Catatan Dari Hati

(Narsis) : Kita yang Hampir Tepat, di Waktu yang Salah

Mereka bertemu di waktu yang tidak direncanakan dan mungkin, tidak seharusnya.

Jamal mengenalnya di sebuah perpustakaan kecil di sudut kota. Hujan sore itu turun pelan, seperti sengaja memperlambat dunia.

Di antara rak buku yang sunyi, ia melihat seorang perempuan sedang membaca dengan ekspresi yang tenang, seolah dunia tidak pernah menyakitinya.

Namanya Linda.

Pertemuan pertama mereka sederhana. Hanya tentang buku yang sama, dan senyum yang tidak disengaja.

Tapi dari situlah, sesuatu mulai tumbuh, perlahan, tanpa suara.

Hari-hari berikutnya terasa lebih ringan. Mereka sering bertemu, lalu sengaja bertemu. Dari obrolan ringan, menjadi cerita panjang tentang luka, mimpi, dan harapan yang pernah nyaris padam.

Jamal menemukan dirinya pulang lebih cepat hanya untuk bertemu Linda.
Dan Linda, diam-diam mulai menunggu.

Namun, hidup tidak pernah sesederhana perasaan.

Suatu malam, di bawah lampu jalan yang redup, Linda berkata pelan,
“Aku akan pergi.”

Jamal terdiam.
“Pergi ke mana?” tanyanya, meski hatinya sudah tahu jawabannya.

“Ke kota lain. Ada seseorang yang sudah menungguku… sejak lama.”

Kalimat itu seperti hujan yang tiba-tiba berubah menjadi badai.
Jamal ingin bertanya lebih jauh, tapi ia tahu, beberapa jawaban hanya akan menambah luka.

“Kenapa sekarang?” suaranya hampir pecah.

Linda tersenyum, tapi matanya tidak.
“Karena aku baru bertemu kamu sekarang.”

Sunyi.

Mereka berdiri di antara perasaan yang tak sempat menjadi apa-apa.
Segala yang terasa benar, justru datang di waktu yang salah.

“Aku ingin tinggal,” lanjut Linda lirih, “tapi aku juga tidak bisa mengkhianati waktu yang sudah lebih dulu memilih jalan untukku.”

Jamal mengangguk pelan.

Ia mengerti, meski hatinya menolak.

Malam itu, mereka tidak saling menggenggam.
Tidak ada janji.
Tidak ada kata “tunggu aku.”

Hanya ada dua hati yang tahu, bahwa jika mereka bertemu lebih cepat… atau mungkin lebih lambat, semuanya bisa berbeda.

Hari keberangkatan tiba.

Jamal tidak datang ke bandara.

Ia memilih berdiri di tempat pertama mereka bertemu, perpustakaan kecil itu.

Membuka buku yang sama, di halaman yang sama.

Seolah berharap waktu bisa mundur sedikit saja.

Namun waktu tidak pernah menunggu siapa pun.

Beberapa pertemuan memang tidak ditakdirkan untuk memiliki akhir yang bahagia.
Bukan karena kurangnya cinta,
tapi karena semesta belum mengizinkan.

Dan di antara semua kemungkinan yang tak terjadi,
Jamal dan Linda akan selalu menjadi satu cerita:
tentang dua orang yang tepat,
di waktu yang salah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *