Ketika “Mindfulness” Bertemu Realitas: Pelajaran dari Kontroversi Maudy Ayunda di Tengah Zaman yang Tak Pernah Sepi dari Kabar Buruk
Guru Zen, Thich Nhat Hanh (1926–2022), biksu Vietnam yang sangat berpengaruh dalam memperkenalkan praktik mindfulness (kesadaran penuh) kepada dunia modern.pernah berkata, “Once there is seeing, there must be acting.”
Melihat lalu bertindak.
Kalimat pendek itu terasa seperti cermin yang tiba-tiba disorongkan ke wajah kita semua pekan ini, ketika sebuah video berdurasi beberapa menit mengguncang jagat media sosial Indonesia dan memaksa satu bangsa memperdebatkan satu pertanyaan yang jauh lebih besar daripada si pembuat video itu sendiri: siapa sebenarnya yang berhak merasa tenang?
Maudy Ayunda mengunggah video opini berjudul Mindfulness in the Age of Bad News pada 21 Agustus 2026. Isinya jujur dan, sejujurnya, sangat manusiawi.
Ia mengaku kewalahan secara emosional oleh rentetan kabar duka dari negerinya sendiri, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, gempa, sampai kebijakan yang dinilainya meleset dari sasaran.
Solusinya personal: membatasi asupan berita harian, menyaring sumber, menjaga kewarasan. Ia menyebut dirinya orang yang emosional dan mudah kepikiran, sehingga memilih menjaga jarak agar tidak menjadi disfungsional.
Tiga minggu kemudian, video itu meledak.
Warganet menyebutnya tidak peka. Satu komentar merangkum seluruh kegusaran publik dengan telak: bagi banyak orang, itu bukan sekadar berita, melainkan kenyataan yang mereka hirup setiap pagi.
Kritik lain menyinggung latar pendidikan dan pengalamannya sebagai relawan, seolah menagih janji seseorang yang pernah menyaksikan langsung wajah akar rumput.
Pada Minggu 13 September, Maudy menjawab dengan kalimat yang, ironisnya, jauh lebih tajam dan lebih bijak daripada seluruh videonya: kemampuan untuk menjauh dari berita itu sendiri merupakan sebuah keistimewaan.
Ia meminta maaf, dan kronologinya kini terdokumentasi rapi di berbagai kanal berita nasional.
Di titik itulah esai ini sebaiknya berhenti menghakimi seorang perempuan yang memilih merawat kesehatan jiwanya, dan mulai membaca amarah publik sebagai data sosial.
Sebab kemarahan itu bukan tanpa alasan aritmatika.
Angkanya berbicara. Sepanjang Januari sampai Juli 2026, luas areal kebakaran hutan dan lahan nasional menembus 202.004,30 hektare, melonjak 69 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Lonjakan paling brutal terjadi hanya dalam satu bulan, hampir 95 ribu hektare lahan terbakar sepanjang Juli saja.
Asap yang lahir dari angka itu bukan konten yang bisa digeser ke bawah.
Analisis lembaga riset udara bersih CREA memperkirakan 3.700 orang meninggal akibat polusi udara sepanjang Agustus, sekitar 1.700 di antaranya terkait asap karhutla, sementara Kementerian Kesehatan mencatat 10,6 juta penduduk di tujuh provinsi terdampak buruknya kualitas udara.
Bagi seorang anak di Kubu Raya atau Palangka Raya, asap masuk lewat celah jendela, menempel di seragam sekolah, mengendap di paru paru. Tombol untuk melewatkannya tidak tersedia di sana.
Ekonominya pun memperlihatkan wajah ganda yang membingungkan. Secara makro, perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan kedua 2026, dan tingkat pengangguran terbuka per Mei 2026 turun ke 4,65 persen dengan rata rata upah buruh Rp3,39 juta.
Kabar baik, tentu. Namun di balik grafik yang menanjak, koalisi lembaga riset independen mencatat 88.519 kasus pemutusan hubungan kerja sepanjang 2025, penyusutan kelas menengah yang menempatkan sekitar 142 juta orang dalam posisi rentan jatuh miskin, pinjaman daring yang tumbuh 25 persen menjadi Rp96,6 triliun, serta pembiayaan gadai yang melonjak 48 persen ke Rp130 triliun.
Jumlah kelas menengah sendiri menyusut dari 59,5 juta orang pada 2018 menjadi tinggal 46,7 juta pada 2025, padahal lebih dari 80 persen konsumsi nasional bertumpu pada kelompok ini bersama kelompok menuju kelas menengah.
Dari luar, negeri ini tampak tumbuh. Dari dalam rumah, banyak keluarga merasa sedang bertahan dengan menggadaikan sesuatu.
Tekanan itu diperberat cuaca dunia yang sama kelabunya. Dana Moneter Internasional memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3 persen dengan inflasi global diperkirakan 4,7 persen, dibayangi perang, harga energi, dan perdagangan yang kian terbelah.
Gelombangnya sampai ke Cikarang dan Tangerang, terasa sebagai lonjakan PHK yang menurut catatan Kemnaker mencapai 15.425 orang hanya pada Januari sampai April 2026.
Maka kegusaran warganet itu sesungguhnya kegusaran struktural yang menemukan sasaran yang terlalu mudah.
Bagi mereka yang tabungannya menipis, yang kontrak kerjanya tak diperpanjang, yang sawahnya retak, kalimat “batasi berita buruk” terdengar seperti saran memakai tabir surya kepada orang yang rumahnya sedang terbakar.
Namun kita juga keliru bila menertawakan kebutuhan menjaga jiwa. Lelah menghadapi banjir kabar buruk merupakan gejala global yang terukur. Laporan Reuters Institute mencatat 42 persen responden lintas negara kini menghindari berita, naik tajam dari 29 persen pada 2017, sementara di Indonesia media sosial melonjak 8 poin menjadi 48 persen sebagai sumber berita utama.
Kita membaca dunia lewat lini masa yang dirancang untuk memanen kecemasan.
Sementara itu, survei kesehatan mental remaja nasional menemukan satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental, setara 15,5 juta jiwa, sedangkan hanya 2,6 persen di antara mereka yang benar benar mengakses layanan konseling.
Bangsa ini sedang lelah secara kolektif, dan kelelahan itu nyata baik di ruang ber-AC maupun di gubuk beratap seng.
Di sinilah letak tantangan terbesar kita ke depan.
Bukan memilih antara waras dan peduli, melainkan menolak dipaksa memilih. Perlambatan ekonomi dunia, harga energi yang liar, dan iklim yang makin ekstrem akan terus memproduksi kabar buruk selama bertahun tahun.
Bila setiap orang yang mampu memilih lalu memutuskan menutup layar, sementara yang tidak mampu memilih dibiarkan sendirian menanggung asap dan pemutusan kerja, jurang empati akan melebar lebih cepat daripada jurang pendapatan.
Jalan keluarnya dimulai dari mengubah cara kita mengonsumsi kepedihan.
Kelelahan biasanya lahir dari paparan tanpa tindakan, bukan dari informasi itu sendiri. Karena itu setiap kabar buruk sebaiknya diakhiri dengan satu langkah kecil yang konkret, sekecil menyumbang masker untuk anak sekolah di wilayah berasap, membeli produk tetangga yang baru kehilangan pekerjaan, atau menandatangani petisi yang jelas tujuannya.
Empati yang disalurkan tidak melukai, empati yang mengendap itulah yang membakar dari dalam.
Langkah berikutnya menyangkut mereka yang bersuara besar. Figur publik dengan jutaan pengikut memegang kekuatan distribusi perhatian yang tidak dimiliki pemerintah daerah mana pun.
Kekuatan itu sebaiknya digunakan untuk memperbesar suara orang yang terdampak, bukan menggantikannya. Satu unggahan yang menautkan warga ke kanal donasi resmi, posko kesehatan, atau data resmi bencana bernilai lebih daripada seratus kalimat penyemangat.
Selanjutnya, layanan kesehatan jiwa harus berhenti menjadi barang mewah. Selama konseling hanya terjangkau oleh mereka yang mampu membayar ratusan ribu rupiah per sesi, ketenangan memang akan terus menjadi hak istimewa.
Penguatan layanan berbasis sekolah, puskesmas, dan komunitas keagamaan merupakan pekerjaan rumah yang jauh lebih mendesak daripada perdebatan di kolom komentar.
Terakhir, dan mungkin yang paling menentukan, negara wajib memastikan kabar buruk berkurang di hulunya. Kebakaran hutan yang berulang setiap tahun, seperti diingatkan para peneliti, lebih merupakan persoalan pencegahan yang belum optimal daripada takdir alam.
Studi Celios bahkan memperkirakan total biaya ekonomi dan kesehatan akibat karhutla sepanjang Januari sampai Agustus 2026 berkisar antara Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun, angka yang jauh melampaui biaya pencegahan yang selama ini dianggap mahal. Selama pencegahan lemah dan penegakan hukum tumpul, rakyat akan terus disuguhi menu duka yang sama setiap musim kemarau.
Maudy Ayunda melakukan satu hal yang patut dicatat: ia mendengar, lalu mengakui keistimewaannya secara terbuka.
Sikap itu justru menjadi pelajaran paling berharga dari seluruh polemik ini. Kesadaran diri yang jujur selalu merupakan pintu masuk menuju keberpihakan yang lebih matang.
Kita boleh menarik napas, boleh beristirahat, boleh mematikan ponsel semalam. Yang tidak boleh adalah kembali dengan mata yang sengaja dipejamkan.
Elie Wiesel, penyintas kamp maut yang kemudian menerima Nobel Perdamaian, meninggalkan peringatan yang tetap menusuk setelah empat dekade: “Neutrality helps the oppressor, never the victim.”
Ketenangan yang sejati tidak pernah berarti netral terhadap penderitaan.
Ketenangan yang sejati adalah napas yang kita ambil agar kuat menatap kenyataan lebih lama, lebih jernih, dan lebih berani.