Dari “Sialnya” Menuju “Untungnya”: Cara Indonesia Menatap Ekonomi yang Tak Menentu
“Meski dunia penuh dengan penderitaan, dunia juga penuh dengan kemenangan atas penderitaan itu.” Helen Keller, dalam esai Optimism (1903)
Helen Keller menulis kalimat itu pada usia 23 tahun, setelah kehilangan penglihatan dan pendengaran sejak umur 19 bulan.
Lebih dari seabad kemudian, seorang penyanyi Indonesia yang kala itu baru berusia 20 tahun menyampaikan pesan serupa dengan bahasa yang jauh lebih sederhana, lewat lagu berdurasi sekitar tiga menit yang menemani banyak orang di kamar kos, di kereta pulang kerja, dan di ruang tunggu wawancara. Namanya Bernadya, dan lagunya berjudul “Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan”.
Lagu ini dirilis pada 24 Juni 2024 sebagai penutup album perdana berisi delapan lagu yang berjudul Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan. Judul album dan judul lagu penutupnya sudah bercerita.
Kalimatnya sama persis, hanya satu kata yang berganti dari “sialnya” menjadi “untungnya”, dan di antara dua kata itulah seluruh perjalanan batin terjadi. Bernadya menuturkan bahwa lagu ini lahir dari masa berat yang ia alami sendiri dan butuh berbulan-bulan untuk menemukan kata yang tepat.
Kejujuran itu sampai ke pendengar. Hingga akhir September 2024, video musiknya sudah ditonton lebih dari 34 juta kali dan lagunya diputar lebih dari 71 juta kali di Spotify. Albumnya kemudian dinobatkan sebagai album terbaik di Anugerah Musik Indonesia 2024, tetapi penghargaan yang lebih berharga barangkali datang dari para pendengar yang merasa ditemani.
Sebagai pengamat sosial budaya, saya melihat lagu ini menyentuh sesuatu yang sangat khas dalam cara orang Indonesia memaknai hidup. Kita bangsa yang gemar berkata “untung”.
Motor terserempet, untung hanya lecet. Dagangan sepi, untung masih bisa makan. Sebagian orang menyebut kebiasaan itu sikap pasrah. Bernadya memperlihatkan sisi lain.
Tokoh dalam lagunya menoleh ke belakang setelah setahun berlalu, mengakui bahwa dulu ia hanya bisa mengeluh dan terlalu yakin pada caranya sendiri, lalu menyadari bahwa berhenti sebenarnya pilihan paling gampang dan ia justru mengambil jalan yang lebih berat.
Rasa syukur di sini bukan syukur yang duduk diam. Ini syukur yang bekerja, yang tetap berpikir jernih, yang sabar menunggu kebaikan yang kadang datang terlambat.
Dan yang paling manusiawi, lagu ini tidak menyuruh kita melompati rasa sakit.
“Sialnya” diucapkan lebih dulu, baru kemudian “untungnya”.
Pesan itu terasa semakin dekat hari ini, sebab dunia sedang tidak ramah. Dana Moneter Internasional (IMF) pada Juli 2026 memperkirakan ekonomi global hanya tumbuh 3,0 persen tahun ini, lebih rendah dari rata-rata 3,5 persen pada dua tahun sebelumnya.
Perang di Timur Tengah mengguncang pasokan energi, sehingga inflasi dunia diperkirakan naik menjadi 4,7 persen dengan harga energi sekitar 25 persen di atas masa sebelum perang, sementara Bank Dunia memasang angka pertumbuhan yang lebih muram lagi, yakni 2,5 persen.
Bagi negeri yang banyak hidup dari ekspor komoditas, garmen, dan alas kaki, kabar seperti ini cepat sekali sampai ke lantai pabrik.
Indonesia, di atas kertas, tampak tangguh. Ekonomi tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 dan 5,45 persen sepanjang semester pertama, capaian paruh tahun tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,07 persen atau 22,93 juta orang, dan pengangguran terbuka pada Februari 2026 menyusut ke 4,68 persen. Semua itu layak disyukuri. Namun seperti album Bernadya, cerita yang jujur harus dimulai dari “sialnya”.
Sialnya, di balik persentase yang membaik itu masih terdapat 7,24 juta orang yang belum memperoleh pekerjaan.
Sialnya, mutu pekerjaan belum ikut membaik, sebab sepertiga pekerja belum bekerja penuh waktu, terdiri atas 25,97 persen pekerja paruh waktu dan 7,27 persen setengah penganggur, sementara rata-rata upah buruh hanya Rp3,29 juta per bulan.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, sebanyak 53.490 pekerja melaporkan kehilangan pekerjaan, dengan Jawa Barat menanggung 10.880 di antaranya.
Kelas menengah yang selama ini menopang belanja nasional menyusut dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 46,7 juta orang, sedangkan porsi pekerja informal membesar hingga hampir 56 persen.
Harga ikut merambat naik. Inflasi September 2026 mencapai 3,28 persen, dan kelompok pangan bergejolak naik lebih cepat lagi, yaitu 5,03 persen.
Seorang pejabat Kementerian Ketenagakerjaan mengingatkan bahwa kini setiap satu persen pertumbuhan hanya membuka 170 ribu hingga 190 ribu lapangan kerja, jauh di bawah kisaran 300 ribu pada satu dasawarsa silam. Kita tumbuh, tetapi belum cukup merangkul.
Deretan angka sebesar itu mudah membuat kita lupa bahwa setiap satuannya adalah manusia.
Seorang ibu penjahit di Majalaya yang pabriknya kehilangan pesanan.
Seorang sarjana baru yang sudah mengirim puluhan lamaran tanpa jawaban.
Seorang bapak pengemudi ojek daring yang menghitung ulang uang bensin tiap malam.
Mereka tidak membaca laporan IMF. Mereka hanya tahu bahwa besok pagi anak tetap harus berangkat sekolah, dan hidup, entah sialnya entah untungnya, harus tetap berjalan.
Tantangan ke depan setidaknya datang dari tiga arah. Pertama, tekanan harga energi dan pangan yang menggerus daya beli keluarga berpenghasilan pas-pasan.
Kedua, mutu pekerjaan, sebab lapangan kerja memang bertambah tetapi sebagian besar tanpa kepastian upah dan perlindungan. Ketiga, perubahan teknologi.
IMF mencatat bahwa investasi kecerdasan buatan turut menahan ekonomi dunia dari perlambatan yang lebih dalam, namun teknologi yang sama akan mengubah jenis keterampilan yang dicari.
Mereka yang tidak sempat belajar ulang akan tertinggal, dan ketertinggalan itu bisa berlangsung satu generasi.
Lalu, jalan lebih berat mana yang perlu kita pilih bersama? Dari kacamata praktisi usaha, jawabannya dimulai dengan menjaga orang tetap bekerja dan tetap belajar. Pemerintah sudah melangkah melalui program magang bagi 120 ribu hingga 150 ribu lulusan baru dengan anggaran Rp4,14 triliun, pelatihan vokasi untuk 220 ribu lulusan SMK senilai Rp2,12 triliun, serta pelatihan ulang bagi korban PHK.
Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan juga memberi uang tunai 60 persen upah selama paling lama enam bulan, disertai pelatihan dan konseling karier. Untuk menjaga daya beli, tersedia pula paket stimulus semester kedua senilai Rp26,34 triliun, termasuk bantuan pangan bagi 33,24 juta penerima.
Langkah ini perlu diperluas supaya menjangkau puluhan juta pekerja informal yang selama ini berdiri di luar pagar perlindungan, dan isi pelatihannya harus disusun bersama industri agar lulusannya sungguh terserap, bukan sekadar bersertifikat.
Dunia usaha memikul bagian yang sama besar. Siapa pun yang pernah memimpin perusahaan melewati masa sulit tahu bahwa memangkas orang adalah cara tercepat sekaligus termahal untuk berhemat, karena yang hilang bukan hanya gaji tetapi juga pengetahuan dan kesetiaan.
Penghematan sebaiknya dimulai dari proses, energi, dan pemborosan, sementara pekerja disiapkan untuk peran baru. Perusahaan besar dapat menggandeng usaha kecil sebagai pemasok, sebab UMKM menyumbang 61,9 persen produk domestik bruto dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja dari sekitar 65,5 juta unit usaha.
Ruang tumbuhnya masih lapang, karena sumbangan UMKM terhadap ekspor baru 15,7 persen, jauh di bawah Thailand yang mencapai 29 persen. Modalnya pun mulai mengalir, dengan penyaluran Kredit Usaha Rakyat hingga Juli 2026 sebesar Rp176,87 triliun atau 60,87 persen dari target.
Membantu warung, perajin, dan petani masuk ke pasar daring, memperoleh kredit yang wajar, serta menemukan pembeli baru ketika pesanan dari pasar lama mengering adalah investasi, bukan sedekah.
Industri padat karya seperti tekstil dan alas kaki perlu didampingi memperbarui mesin dan memperluas tujuan ekspor, sebab di sanalah jutaan keluarga menggantungkan nafkah.
Kemudian kita sendiri, di rumah dan di lingkungan sekitar. Gotong royong bukan semboyan usang. Koperasi, arisan modal, lumbung pangan kampung, dan kebiasaan membeli dari tetangga adalah jaring pengaman yang sudah teruji jauh sebelum istilah itu dikenal.
Bagi tiap pribadi, pelajaran dari Bernadya sederhana saja. Izinkan diri berkata “sialnya”, lalu tetap bangun esok hari. Pelajari satu keterampilan baru. Sisihkan dana darurat walau sedikit. Rawat kesehatan jiwa dan jangan malu meminta tolong. Bertahan tidak berarti diam. Bertahan berarti terus bergerak walau pelan.
Harapan itu punya dasar. Bank Indonesia masih memperkirakan ekonomi nasional tumbuh 4,9 hingga 5,7 persen tahun ini, dan IMF melihat ekonomi dunia pulih ke 3,4 persen pada 2027.
Badai tidak berlangsung selamanya.
Setahun dari sekarang, semoga kita dapat menoleh ke belakang seperti tokoh dalam lagu itu dan berkata dengan lega bahwa untungnya kita tidak berhenti, untungnya kita memilih saling menopang, dan untungnya negeri ini dihuni orang yang tahu cara mengubah keluhan menjadi langkah.
“Hidup itu seperti mengendarai sepeda. Agar tetap seimbang, kamu harus terus bergerak.” Albert Einstein, dalam surat kepada putranya, Eduard, 5 Februari 1930