Catatan Dari Hati

Dari Lagu Duka Menjadi Nyala Harapan: Indonesia di Tengah Dunia yang Tidak Pasti

“Anda tidak bisa menghubungkan titik demi titik dengan melihat ke depan. Anda hanya bisa menghubungkannya dengan menoleh ke belakang.”

Steve Jobs, pidato wisuda Universitas Stanford, 12 Juni 2005

Kalimat itu diucapkan Steve Jobs di hadapan ribuan wisudawan, tidak lama setelah ia sendiri berhadapan dengan penyakit yang nyaris merenggut hidupnya.

Empat belas tahun kemudian, pesan serupa datang dari arah yang tidak terduga, yaitu sebuah lagu pop berdurasi tiga menit yang dinyanyikan dengan suara hampir berbisik.

“Memories” dirilis Maroon 5 pada 20 September 2019. Adam Levine menulisnya untuk Jordan Feldstein, manajer band sekaligus sahabatnya sejak kecil, yang wafat mendadak pada Desember 2017.

Video musiknya direkam dalam satu kali pengambilan gambar. Layar hanya menampilkan wajah Levine yang beberapa kali terdiam menahan haru, lalu ditutup dengan tulisan tangan sederhana berisi persembahan bagi sang sahabat.

Melodinya pun bukan melodi baru. Lagu ini berpijak pada Canon in D karya Johann Pachelbel dari abad ke-17, seakan menegaskan bahwa hal yang paling menguatkan kita sering kali justru warisan dari masa silam.

Lagu yang lahir dari duka pribadi itu kemudian menjadi milik semua orang. Pada akhir 2020, tahun ketika dunia kehilangan begitu banyak nyawa dan pekerjaan, “Memories” bertengger di peringkat delapan tangga lagu tahunan Billboard Hot 100.

Jutaan orang yang tidak pernah mengenal Feldstein ikut menyanyikannya untuk ayah, ibu, sahabat, atau rekan kerja yang telah pergi.

Maknanya bisa dibaca dalam tiga lapis. Lapis pertama adalah kejujuran terhadap kehilangan. Lagu ini tidak berpura-pura tegar. Ia mengakui bahwa setiap orang pernah dan akan terluka. Lapis kedua adalah rasa syukur.

Di sela duka, kita diajak menoleh kepada mereka yang masih duduk semeja dengan kita hari ini. Lapis ketiga, dan inilah yang terpenting, kenangan diperlakukan sebagai bara, bukan rantai. Ia tidak menahan langkah. Ia menghangatkan dan menerangi jalan.

Mengapa lagu tentang duka layak dibicarakan bersama angka pertumbuhan? Sebab ekonomi pada dasarnya juga kisah tentang kehilangan dan bertahan. Dunia hari ini sedang kehilangan sesuatu yang mahal, yaitu kepastian.

Dalam pembaruan Juli 2026, Dana Moneter Internasional memperkirakan ekonomi global hanya tumbuh 3,0 persen tahun ini. Lembaga itu juga menaikkan perkiraan inflasi dunia menjadi 4,7 persen, sementara pertumbuhan perdagangan global melambat ke 3,5 persen dari 5 persen pada 2025, di tengah perang di Timur Tengah yang mengguncang harga energi.

Indonesia berdiri cukup tegak di tengah guncangan itu. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026. Pekan ini Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan Indonesia tahun 2026 menjadi 5,2 persen, setelah paruh pertama tahun ini tumbuh 5,4 persen dan menjadi rata-rata dua triwulan terkuat sejak 2022. Namun laporan yang sama mengingatkan bahwa kegiatan ekonomi dalam negeri mulai melambat, tercermin dari indeks manufaktur yang turun ke 49,3 pada Agustus.

Di balik angka yang membesarkan hati itu, terselip cerita yang lebih sunyi. Inflasi September 2026 mencapai 3,28 persen, dengan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 4,37 persen. Bagi keluarga yang separuh penghasilannya habis di dapur, angka itu terasa setiap kali berbelanja ke pasar.

Tingkat pengangguran memang turun menjadi 4,68 persen, tetapi itu berarti 7,24 juta orang masih belum terserap pasar kerja. Mereka yang bekerja pun belum tentu lega, sebab rata-rata upah buruh hanya Rp3,29 juta per bulan.

Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 53.490 pekerja melaporkan pemutusan hubungan kerja sepanjang Januari hingga Agustus 2026, dan sekitar seperlimanya tinggal di Jawa Barat. Kemiskinan turun ke 8,07 persen, capaian yang patut disyukuri, tetapi 22,93 juta saudara kita masih hidup di bawah garis kemiskinan yang besarnya Rp669.235 per orang per bulan.

Di sinilah “Memories” berbicara. Lagu itu mengajarkan bahwa di balik setiap kehilangan selalu terdapat wajah dan nama. Statistik pemutusan hubungan kerja bukan sekadar deret angka. Ia adalah seorang ayah di Bandung yang pulang lebih awal dan belum tahu cara menyampaikan kabar itu kepada anaknya.

Ia adalah seorang ibu di Tangerang yang menghitung ulang uang belanja sampai larut malam. Kebijakan ekonomi yang baik lahir dari kesediaan mengingat wajah seperti itu.

Tantangan ke depan setidaknya tiga. Dunia yang makin terbelah akan terus mengirim gelombang harga energi dan pangan ke dapur kita. Lapangan kerja yang layak tumbuh lebih lambat daripada jumlah pencari kerja. Kelompok yang berada sedikit di atas garis kemiskinan sangat mudah tergelincir kembali ketika harga naik atau pekerjaan hilang.

Jalan keluarnya tidak perlu dicari jauh. Ia tersimpan dalam ingatan kita sendiri. Bangsa ini pernah melewati krisis moneter 1998 dan pandemi 2020, dan pada kedua masa itu penyelamatnya adalah warung, bengkel, perajin, petani, serta dapur umum yang digerakkan tetangga.

Ingatan itu kini memiliki angka. Sekitar 57 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang 60,5 persen produk domestik bruto dan menyerap 97 persen tenaga kerja. Memperkuat mereka berarti memperkuat rumah tempat sebagian besar rakyat bekerja. Pembiayaan murah perlu berjalan bersama pendampingan, pembukuan yang rapi, dan pintu ekspor yang lebih lebar, agar usaha kecil tidak selamanya kecil.

Teknologi sudah membuka jalannya. Bank Indonesia mencatat pengguna QRIS mencapai 65,77 juta orang hingga Juni 2026 dengan 44,86 juta pedagang, dan 96,68 persen di antaranya pelaku UMKM. Setiap pembayaran itu meninggalkan catatan. Catatan itulah yang semestinya menjadi dasar bank menilai kelayakan pinjaman, agar pedagang kecil tidak lagi ditolak hanya karena tidak memiliki agunan.

Bagi negara, tugas terdekat adalah menjaga harga pangan dengan membenahi produksi dan distribusi di daerah, lalu memastikan bantuan sosial tiba pada keluarga yang benar membutuhkannya.

Pekerja yang kehilangan pekerjaan memerlukan lebih dari santunan. Mereka memerlukan pelatihan ulang yang terhubung langsung dengan lowongan nyata, supaya masa menganggur menjadi masa belajar.

Bagi dunia usaha, pemutusan hubungan kerja selayaknya menjadi pilihan terakhir setelah penghematan lain ditempuh. Perusahaan besar dapat menggandeng usaha kecil sebagai pemasok, sehingga pertumbuhan mengalir sampai ke gang sempit.

Bagi kita masing-masing, bekalnya sederhana, yakni menyisihkan dana darurat sekecil apa pun, mempelajari satu keterampilan baru setiap tahun, berbelanja di warung tetangga, dan menghidupkan kembali koperasi serta arisan sebagai jaring pengaman yang paling dekat.

Semua itu sesungguhnya satu sikap yang sama dengan pesan lagu tadi. Kita menghormati apa yang telah hilang, mensyukuri siapa yang masih bersama, lalu melangkah dengan terang dari bara kenangan.

Gotong royong bukan slogan usang. Ia adalah ingatan bersama bangsa ini tentang cara bertahan, dan ingatan itu terbukti berkali-kali menyelamatkan kita.

Sembilan puluh tiga tahun lalu, ketika negerinya terpuruk dalam krisis ekonomi terdalam sepanjang sejarahnya, seorang presiden berdiri di tengah udara dingin Washington dan mengucapkan kalimat yang masih bergema hingga hari ini.

“Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah rasa takut itu sendiri.”

Franklin D. Roosevelt, pidato pelantikan Presiden Amerika Serikat, 4 Maret 1933

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *