Diam-diam Sekarat: Karoshi dan Pertaruhan Jiwa Pekerja Modern
Pada tahun 1969, seorang pria muda berusia dua puluh sembilan tahun tiba-tiba roboh di meja kerjanya di bagian distribusi sebuah koran besar Jepang. Ia mati. Bukan karena penyakit menular, bukan pula karena kecelakaan lalu lintas. Ia mati karena kerja.
Tubuhnya menyerah setelah berminggu-minggu menanggung lembur tanpa henti, tanpa istirahat yang cukup, tanpa ruang untuk sekadar menarik napas panjang.
Kematiannya menjadi yang pertama secara resmi didokumentasikan sebagai karoshi : sebuah kata dalam bahasa Jepang yang secara harfiah berarti “kematian akibat terlalu banyak bekerja.” Sejak hari itu, kata tersebut menghantui dunia ketenagakerjaan seperti bayangan yang menolak pergi.
Setengah abad lebih berlalu, dan dunia kita berubah luar biasa. Internet hadir, telepon pintar merasuk ke setiap sudut kehidupan, pesan instan menghapus batas antara kantor dan rumah.
Namun karoshi tidak ikut pergi bersama teknologi lama. Sebaliknya, ia tumbuh lebih besar, lebih senyap, dan lebih berbahaya dari sebelumnya. Jika dulu ia hanya dikenal sebagai masalah khas Jepang, kini ia telah menjadi wabah global yang menyerang tanpa pandang negara, profesi, maupun usia.
Data berbicara dengan lantang. Menurut data yang dikompilasi oleh Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, terdapat 1.304 kasus kematian dan gangguan kesehatan terkait kerja berlebihan yang diakui secara resmi pada tahun fiskal 2024 , meningkat 196 kasus dibandingkan tahun sebelumnya.
Yang paling mengejutkan, dari jumlah tersebut 1.057 kasus melibatkan gangguan jiwa termasuk depresi , pertama kalinya lebih dari seribu kasus gangguan mental akibat kerja diakui dalam satu tahun, dengan 89 di antaranya berupa bunuh diri atau percobaan bunuh diri. Ini bukan sekadar statistik.
Di balik setiap angka, tersimpan duka seorang ibu yang tidak sempat melihat anaknya tumbuh, seorang ayah yang tidak lagi pulang ke meja makan, seorang pemuda yang mimpinya padam di bawah tumpukan deadline.
Catatan terbaru bahkan lebih memilukan. Laporan white paper tentang karoshi yang dirilis pada Oktober 2025 menunjukkan bahwa 3.780 orang mengajukan permohonan kompensasi atas gangguan kesehatan jiwa terkait pekerjaan dalam tahun fiskal 2024 — hampir tiga kali lipat dibandingkan 15 tahun lalu ketika hanya 1.181 permohonan yang diajukan.
Ini adalah tahun keenam berturut-turut rekor jumlah kasus yang diakui terus dipecahkan. Negeri Sakura tengah berhadapan dengan krisis yang makin tak terkendali, meski reformasi demi reformasi terus digulirkan.
Namun karoshi jauh melampaui perbatasan Jepang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan bahwa pada tahun 2016, jam kerja berlebihan menyebabkan 745.000 kematian akibat penyakit jantung dan stroke , meningkat 29 persen dibandingkan angka tahun 2000.
Artinya, setiap hari hampir dua ribu orang meninggal karena terlalu banyak bekerja di seluruh penjuru bumi. Lebih jauh, riset gabungan WHO-ILO yang diterbitkan dalam jurnal Environment International menegaskan bahwa bekerja minimal 55 jam per minggu dikaitkan dengan risiko stroke 35 persen lebih tinggi dan risiko kematian akibat penyakit jantung 17 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja 35 hingga 40 jam per minggu. Kerja bukan lagi semata-mata jalan menuju kemakmuran , bagi jutaan orang, ia telah menjadi jalan menuju kuburan.
Analisis global WHO/ILO yang mencakup data dari 154 negara dan lebih dari 2.300 survei menunjukkan bahwa pada tahun 2016, sebanyak 488 juta orang di seluruh dunia terpapar jam kerja panjang lebih dari 55 jam per minggu.
Beban terbesar ditanggung oleh kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara, dengan laki-laki usia menengah dan tua sebagai kelompok paling rentan. Fakta ini menempatkan jam kerja panjang sebagai faktor risiko penyakit akibat kerja terbesar di dunia , melampaui paparan bahan kimia berbahaya maupun kebisingan industri. Laporan resmi WHO menyebut kondisi ini sebagai “wake-up call” bagi seluruh pemerintahan dan dunia usaha global.
Di kawasan Asia Tenggara, wabah ini bergerak dengan diam namun konsisten. Sebuah studi yang mencakup responden dari Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Filipina mengungkapkan bahwa 63 persen karyawan di Asia Tenggara mengalami kondisi kelelahan kerja yang akut , dengan prevalensi tertinggi di Filipina, diikuti Singapura, Malaysia, dan Indonesia.
Di Singapura, survei Hustle Culture terhadap 3.000 karyawan Asia Tenggara menemukan bahwa 73 persen karyawan merasa tidak bahagia dan 62 persen mengalami kelelahan kerja yang parah.
Angka-angka ini bukan sekadar indikator ketidaknyamanan. Ini adalah tanda peringatan bahwa sistem kerja yang kita anggap normal sesungguhnya sedang menggerogoti kesehatan kolektif bangsa-bangsa.
Apa yang sesungguhnya mendorong karoshi menjadi fenomena global? Jawabannya berlapis dan saling terkait. Pertama, ada tekanan ekonomi yang memaksa pekerja untuk selalu hadir, selalu siap, dan selalu menghasilkan.
Dalam ekonomi persaingan bebas yang bergerak cepat, tercipta keyakinan kolektif yang keliru bahwa produktivitas adalah ukuran satu-satunya dari nilai seorang manusia. Ketika seseorang berhenti bekerja, ia merasa berhenti bernilai.
Survei pemerintah Jepang menemukan bahwa sekitar satu dari sepuluh pekerja menjalani lebih dari 80 jam lembur per bulan, dan satu dari lima berisiko mengalami karoshi , baik melalui stroke, serangan jantung, maupun bunuh diri akibat tekanan mental yang tak tertahankan.
Kedua, teknologi digital telah menghapus batas antara tempat kerja dan kehidupan pribadi. Telepon genggam yang selalu menyala, aplikasi pesan yang memungkinkan atasan menjangkau karyawan kapan saja, dan budaya “selalu terhubung” membuat istirahat sejati menjadi kemewahan langka.
Pekerja secara fisik meninggalkan kantor, tetapi secara mental mereka tidak pernah benar-benar pulang. WHO memperingatkan bahwa tren bekerja dari rumah yang meluas — terutama sejak pandemi COVID-19 — kian memperburuk kondisi ini, karena batas antara ruang hidup dan ruang kerja kian tidak dapat dibedakan.
Ketiga, tekanan sosial dan budaya memainkan peran besar. Di banyak masyarakat Asia, bekerja keras dianggap sebagai kebajikan tertinggi, sementara meminta bantuan psikolog atau mengambil cuti kesehatan jiwa masih dipandang sebagai kelemahan. Laporan white paper Jepang mencatat bahwa dalam masyarakat yang mengutamakan konformitas, banyak pekerja memilih menderita dalam diam daripada dianggap tidak berdedikasi dan depresi yang tak tertangani pun berujung pada tragedi yang tidak perlu terjadi.
Selain itu, fenomena pelecehan kekuasaan dan pelecehan dari pelanggan turut memperberat beban psikologis para pekerja.
Penelitian dari Japan Institute for Labour Policy and Training (JILPT) juga menunjukkan perbedaan demografis yang penting: kematian akibat kerja lebih banyak menimpa pekerja usia menengah dan tua (40-an dan 50-an), sedangkan bunuh diri akibat tekanan kerja lebih sering dialami oleh pekerja muda usia 20-an dan 30-an.
Seluruh kematian akibat kerja berlebihan melibatkan lebih dari 60 jam lembur per bulan. Generasi muda yang seharusnya menjadi tulang punggung masa depan justru paling rentan ambruk di bawah tekanan sistem yang tak berperikemanusiaan.
Sektor-sektor tertentu terbukti paling berbahaya. Survei yang dilakukan antara Oktober hingga Desember 2023 di sektor seni dan hiburan Jepang menemukan bahwa lebih dari 40 persen staf teknis dan sutradara bekerja 60 jam atau lebih dalam seminggu, sementara 60 persen sutradara dan produser hanya mendapat satu hari libur atau bahkan kurang setiap minggunya. Di sektor kesehatan, kondisi tidak berbeda jauh — para tenaga medis yang bertugas merawat orang lain justru paling minim dirawat oleh sistem tempat mereka bekerja.
Dunia tidak tinggal diam. Forum Ekonomi Dunia mencatat bahwa Jepang kini tengah memimpin transformasi budaya kerja melalui adopsi teknologi dan kebijakan yang lebih humanis , dari pembatasan jam lembur oleh perusahaan besar seperti Toyota, hingga pengenalan kecerdasan buatan untuk memantau kesehatan pekerja secara real-time.
Di Eropa, model kerja empat hari dalam seminggu mulai menuai hasil menjanjikan. Uji coba di Inggris yang melibatkan puluhan perusahaan menunjukkan bahwa 92 persen peserta memilih melanjutkan model tersebut secara permanen setelah menyaksikan peningkatan produktivitas dan kesehatan karyawan.
Indonesia pun mulai bergerak dengan langkah yang patut diapresiasi. Kementerian Badan Usaha Milik Negara Indonesia memulai uji coba kerja empat hari pada Juni 2024 dan secara resmi mengadopsinya pada Januari 2025 , sebuah langkah bersejarah yang menandai pergeseran paradigma dalam dunia kerja nasional.
Program bernama Compressed Work Schedule ini memungkinkan pegawai menyelesaikan kewajiban kerja 40 jam dalam empat hari, dengan opsi yang memerlukan persetujuan atasan, dan merupakan respons langsung terhadap kekhawatiran atas kesehatan mental generasi muda.
Inisiatif Indonesia ini juga selaras dengan tren regional yang sedang tumbuh di negara-negara seperti Jepang, Belgia, Jerman, dan Inggris yang telah lebih dahulu mengadopsi model serupa.
Kajian dari Slasify mencatat bahwa ketika karyawan cukup istirahat dan merasa bahagia, mereka justru cenderung menghasilkan lebih banyak dalam waktu yang lebih singkat — membuktikan bahwa humanisme dan produktivitas bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Namun solusi tidak bisa hanya berhenti pada jam kerja. Perubahan yang sesungguhnya harus dimulai dari budaya, kepemimpinan, dan cara pandang kita terhadap manusia di tempat kerja.
Para pemimpin organisasi perlu memahami bahwa karyawan bukan sumber daya yang bisa dieksploitasi tanpa batas : mereka adalah manusia utuh dengan kebutuhan akan istirahat, makna, dan koneksi yang bermakna.
Pemimpin yang secara aktif mendorong cuti diambil, yang menegaskan bahwa tidak ada pesan yang perlu dijawab tengah malam, dan yang menciptakan ruang psikologis yang aman bagi karyawan untuk berbicara tentang kelelahan mereka, adalah pemimpin yang sesungguhnya membangun organisasi yang berkelanjutan.
Kajian ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Lancet menegaskan bahwa perubahan nyata memerlukan kolaborasi antara pemberi kerja dan pekerja, serta yang paling mendasar, perubahan regulasi dan penegakan standar jam kerja yang lebih ketat di tingkat pemerintahan.
Di tingkat individu, kita perlu menormalisasi seni berhenti sejenak , bukan sebagai kekalahan, melainkan sebagai strategi bertahan yang cerdas. Istirahat bukan lawan dari produktivitas; ia adalah bahan bakarnya.
Seorang musisi tidak bisa bermain indah tanpa jeda antar nada. Seorang pelari tidak bisa memenangkan maraton tanpa mengatur napas di setiap kilometer. Begitu pula manusia, kita membutuhkan ruang kosong agar bisa terus berkarya dengan penuh.
Tinjauan komprehensif dari PMC Global Karoshi Research menegaskan bahwa langkah paling mendasar yang bisa dilakukan individu adalah mengenali tanda-tanda awal kelelahan kronis dan berani mencari bantuan sebelum tubuh yang lebih dulu memaksa berhenti.
Kesehatan jiwa di tempat kerja bukan isu lunak yang bisa ditunda. Ia adalah isu strategis yang berdampak langsung pada produktivitas, inovasi, dan daya saing bangsa.
ILO memperkirakan bahwa hampir 1,9 juta jiwa melayang setiap tahun akibat penyakit dan cedera terkait pekerjaan dan ribuan kematian itu sesungguhnya dapat dicegah. Direktur Jenderal WHO sendiri pernah menyatakan: “Mengejutkan melihat begitu banyak orang yang secara harfiah dibunuh oleh pekerjaan mereka.”
Setiap nyawa yang hilang adalah kehilangan yang tidak bisa dikembalikan oleh lembar kerja manapun, atau oleh bonus kinerja berapapun.
Riset dari National Institute of Public Health Jepang mengingatkan kita bahwa meskipun jumlah kematian fisik akibat kerja berlebihan menunjukkan tren menurun berkat berbagai regulasi, jumlah bunuh diri akibat tekanan kerja justru stagnan bahkan cenderung meningkat.
Ini berarti kita berhasil menyelamatkan tubuh, tetapi gagal menyelamatkan jiwa. Reformasi jam kerja saja tidak cukup jika stigma terhadap masalah kesehatan jiwa belum berhasil kita runtuhkan.
Karoshi bukan takdir. Ia adalah pilihan kolektif yang bisa kita ubah bersama. Forum Ekonomi Dunia menegaskan bahwa karena kelelahan akibat kerja kini secara resmi diakui oleh WHO sebagai kondisi kesehatan yang sah, respons global terhadap krisis ini bisa menjadi cetak biru bagi terciptanya tempat kerja yang lebih sehat di seluruh dunia.
Di era global yang tak pernah berhenti ini, justru kemampuan untuk berhenti — untuk beristirahat, merawat diri, dan kembali dengan energi yang diperbarui — adalah salah satu kompetensi paling berharga yang bisa dimiliki seorang manusia.
Dunia tidak membutuhkan pekerja yang mati demi pekerjaan. Dunia membutuhkan manusia yang hidup sepenuhnya, yang berkarya dari tempat yang penuh semangat dan bermakna , bukan dari tempat yang penuh ketakutan dan kelelahan.