu pertama adalah kesaksian, keberanian untuk menyebut apa yang hilang dengan nama aslinya, sebab duka yang tidak diberi nama akan mengeras menjadi trauma yang membisu.
Pintu kedua adalah solidaritas, sebab lagu itu ditujukan kepada seorang kawan, bukan kepada langit.
Pintu ketiga, yang paling sulit, adalah tanggung jawab. Bertanya “mengapa ini terjadi” hanya bermartabat bila dilanjutkan dengan “apa yang salah dalam cara kita hidup”. Tanpa pintu ketiga, kesaksian menjadi sentimentalitas dan solidaritas menjadi seremoni.
Pintu ketiga itulah yang kini paling mendesak diketuk. Pada penghujung 2025, hujan ekstrem dan longsor meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Hingga 5 Desember 2025 tercatat 867 orang meninggal, 521 hilang, dan lebih dari 835 ribu warga mengungsi di 51 kabupaten dan kota, angka yang terus membengkak menjadi 1.112 korban meninggal serta lebih dari tiga juta jiwa terdampak dengan ratusan ribu rumah rusak pada akhir bulan yang sama.
Pakar Universitas Gadjah Mada menunjuk penyebab yang tidak nyaman untuk didengar, yaitu degradasi hutan di daerah hulu daerah aliran sungai. Tahun ini pun belum melegakan. BNPB mencatat 1.514 kejadian bencana sepanjang 1 Januari hingga 17 Agustus 2026, dengan 309 orang meninggal, 13 hilang, dan 3.703.811 jiwa menderita serta mengungsi.
Kabar baiknya, kesiapsiagaan mulai membuahkan hasil di sebagian tempat, terlihat dari turunnya korban terdampak pada April 2026 sebesar 60,29 persen dibanding April 2025. Ketangguhan bukan mitos, ia hanya belum merata.
Semua ini terjadi di atas panggung ekonomi yang sedang gelisah. Dana Moneter Internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya 3,0 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027, turun dari rata rata 3,5 persen pada 2024 sampai 2025, sementara inflasi global justru direvisi naik menjadi 4,7 persen karena tren penurunan harga terhenti.
Di dalam negeri, fondasi kita relatif kokoh. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026 dengan produk domestik bruto Rp6.552,1 triliun, dan 5,45 persen secara kumulatif pada semester pertama.
Namun angka agregat menyembunyikan wajah wajah. Penduduk miskin masih berjumlah 22,93 juta orang atau 8,07 persen pada Maret 2026, dan pengangguran tercatat 7,22 juta orang pada Mei 2026.
Ketika bencana menghantam Sumatera, yang menyumbang 22,42 persen produk domestik bruto nasional, kekayaan rumah tangga menguap dalam semalam dan daya beli tergerus jauh lebih lama daripada genangan air.
Inilah tantangan pertama ke depan: bencana kini bertemu dengan ruang fiskal yang sempit, harga pangan dan energi yang labil, serta rumah tangga yang tabungannya tipis.
Tantangan kedua lebih senyap dan lebih dalam. Ia bersemayam di dada. Survei Kesehatan Indonesia 2023 menemukan dua persen penduduk berusia 15 tahun ke atas mengalami masalah kesehatan jiwa, dengan depresi, kecemasan, dan skizofrenia sebagai tiga masalah tertinggi.
Jurang layanan menganga lebar: jumlah psikiater hanya sekitar 1.053 orang dan psikolog klinis 2.917 orang, sementara 87,3 persen penyintas depresi tidak berobat.
Bila tiga juta lebih pengungsi harus pulih dengan ketersediaan tenaga sekecil itu, maka pemulihan jiwa praktis diserahkan kepada keberuntungan. Padahal duka yang tidak dirawat akan menurun ke anak cucu sebagai kecemasan yang tidak mereka pahami asal usulnya.
Maka apa yang bisa kita kerjakan, di sini, di Indonesia.
Pertama, memindahkan belanja dari menolong ke mencegah. Pemerintah telah memiliki instrumen Dana Bersama Penanggulangan Bencana melalui Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2021, yang perlu segera dibuka aksesnya sampai ke pemerintah daerah dan kelompok masyarakat, bukan berhenti di empat kementerian percontohan.
Kedua, menegakkan tata ruang dan memulihkan hulu sungai, sebab izin yang diobral di lereng bukit adalah utang yang ditagih oleh hujan.
Ketiga, memperbanyak desa tangguh bencana dengan latihan evakuasi yang rutin, bukan sekadar papan penanda. Kearifan lokal membuktikan hal ini bekerja, sebagaimana tradisi smong di Simeulue yang menyelamatkan hampir seluruh warganya pada 2004 karena pengetahuan diwariskan lewat nyanyian, persis seperti Ebiet mewariskan ingatan Dieng lewat lagu.
Keempat, dan ini yang paling sering terlupakan, jadikan dukungan psikososial sebagai perlengkapan wajib setiap posko, sejajar dengan tenda dan dapur umum. Melatih kader posyandu, guru, penyuluh agama, takmir masjid, dan pendeta sebagai pendamping awal jauh lebih realistis daripada menunggu rasio psikiater membaik dalam satu dekade.
Kelima, rawat ekonomi penyintas sejak hari pertama melalui pemulihan mata pencaharian, bukan hanya bantuan tunai sesaat, karena martabat pulih bersama penghasilan. Keenam, ubah kenangan menjadi kurikulum.
Setiap sekolah di kawasan rawan sebaiknya mengajarkan sejarah bencana daerahnya sendiri, lengkap dengan nama nama korban, agar generasi berikutnya tahu bahwa peta bukan sekadar gambar.
Bangsa ini tidak kekurangan air mata. Yang kadang kita kurang adalah kesabaran untuk mengubah air mata menjadi kebijakan. Lagu Ebiet bertahan hampir lima dekade bukan karena kita gemar bersedih, melainkan karena di dalamnya tersimpan permintaan yang belum selesai kita penuhi, yaitu agar penderitaan dibaca, bukan sekadar ditangisi.
Rumput yang bergoyang dalam lirik itu tidak pernah benar benar menjawab. Jawabannya selalu berada di tangan manusia yang masih hidup.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa Kofi Annan pernah menegaskan di Jenewa bahwa pencegahan bencana merupakan keharusan moral yang tidak kalah penting dibanding upaya mengurangi risiko perang, dan bahwa urusan ini terlalu penting untuk diserahkan kepada pemerintah serta lembaga internasional semata.
Kalimat itu terdengar seperti kelanjutan dari surat Ebiet kepada kawannya.
Kita semua adalah kawan yang dimaksud, dan surat itu masih menunggu balasan.