Catatan Dari Hati

CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN TUJUH

Tiga minggu pertama di Jakarta, Made menghabiskan waktunya dengan dua hal: melamar pekerjaan, dan mencari Andini.

Keduanya sama-sama sulit.

Lamarannya diterima oleh sebuah perusahaan konsultan manajemen di kawasan Sudirman.

Pekerjaan yang cukup : kata paling menyedihkan dalam kamus Made.

Sementara mencari Andini, ia melakukannya dengan dua cara sekaligus: cara manusia dan cara yang lain. Menghubungi teman-teman lama. Menelusuri informasi. Dan di malam-malam tertentu, ketika kelelahan menurunkan pertahanannya, ia juga membiarkan inderanya bekerja.

Hasilnya selalu sama. Kabut putih yang tebal dan hangat. Seperti dinding yang tidak bisa ditembus.

Pak Hasan pernah menjelaskan fenomena itu suatu malam di Makassar, ketika Made datang dengan pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya.

“Cinta itu frekuensi yang paling kuat, Made. Kalau hatimu sudah terikat dengan seseorang — dan hatinya juga terikat, meski ia tidak menyadarinya — maka kemampuanmu tidak bisa menerobos ikatan itu dari luar. Itu bukan kegagalan inderamu. Itu justru bukti bahwa cintamu bukan sekadar keinginan. Ia sudah menjadi bagian dari struktur jiwamu.”

Made tidak sepenuhnya mengerti waktu itu.

Tapi pagi di sebuah warung kopi dekat kantornya, ia mulai paham.

Ia sedang membaca koran ketika telinga batinnya menangkap sesuatu. Bukan gambar. Bukan kata. Lebih seperti nada , satu nada tunggal yang bergema di ruang paling sunyi di dalam dirinya.

Ia mendongak.

Di sudut warung itu, seorang perempuan muda sedang berbicara di telepon dengan punggung menghadapnya. Rambut panjangnya terikat setengah. Blazer abu-abu yang sedikit kusut.

Made tidak bisa melihat wajahnya.

Tapi nada itu semakin kuat. Bukan gambar masa depan, bukan kilasan apapun , hanya kehadiran. Seperti dua garpu tala yang beresonansi karena bergetar pada frekuensi yang sama.

Bukan, ia menahan dirinya keras-keras.

Jangan asumsikan. Kamu di Jakarta , kota dua puluh juta orang. Rindu bisa membuatmu mendengar hal yang tidak ada.

Tapi inderanya tidak pernah menipu seperti itu. Inderanya dingin dan tidak sentimentil. Yang sentimentil hanyalah interpretasinya.

Ia menatap punggung perempuan itu.

Perempuan itu menutup teleponnya, bangkit, berbalik …

Tepat saat itu, seorang pelayan lewat dengan nampan penuh, menghalangi pandangannya dua detik.

Ketika nampan itu berlalu, perempuan tersebut sudah berjalan ke pintu, membelakanginya lagi. Langkahnya cepat. Dan dalam hitungan detik, ia melebur ke dalam kerumunan trotoar.

Made duduk terpaku.

Nada itu — resonansi aneh itu — pelan-pelan memudar seiring jarak yang bertambah.

Andini?

Atau kerinduannya yang telah menumpuk terlalu lama hingga mewujud menjadi sesuatu yang terasa nyata?

Ia tidak tahu. Dan ketidaktahuannya itulah yang paling menyiksa , karena Made terbiasa tahu. Tapi untuk satu nama ini, inderanya selalu bungkam.

Malam itu, ia mengetik kepada Tuan Putri Malam:

dark-knight : Pernah tidak, kamu merasa sangat dekat dengan seseorang yang kamu cari — tapi ketika kamu mau meraihnya, sesuatu selalu menghalangi?

tuan-putri-malam : Pernah. Sangat sering. Kenapa?

dark-knight : Aku mungkin hampir menemukannya hari ini. Tapi aku tidak yakin.

tuan-putri-malam : Kalau kamu hampir yakin, itu sudah cukup. Keberanian bukan soal kepastian — tapi soal berani melangkah meski tidak yakin sepenuhnya.

Made memandang layar itu lama.

Siapa kamu, Tuan Putri Malam? pikirnya , bukan untuk pertama kalinya, dan pasti bukan untuk terakhir. Dan mengapa rasanya seperti berbicara dengan seseorang yang sudah lama berada dalam frekuensi yang sama denganku?

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *