Dunia Sedang Berganti Wajah: Peluang Emas Konstruksi Indonesia di Tengah Pergeseran Blok Ekonomi
Sesuatu yang terasa bergeser di dunia hari ini. Bukan gempa bumi, bukan bencana alam, melainkan sesuatu yang jauh lebih diam namun jauh lebih dalam: tatanan ekonomi global sedang mengalami perombakan paling fundamental sejak berakhirnya Perang Dingin.
Kapal besar bernama globalisasi yang selama tiga dekade berlayar tanpa halangan kini menabrak ombak yang tak terduga. Perang dagang, pandemi, konflik geopolitik, dan kebangkitan politik nasionalisme di berbagai penjuru dunia telah memaksa setiap bangsa untuk bertanya ulang: siapa kawan, siapa lawan, dan di mana sesungguhnya kita berdiri?
Di sinilah industri konstruksi Indonesia menemukan dirinya berdiri di persimpangan sejarah.
Pertanyaan besar itu sedang diperdebatkan di setiap ruang diskusi ekonomi dunia: apakah kita sedang menuju deglobalisasi, yakni proses di mana negara-negara menarik diri ke dalam tempurungnya masing-masing? Atau justru yang sedang terjadi adalah pembentukan blok-blok ekonomi baru yang lebih selektif, lebih strategis, dan dalam beberapa hal lebih kuat dari globalisasi model lama?
Para pengamat mencatat bahwa yang tengah berlangsung bukan sekadar deglobalisasi, melainkan sebuah fenomena yang mereka sebut slowbalisation : perlambatan globalisasi yang tetap membiarkan integrasi ekonomi berjalan, namun dengan laju yang jauh lebih lambat dan dengan karakter yang berbeda.
Dunia tidak sedang bercerai dari keterhubungan. Ia hanya sedang memilih pasangan baru.
Dalam kurun waktu 50 hingga 60 tahun terakhir, globalisasi menjadi fondasi dunia. Setelah Perang Dunia II, banyak negara bersepakat membuat aturan bersama yang memungkinkan hubungan antarnegara berdasarkan kepastian hukum dan institusi multilateral.
Unilateralisme kembali menjadi bahasa dominan. Tarif sepihak, perang dagang, dan pembentukan blok-blok baru bukan lagi ancaman di cakrawala, melainkan kenyataan yang sudah mengetuk pintu.
Era hiperglobalisasi setelah tahun 1990-an secara umum diakui telah berakhir. Pandemi Covid-19 dan konflik geopolitik yang bergolak telah menurunkan pasar global ke peran pendukung sekunder, di balik tujuan nasional seperti kesehatan publik dan keamanan.
Namun, semua pembicaraan tentang deglobalisasi tidak boleh membutakan kita terhadap kemungkinan bahwa krisis saat ini justru dapat melahirkan globalisasi yang lebih baik — sebuah keseimbangan baru antara hak prerogatif negara-bangsa dan tuntutan ekonomi terbuka. Di sinilah letak paradoksnya yang menarik: kehancuran satu sistem sering kali menjadi rahim bagi sistem baru yang lebih tangguh.
Bagi Indonesia, momen ini bukan sekadar pergolakan yang harus dihadapi dengan dada tegak. Ia adalah peluang yang harus direbut dengan kepala dingin dan langkah yang terukur.
Ini bukan sekadar perpindahan nama dari satu daftar ke daftar yang lain. Ini adalah pernyataan geopolitik: Indonesia memilih untuk ada di jantung tatanan ekonomi baru yang sedang terbentuk.
BRICS kini menguasai 41,4 persen dari Produk Domestik Bruto global berdasarkan keseimbangan daya beli dan mencakup setengah populasi dunia. Artinya, Indonesia kini duduk di meja yang sama dengan raksasa-raksasa ekonomi yang bersama-sama membentuk separuh kekuatan produksi dan konsumsi planet ini. Untuk industri konstruksi, ini adalah kabar yang layak dirayakan, namun juga menuntut kesiapan yang serius.
Mengapa konstruksi? Karena sektor ini adalah cermin paling jujur dari kondisi sebuah peradaban. Ketika ekonomi tumbuh, gedung-gedung menjulang. Ketika investasi datang, jalan-jalan memanjang.
Ketika kepercayaan memudar, proyek-proyek terhenti. Menurut data BPS dalam publikasi Konstruksi dalam Angka 2024, sektor konstruksi menjadi penyumbang signifikan terhadap PDB nasional dan menyerap jutaan tenaga kerja di seluruh penjuru Indonesia.
Angka ini bukan sekadar statistik dingin di lembar laporan resmi. Di baliknya ada jutaan keringat: tukang batu di Sulawesi, insinyur muda di Kalimantan, mandor yang setiap hari berdiri di bawah terik matahari demi memastikan beton mengeras dengan sempurna.
Sementara data terkini dari riset pasar menunjukkan bahwa pasar konstruksi Indonesia diperkirakan akan mencapai 305,48 miliar dolar AS pada 2025 dan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan 7,5 persen untuk mencapai 438,56 miliar dolar AS pada 2030. Ini bukan angka kecil. Ini adalah ekspresi dari kepercayaan dunia terhadap kemampuan Indonesia untuk membangun dirinya sendiri.
Namun angka-angka itu hanya akan menjadi mimpi di siang bolong jika industri konstruksi tidak berhasil memposisikan diri dengan tepat di dalam peta geopolitik yang baru. Tantangan eksternal seperti perang dagang AS-Tiongkok dan konflik geopolitik tetap ada, namun fokus Indonesia pada ekspansi ekonomi digital, pengembangan sumber daya manusia, dan investasi infrastruktur mendukung ketahanan dan potensi pertumbuhan sektor konstruksi.
Khusus sektor bangunan, angkanya bahkan lebih menggembirakan: sektor bangunan diperkirakan meningkat 9,09 persen pada 2025, mencapai Rp 227,76 triliun. Di balik angka-angka ini berdiri ratusan ribu pekerja, ribuan subkontraktor, dan puluhan perusahaan BUMN konstruksi yang setiap harinya bertaruh nasib di lapangan.
Keanggotaan di BRICS membuka pintu yang selama ini hanya bisa diintip dari luar. New Development Bank (NDB) yang didirikan BRICS untuk mendanai proyek infrastruktur dan pembangunan di negara anggotanya telah mengucurkan pendanaan lebih dari 30 miliar dolar AS sejak berdiri.
Bagi Indonesia, akses ke sumber pembiayaan alternatif ini adalah oksigen segar di tengah ketatnya kompetisi pembiayaan infrastruktur global. Tidak perlu lagi selalu bersandar pada institusi Barat yang syaratnya kadang terasa seperti jebakan halus.
Namun kita harus jujur: keanggotaan dalam blok ekonomi manapun bukan tiket gratis menuju kemakmuran. Pemindahan teknologi dari negara-negara BRICS yang sudah maju dalam teknologi konstruksi, seperti Tiongkok dengan teknologi konstruksi modular dan India dengan solusi konstruksi berkelanjutan, dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas proyek konstruksi Indonesia. Tapi transfer teknologi hanya terjadi jika ada kapasitas manusia yang siap menerimanya. Dan di sinilah pekerjaan rumah terbesar kita.
Sektor konstruksi menyerap lebih dari delapan juta tenaga kerja, tetapi sebagian besar masih membutuhkan sertifikasi resmi. Program pelatihan dan sertifikasi kompetensi harus dipercepat agar produktivitas meningkat seiring kompleksitas proyek yang terus berkembang. Delapan juta orang adalah potensi yang luar biasa. Tapi potensi tanpa kompetensi adalah bara yang tidak pernah benar-benar menyala.
Di sisi lain, deglobalisasi juga membawa berkah tersembunyi bagi industri konstruksi dalam negeri: meningkatnya dorongan untuk menggunakan produk dan material lokal. Ketika rantai pasok global terganggu, ketika harga bahan impor melonjak akibat ketegangan perdagangan, kontraktor yang telah membangun ekosistem pemasok lokal yang kuat justru berdiri lebih kokoh. Nasionalisme ekonomi yang dahulu dianggap kuno kini kembali relevan, bahkan menjadi strategi bertahan yang cerdas.
Setiap kawasan industri baru adalah peluang bagi kontraktor Indonesia untuk membuktikan bahwa anak bangsa mampu membangun infrastruktur berkelas dunia tanpa perlu selalu menunggu tangan asing.
Pemerintah pun tidak tinggal diam. Pagu anggaran Kementerian PUPR tahun 2025 diperkuat hingga 116,23 triliun rupiah, dengan fokus utama pada pembangunan infrastruktur ketahanan pangan, ketahanan energi, renovasi sarana pendidikan, serta keberlanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara.
Angka ini adalah sinyal kepercayaan diri: di tengah guncangan global, Indonesia memilih untuk terus membangun.
Yang perlu dipahami oleh setiap pelaku industri konstruksi Indonesia adalah bahwa dunia tidak sedang menuju isolasi total. Peraih Nobel ekonomi Joseph Stiglitz merujuk fenomena ini sebagai “friend shoring” : mengarahkan rantai pasok ke mitra yang dipercaya, sebuah frasa yang dicetuskan oleh Menteri Keuangan AS Janet Yellen.
Globalisasi baru bukan berarti semua pintu terbuka untuk semua orang. Ia berarti pintu terbuka untuk mereka yang memilih kawan yang tepat, membangun kepercayaan yang tahan uji, dan memiliki sesuatu yang benar-benar bernilai untuk ditawarkan.
Di antara tegangan-tegangan itulah Indonesia harus lihai bergerak: tidak memilih satu blok secara membabi buta, melainkan memanfaatkan posisi strategisnya sebagai jembatan antara berbagai kepentingan.
Keanggotaan Indonesia di BRICS merupakan langkah strategis untuk memperluas kerja sama internasional, terutama dalam pengembangan industri, investasi teknologi, dan penguatan rantai pasok global, tanpa harus menutup pintu bagi mitra-mitra strategis lainnya.
Industri konstruksi adalah industri yang paling dekat dengan bumi. Ia berurusan dengan tanah, batu, baja, dan beton. Ia tidak bisa dipindahkan ke server cloud. Ia tidak bisa dialihdayakan ke negara lain karena gedung harus berdiri di sini, jembatan harus melintang di sungai kita, jalan harus membelah bukit-bukit kita. Inilah keunggulan sejati yang tidak bisa dicuri oleh arus deglobalisasi manapun: relevansi lokal yang fundamental.
Tetapi relevansi lokal itu harus diperkuat dengan kapasitas global. Kontraktor Indonesia perlu belajar membaca peta geopolitik sama cermatnya dengan membaca gambar teknis. Mereka perlu memahami bahwa tarif baja dari Amerika tidak hanya berdampak pada harga material, melainkan juga pada arah investasi, pada keputusan perusahaan multinasional untuk mendirikan pabrik di mana, dan pada akhirnya pada besarnya proyek yang tersedia untuk dibangun.
Asia semakin menjadi pusat gravitasi ekonomi dunia, dan investasi asing langsung mengalir deras ke Asia Tenggara — perusahaan-perusahaan global kini membuka kantor pusat regional mereka di kawasan ini. Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton di depan panggung yang sesungguhnya bisa ia naiki.
Deglobalisasi dan globalisasi baru bukanlah dua kutub yang saling bertentangan. Ia adalah dua sisi dari koin yang sama: transformasi. Dan transformasi selalu membuka ruang bagi mereka yang berani berubah lebih cepat dari perubahan itu sendiri.
Industri konstruksi Indonesia, dengan nilai pasar yang diproyeksikan tumbuh rata-rata 7,5 persen per tahun hingga 2030, memiliki semua modal untuk menjadi pemain utama di kawasan sekaligus menopang agenda pembangunan nasional — asalkan ia mau melangkah dengan berani, berpikir secara global, dan berakar kuat pada kekuatan lokalnya sendiri.
Dunia sedang berganti wajah. Dan di antara reruntuhan tatanan lama, Indonesia punya kesempatan untuk ikut memahat wajah dunia yang baru.
“Kita tidak bisa menyelesaikan masalah kita dengan pemikiran yang sama yang kita gunakan ketika menciptakan masalah itu.” — Albert Einstein