Catatan Dari Hati

Resensi Film “Na Willa” : Surabaya 1960-an dan Seorang Gadis yang Percaya Dunianya Sempurna

Setiap kita pernah menjadi anak-anak. Pernah berlari di bawah langit sore tanpa beban, menikmati sensasi memasukkan tangan ke dalam karung beras di warung, atau berbaring di lantai hanya untuk memperhatikan debu beterbangan yang tampak seperti bintang-bintang kecil.

Masa itu kemudian terkubur oleh waktu, oleh tagihan, oleh rapat, oleh duka, oleh segalanya yang disebut orang dewasa sebagai “kehidupan nyata.” Namun sesekali, sebuah karya seni datang dan membuka laci kenangan itu kembali dengan tangan yang sangat lembut. Na Willa adalah salah satu karya itu.

Film drama keluarga musikal Indonesia ini disutradarai oleh Ryan Adriandhy dalam debut penyutradaraan live-action-nya, dan merupakan adaptasi dari novel populer Na Willa: Serial Catatan Kemarin karya Reda Gaudiamo yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2012. Film ini resmi rilis pada 18 Maret 2026, bertepatan dengan momentum menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H, dan diproduksi oleh Visinema Pictures dan Visinema Studios.

Ryan, yang sebelumnya mencetak pencapaian luar biasa lewat animasi Jumbo (2025), kini memilih melangkah ke wilayah sinema yang lebih nyata secara visual — namun justru lebih kompleks secara emosional.

Film ini mengisahkan Na Willa, seorang gadis kecil berusia enam tahun yang lahir dari keluarga multikultural: ibunya berasal dari Nusa Tenggara Timur, sementara ayahnya adalah keturunan Tionghoa.

Berlatar di sebuah gang di pinggiran kota Surabaya pada dekade 1960-an, melalui sudut pandang Willa yang polos dan penuh rasa ingin tahu, penonton diajak melihat dinamika kehidupan multikultural yang terasa hangat dan manusiawi.

Luisa Adreena menanggung beban yang tidak ringan sebagai pemeran utama. Ia adalah matahari yang harus menerangi seluruh semesta cerita ini — dan ia berhasil melakukannya dengan cara yang memukau. Kemampuan Luisa Adreena menjadi pusat kekuatan film ini; ia berhasil membawakan karakter Willa dengan sangat natural — lucu, cerdas, dan penuh rasa ingin tahu tanpa terasa dibuat-buat. Ekspresi wajah, gestur, proses menangis, hingga intonasi suaranya, termasuk dalam narasi voice over, terasa hidup dan mampu membangun kedekatan emosional dengan penonton. Jarang sekali kita menemukan aktris cilik yang mampu menghadirkan kesadaran penuh tentang dirinya sebagai anak-anak — bukan sekadar menirukan apa yang diminta sutradara, tetapi benar-benar menjadi Willa.

Di sekelilingnya, hadir deretan nama yang memperkuat fondasi emosional cerita. Irma Rihi sebagai Mak dan Junior Liem sebagai Pak menyuguhkan chemistry orang tua-anak yang hangat dan realistis; mereka tidak mendominasi, tetapi justru menjadi jangkar emosional bagi Willa.

Pak digambarkan sebagai pelaut yang kehadirannya lebih sering dirasakan lewat surat dan rindu daripada fisik yang nyata — dan Junior Liem mampu mengisi ruang kosong itu dengan ketenangan yang berwibawa.

Sementara Mak, yang membesarkan Willa seorang diri dengan penuh kecemasan sekaligus cinta yang tak bertepi, menjadi sosok paling kompleks dalam film ini. Ryan Adriandhy menggunakan karakter Mak sebagai medium belajar bagi penonton dewasa, sehingga ketika film berbicara soal kejujuran dan nilai-nilai kehidupan, pesan itu menyentuh dua generasi sekaligus.

Teman-teman bermain Willa pun tidak sekadar menjadi pelengkap latar. Farida (Freya Mikhayla), Budi (Ibrahim Arsenio), dan Dul (Azamy Syauqi) memberi warna lewat interaksi yang terasa alami. Mereka adalah mozaik kecil dari keberagaman Indonesia yang ditampilkan bukan dengan ceramah moral, melainkan melalui tawa, pertengkaran kecil, dan kepercayaan yang sederhana antar-anak-anak.

Kemudian hadir pula Ira Wibowo yang memerankan Nyonya Chang dengan aksen konyol yang justru terasa autentik di mata Willa, serta Melissa Karim sebagai Cik Mien pemilik kios langganan yang menjadi tempat singgah penuh kenangan, dan Putri Ayudya yang masing-masing mengisi peran di dunia orang dewasa yang mengelilingi Willa — menjaga keseimbangan antara perspektif kanak-kanak dan realita yang lebih luas.

Desain produksi dan tata kostum film ini cantik, berhiaskan warna-warni yang merepresentasikan dunia imajinatif sang tokoh utama tanpa harus secara berlebihan menentang realisme.

Sinematografi oleh Yadi Sugandi bekerja dengan cara yang sangat cerdas: sebagian karakter orang dewasa masuk ke dalam bingkai gambar hanya dari paha ke bawah, sebuah pilihan yang membuat penonton benar-benar merasakan perspektif seorang anak kecil yang selalu mendongak ke atas melihat dunia.

Ini bukan sekadar teknik visual yang manis; ini adalah pernyataan artistik tentang bagaimana film ini memandang posisinya sendiri , bahwa ia berpihak pada anak-anak, berbicara dalam bahasa mereka, dan menolak merendahkan kepolosan mereka menjadi bahan lelucon murahan.

Salah satu keputusan paling berani sekaligus indah dari Ryan adalah hadirnya elemen musikal yang terjalin dengan sempurna ke dalam alur cerita. Lagu-lagu era 60-an seperti Oh Hesty dari Lilis Suryani disisipkan dengan pas, ditambah komposisi orisinal dari Laleilmanino yang mengalir lembut sepanjang durasi.

Ada sebuah adegan di rumah sakit — yang semestinya menjadi momen paling berat dalam film — namun Ryan menghadirkannya dengan lagu yang lincah dan lirik yang menggelitik. Bagi penonton dewasa, ini mungkin terasa aneh pada awalnya. Namun kemudian kesadaran menyeruak: inilah cara Willa memproses rasa takut.

Inilah cara anak-anak mengubah duka menjadi sesuatu yang bisa dijalani. Mereka belum mengenal tragedi sebagaimana orang dewasa mengenalnya — dan film ini cukup bijak untuk tidak memaksakan definisi orang dewasa ke dalam dunia anak-anak.

Naskah episodik Ryan benar-benar memahami pola pikir anak, karena ia bukan berpura-pura atau memaksakan diri menjadi mereka, melainkan benar-benar menggali jiwa kekanakannya sendiri , ia ingat rasa nyaman kala memasukkan tangan ke dalam tumpukan kacang hijau, atau bagaimana dahulu debu yang beterbangan dari kasur nampak bak gemerlap bintang-bintang. Inilah yang membedakan Na Willa dari film anak-anak biasa yang dibuat oleh orang dewasa yang sudah terlalu lama lupa bagaimana rasanya menjadi kecil.

Cerita ini tidak mengandalkan konflik besar atau jalinan plot yang rumit. Willa tidak menghadapi penjahat, tidak perlu menyelamatkan dunia.

Konflik terbesarnya adalah rasa sepi ketika satu per satu teman bermainnya masuk sekolah, sementara ia harus tinggal di rumah karena Mak merasa mampu mendidiknya sendiri.

Dan dalam kesederhanaan itulah justru kedalaman emosional film ini berada. Hal-hal kecil yang sering dianggap biasa oleh orang dewasa justru terlihat luar biasa di mata Willa — pendekatan ini membuat film terasa hangat sekaligus menyentuh, mengajak penonton melihat kembali bagaimana masa kecil dipenuhi rasa penasaran, permainan tradisional, dan imajinasi yang bebas.

Na Willa juga berbicara tentang keberagaman tanpa perlu berpidato. Dalam gang kecil di Surabaya tahun 1960-an itu, seorang gadis berdarah campuran NTT dan Tionghoa bermain bersama anak-anak dari berbagai latar belakang.

Mereka tidak mempersoalkan perbedaan itu , karena bagi anak-anak, perbedaan belum menjadi beban yang dipaksakan oleh orang dewasa. Melalui kacamata Na Willa, perbedaan ras dan agama di masyarakat Indonesia dihadirkan secara ringan dan hangat , sebuah kondisi yang mestinya terus hidup dalam masyarakat Indonesia yang begitu majemuk.

Sebagai tontonan Lebaran, Na Willa berhasil melampaui ekspektasi genre. Ia bukan sekadar hiburan keluarga yang aman dan manis. Na Willa terasa seperti pengalaman emosional yang membuka laci kenangan masa kecil yang sederhana, tetapi begitu membekas di hati.

Penonton dewasa akan keluar dari bioskop dengan mata berkaca-kaca bukan karena kisah yang menyedihkan, melainkan karena kerinduan yang tiba-tiba menyeruak , rindu pada waktu ketika dunia masih terasa ajaib, ketika sepotong es soda dari kios Cik Mien sudah cukup membuat hari terasa sempurna.

Ryan Adriandhy telah membuktikan sesuatu yang penting: sinema Indonesia mampu hadir dengan gagasan yang matang, dengan kepekaan artistik yang tinggi, dan dengan keberanian untuk menceritakan hal-hal kecil dengan cara yang besar. Na Willa bukan hanya film , ia adalah undangan.

Undangan untuk sejenak melepaskan beban orang dewasa, duduk di lantai, dan kembali melihat dunia dari ketinggian satu meter dua puluh sentimeter, tempat di mana segalanya masih penuh dengan kemungkinan yang tak terbatas.

—-

Na Willa (2026) | Sutradara: Ryan Adriandhy | Produser: Anggia Kharisma & Novia Puspa Sari | Pemeran: Luisa Adreena sebagai Na Willa, Irma Novita Rihi sebagai Mak, Junior Liem sebagai Pak, Freya Mikhayla sebagai Farida, Azamy Syauqi sebagai Dul, Ibrahim Arsenio sebagai Budi, Melissa Karim sebagai Cik Mien, Ira Wibowo sebagai Nyonya Chang, Putri AyudyaAgla ArtalidiaMbok TunFanny Fadil | Durasi: 118 menit | Rumah Produksi: Visinema Pictures & Visinema Studios | Rating: Semua Umur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *