Bumi Berputar, Kita Berkarya: Pelajaran Ketangguhan dari Lagu Ebiet G Ade “Apakah Ada Bedanya?”
“Satu-satunya hal yang patut kita takuti adalah rasa takut itu sendiri.”
Franklin D. Roosevelt, pidato pelantikan Presiden Amerika Serikat, 4 Maret 1933
Kalimat itu diucapkan ketika Amerika Serikat terpuruk di dasar Depresi Besar, saat lebih dari 11 ribu dari 24 ribu bank di negeri itu telah tumbang dan tabungan jutaan keluarga lenyap.
Roosevelt tidak menawarkan angka pada hari itu. Ia menawarkan keberanian untuk bergerak.
Hampir enam dasawarsa kemudian, seorang penyair bergitar kelahiran Banjarnegara mengajukan pertanyaan yang jauh lebih lirih, tetapi sama tajamnya. Ebiet G. Ade menyanyikan “Apakah Ada Bedanya?”, salah satu dari delapan lagu ciptaannya dalam album Seraut Wajah yang beredar pada awal dasawarsa 1990-an.
Lagu itu tidak berteriak. Ia hanya bertanya, dan pertanyaannya terasa makin dekat justru ketika dunia sedang gaduh seperti sekarang.
Ebiet membuka lagunya dengan perbandingan yang menohok: apa bedanya berpangku tangan menanti dengan sibuk mengejar bayangan? Jawabannya getir, sebab keduanya berujung pada kehampaan yang sama.
Lalu ia menunjukkan jalan keluar yang sederhana, yaitu mengubah kerinduan menjadi lukisan. Artinya berkarya. Pada bagian lain ia mengingatkan bahwa selama bumi berputar, guncangan adalah keniscayaan, dan yang bisa kita lakukan adalah menari mengikuti ketukannya sambil menghadirkan hati di dalamnya.
Ia juga bernyanyi tentang cinta yang diserahkan seutuhnya tanpa menghitung apa yang kembali. Pada akhirnya, perjumpaan dan perpisahan baginya sama berharganya, dan yang membedakan hanyalah cara kita menghayati.
Dibaca sebagai lagu cinta, ia indah. Dibaca sebagai cermin sebuah bangsa yang sedang diuji, ia menggetarkan.
Gejolak itu kini punya nama. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia melambat menjadi 2,5 persen pada 2026 dari 2,9 persen pada tahun sebelumnya, laju terendah sejak awal pandemi, akibat konflik di Timur Tengah yang melambungkan harga energi, memanaskan inflasi, dan memahalkan biaya pinjaman.
Dana Moneter Internasional sedikit lebih optimistis dengan proyeksi 3,0 persen tahun ini dan 3,4 persen tahun depan, tetapi mengingatkan bahwa inflasi dunia kembali naik ke 4,7 persen.
Bagi Indonesia yang masih bergantung pada minyak impor, setiap guncangan di selat yang jauh pada akhirnya sampai juga ke harga cabai di pasar dan ongkos angkutan di pagi hari.
Di atas kertas, Indonesia bertahan dengan kepala tegak. Bank Indonesia melaporkan ekonomi tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026, dengan konsumsi rumah tangga naik 5,06 persen dan investasi 6,87 persen.
Menurut Badan Pusat Statistik, penduduk miskin turun menjadi 22,93 juta orang atau 8,07 persen pada Maret 2026, sementara tingkat pengangguran terbuka turun ke 4,65 persen pada Mei 2026.
Capaian itu layak disyukuri. Di belakangnya berdiri jutaan orang yang tetap bangun sebelum subuh, membuka warung, menyalakan mesin jahit, dan menolak menyerah.
Namun deretan data yang sama juga menyimpan wajah lain yang perlu kita tatap dengan jujur. Inflasi tahunan September 2026 naik ke 3,28 persen, dengan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 4,37 persen.
Rupiah melemah ke kisaran Rp17.872 per dolar Amerika Serikat pada 22 September, sementara suku bunga acuan ditahan di 5,75 persen setelah naik satu poin persentase sepanjang triwulan II. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 53.490 pekerja melaporkan pemutusan hubungan kerja sepanjang Januari sampai Agustus, 10.880 di antaranya di Jawa Barat.
Pekerja informal mencapai 87,88 juta orang pada Mei 2026, atau 59,30 persen dari seluruh penduduk bekerja. Artinya hampir enam dari setiap sepuluh pekerja menggantungkan hidup pada usaha sendiri, kerja lepas, atau membantu keluarga. Rasio Gini naik tipis dari 0,363 menjadi 0,368.
Garis kemiskinan kita pun hanya Rp669.235 per orang per bulan, kira-kira Rp22 ribu sehari. Siapa pun yang pernah berbelanja di pasar tahu betapa tipis jarak antara tidak miskin dan nyaris jatuh.
Di sinilah pertanyaan Ebiet menemukan sasarannya.
Godaan pertama adalah menunggu. Pengusaha menahan perluasan usaha sampai badai reda, lulusan baru menanti lowongan yang tak kunjung dibuka, dan pengambil kebijakan berharap harga minyak turun dengan sendirinya.
Godaan kedua adalah mengejar bayangan: terpukau pada angka pertumbuhan tanpa menengok dapur warga, tergiur jalan pintas menuju kaya, atau membakar modal demi gengsi yang tidak menghasilkan nilai.
Ebiet sudah memberi tahu kita ujung dari kedua jalan itu. Sama hampanya. Rasa takut yang melumpuhkan dan ambisi yang kehilangan pijakan ternyata bersaudara.
Jalan ketiga adalah kanvas, dan di negeri ini kanvas itu bernama usaha rakyat. Kementerian UMKM menyebut sekitar 57 juta pengusaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang 60,5 persen produk domestik bruto dan menyerap 97 persen tenaga kerja, tetapi baru menyumbang 15,7 persen ekspor nasional. Selisih antara 97 dan 15,7 itulah ruang lukis yang masih kosong.
Kabar baiknya, kuasnya sudah di tangan. Pengguna QRIS telah mencapai 65,77 juta orang dengan 44,86 juta pedagang, dan 96,68 persen di antaranya pelaku usaha kecil. Setiap pindaian kode di gerobak bakso meninggalkan jejak transaksi.
Jika bank dan koperasi bersedia membaca jejak itu sebagai dasar kelayakan kredit, pedagang yang selama ini tidak punya agunan akhirnya punya riwayat yang bisa dipercaya.
Solusi pertama, karena itu, adalah pembiayaan yang menilai orang dari kerja kerasnya, disertai pendampingan mutu dan kemitraan dengan usaha besar agar produk kampung sanggup menembus pasar dunia.
Solusi kedua menyangkut pekerjaan yang layak. Realisasi investasi semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun dan menyerap 1.448.862 tenaga kerja. Itu modal berharga, tetapi ukurannya perlu digeser dari berapa triliun yang masuk menjadi berapa keluarga yang hidupnya membaik.

Insentif sebaiknya berpihak pada industri yang banyak menyerap tenaga kerja, sementara mereka yang kehilangan pekerjaan tidak cukup hanya diberi santunan.
Mereka butuh pelatihan ulang yang tersambung dengan kebutuhan pabrik, bengkel, dapur, dan layanan digital di daerahnya. Seorang buruh garmen yang diberhentikan di Jawa Barat tidak sedang meminta belas kasihan. Ia meminta kanvas baru.
Solusi ketiga adalah belajar menari mengikuti putaran bumi. Kita tidak dapat mengatur perang di negeri orang, tetapi kita dapat mengurangi kerentanan sendiri. Pangan menjadi pendorong utama kenaikan harga, maka lumbung desa, koperasi tani, gudang pendingin, dan jalur distribusi antarpulau harus diperlakukan sebagai urusan pertahanan ekonomi.
Ketergantungan pada minyak impor perlu dikikis sedikit demi sedikit lewat tenaga surya, panas bumi, dan angkutan umum yang nyaman. Bantuan sosial perlu tepat alamat dengan data yang terus diperbarui, sebab daya beli keluarga rentan adalah bantalan pertama ketika harga melonjak.
Solusi keempat tidak tercantum di anggaran mana pun, sebab letaknya di dalam watak. Ebiet bernyanyi tentang memberi sepenuh hati tanpa menghitung balasan. Dalam bahasa leluhur kita, itu bernama gotong royong.
Siapa pun yang pernah memimpin usaha tahu bahwa keputusan paling menentukan sering lahir pada masa sempit: memangkas orang lebih dahulu atau memangkas kemewahan lebih dahulu, membayar pemasok kecil tepat waktu atau menahannya demi kas sendiri, berbagi pengetahuan dengan pelaku usaha yang lebih kecil atau membiarkannya tenggelam.
Perusahaan yang memilih merawat manusianya di masa sulit biasanya menuai kesetiaan ketika musim berganti. Kita sebagai pembeli pun memegang kuas yang sama setiap kali memilih produk tetangga dibanding barang impor yang sedikit lebih murah.
Pada bagian penutup lagunya, Ebiet menyandingkan manisnya perjumpaan dengan manisnya perpisahan.
Barangkali begitulah seharusnya kita memandang musim ekonomi. Masa tumbuh dan masa susut sama-sama guru, dan yang membedakan hanyalah cara kita menjalaninya.
Bangsa ini pernah melewati krisis 1998, guncangan 2008, dan pandemi. Setiap kali, yang menyelamatkan kita adalah jutaan tangan biasa yang terus bekerja. Maka jawaban atas pertanyaan Ebiet sesungguhnya terletak pada kita.
Menunggu dan mengejar bayangan memang tidak berbeda. Yang berbeda adalah ketika kita bangkit, mengambil kuas, dan mulai melukis hari esok bersama, dengan cinta yang tidak sibuk menghitung untung rugi.
“Kerja adalah cinta yang menjelma nyata.”
Kahlil Gibran, Sang Nabi (1923)