Catatan Dari Hati

CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KEDUAPULUH LIMA

Hari terakhir Putry di Jakarta.

Made mengantarnya ke Stasiun Gambir. Andini menyusul belakangan, berlari-lari kecil, sampai tepat ketika kereta tinggal dua puluh menit lagi.

“Hampir tidak keburu,” kata Andini sambil mengatur napas.

“Aku sudah bilang kamu pasti datang,” kata Putry sambil tersenyum.

Mereka duduk bertiga di bangku panjang di depan pintu keberangkatan.

Di tangan Putry, kanvas kecil terbungkus kertas coklat , lukisan pertamanya.

“Kalian jaga diri,” kata Putry. Matanya memandang keduanya bergantian. “Dan jaga satu sama lain.”

Made mengangguk.

Andini tidak langsung menjawab.

Ia menatap Putry — perempuan yang baru benar-benar ia kenal dalam beberapa minggu terakhir — dan merasakan sesuatu yang sulit ia namai. Sejenis rasa hormat. Sejenis rasa terima kasih.

“Putry. Aku ingin bilang terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk tidak membenci aku. Kamu punya alasan untuk itu. Dan kamu tidak melakukannya.”

Putry memandangnya lama. Lalu tersenyum , senyum yang seluruhnya nyata.

“Benci kamu buat apa. Kamu tidak melakukan apa-apa yang salah, Andini. Hati orang tidak bisa dipesan sesuai keinginan kita.” Ia mengangguk kecil. “Dan kalau boleh jujur, setelah aku bertemu kamu langsung, aku jadi mengerti kenapa dia tidak bisa melupakanmu.”

Andini tidak tahu harus berkata apa. Made di sebelahnya juga diam.

Pengumuman berbunyi , kereta menuju Bandung siap diberangkatkan.

Di depan pintu, Putry memeluk Made lebih dulu.

“Jadilah bahagia,” bisik Putry.

“Kamu juga,” balas Made.

Lalu Putry memeluk Andini. Andini membalasnya sepenuhnya dan tulus.

“Kalau kamu ke Bandung, kabari.”

“Pasti.”

Putry melangkah ke dalam pintu.

Sebelum sepenuhnya menghilang, ia berbalik , melambaikan tangan, tersenyum. Wajahnya memancarkan sesuatu yang keduanya bisa rasakan dari jarak itu: kelegaan seseorang yang sudah memilih jalannya sendiri dan merasa damai dengan pilihan itu.

Pintu menutup.

Made dan Andini berdiri berdampingan, memandang kepergian itu.

“Dia luar biasa,” kata Andini akhirnya.

“Iya,” kata Made. “Sangat luar biasa.”

Mereka berbalik bersama, melangkah keluar dari Gambir ke malam Jakarta yang sudah gelap. Di luar, langit yang jarang cerah ini malam itu menampilkan bintang-bintang yang tidak terhalang awan.

“Mau pulang?” tanya Made.

Andini menatap langit sebentar. “Tidak terburu-buru.”

“Mau jalan-jalan dulu?”

“Mau makan es krim dulu. Ada yang jual di dekat sini?”

Made terkekeh. “Pasti ada.”

Mereka berjalan bersama.

Tidak bergandengan tangan , belum.

Tapi jarak di antara mereka sudah tidak seperti jarak antara dua orang asing.

Dan Made, yang selama bertahun-tahun sudah terbiasa mengandalkan gambaran-gambaran yang datang tanpa diundang, indera yang bekerja tanpa izin, firasat yang hadir sebelum kejadian, malam itu memilih untuk tidak menggunakannya.

Tidak mencari gambaran tentang apa yang akan terjadi setelah ini. Tidak membaca ke depan. Tidak mencuri ketenangan dari sesuatu yang belum tiba.

Hanya ini. Hanya trotoar Gambir yang ramai. Hanya bintang-bintang yang hari ini memilih untuk terlihat. Hanya seseorang di sampingnya yang melangkah dengan ritme yang perlahan-lahan menjadi sinkron dengan langkahnya.

Pak Hasan, bisiknya dalam hati. Kamu tidak salah. Cara yang paling manusiawi ternyata juga cara yang paling indah.

Di sebelahnya, Andini menatap bintang yang sama. Dan tanpa ia rencanakan, tanpa ia instruksikan kepada dirinya sendiri, jarinya bergerak sedikit , sedikit saja ,  ke arah tangan Made yang berayun di sampingnya.

Made merasakannya. Inderanya tidak perlu bekerja untuk itu , cukup kulitnya, cukup kehangatan yang menjalar dari jarak setipis udara.

Ia tidak langsung menggenggam. Ia hanya membiarkan tangannya bergerak sedikit ke arah yang sama.

Dan di antara dua telapak tangan yang belum sepenuhnya menyentuh itu — dalam ruang tipis yang hangat di antara keduanya — ada sebuah cerita yang sedang mulai ditulis.

Bukan oleh pre-kognisi. Bukan oleh firasat.

Oleh keberanian.

Ada cinta yang tumbuh pelan, seperti pohon di tanah berbatu. Tidak cepat. Tidak mudah. Tapi akarnya dalam. Dan ketika ia akhirnya berbunga — bunga itu tidak mudah gugur.

Bukan jalan pulang yang mulus. Bukan jalan pulang yang lurus. Tapi itu jalan pulang yang sesungguhnya — Yang melewati persimpangan, yang melewati kehilangan, yang melewati orang-orang baik yang mencintai kita dengan cara yang tidak bisa kita balas.

Yang penting adalah: kamu menemukan arahnya kembali. Dan kamu berani berjalan.

Tanpa melihat ke depan. Hanya ke depan.

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *