Catatan Dari Hati

Ketika Persahabatan Menjadi Satu-satunya Jimat di Kaki Gunung Klawih

Keberanian sejati tidak selalu lahir dari keberanian itu sendiri. Kadang ia lahir dari ketidakpunyaan pilihan lain. Dan di sinilah Bayu Skak, sang sineas sekaligus bintang dari tanah Jawa Timur, membangun kembali semestanya yang hangat, kocak, dan kadang membuat dada terasa sesak oleh campuran haru dan tawa yang menggelitik.

Sekawan Limo 2: Gunung Klawih resmi tayang di seluruh bioskop Indonesia sejak 27 Mei 2026. Film ini merupakan kelanjutan langsung dari Sekawan Limo (2024) yang berhasil menyedot lebih dari 2,5 juta penonton dan menempatkan dirinya dalam jajaran 50 film Indonesia terlaris sepanjang masa. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah cerminan betapa masyarakat Indonesia haus akan cerita yang terasa dekat, yang berbicara dalam bahasa mereka sendiri, yang tertawa dengan cara yang mereka kenali.

Diproduksi oleh Starvision bersama Skak Studios dan Legacy Pictures, film berdurasi 122 menit ini kembali disutradarai oleh Bayu Skak dengan skenario ditulis oleh Nona Ica. Kolaborasi keduanya kembali menghasilkan sebuah karya yang, meski tidak sempurna, memiliki roh yang sulit ditiru.

Kisah dibuka tiga tahun setelah kejadian mencekam di Gunung Madyopuro. Lima sekawan, yakni Bagas, Lenni, Juna, Andrew, dan Dicky, kembali berkumpul dalam sebuah reuni yang awalnya begitu menghangatkan hati. Tawa, cerita lama, dan kenangan bersama mengisi ruangan itu.

Namun ketenangan itu runtuh seketika ketika keluarga Andrew terancam menjadi tumbal pesugihan dari Gunung Klawih, sebuah gunung mistis yang terinspirasi dari kisah nyata di kawasan Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Tanpa pikir panjang, kelima sahabat itu melangkah lagi ke dalam gelap, bukan karena mereka tidak takut, melainkan karena mereka tidak sanggup membiarkan salah satu dari mereka menghadapi maut sendirian.

Di sinilah inti emosional film ini berdenyut: persahabatan sebagai kekuatan paling purba yang manusia miliki.

Bayu Skak kembali memerankan Bagas dengan kelincahan yang sudah menjadi tanda tangannya. Ia adalah YouTuber, komedian, aktor, sekaligus sutradara yang lahir dari semangat bercerita tanpa pretensi berlebihan. Di balik kamera, ia memimpin. Di depan kamera, ia bermain dengan santai namun penuh presisi. Bayu tahu persis kapan harus membuat penonton tertawa dan kapan harus membiarkan keheningan berbicara.

Nadya Arina sebagai Lenni menghadirkan ketegasan perempuan Jawa yang tahu diri namun penuh kasih. Ia bukan sekadar pelengkap dalam formasi lima sekawan. Lenni adalah penyeimbang, suara akal sehat di tengah kekacauan yang kerap meledak dari rekan-rekannya.

Namun bintang sesungguhnya dalam film ini adalah Benidictus Siregar sebagai Juna. Hampir sepanjang durasi film, Beni menjadi pusat komedi yang nyaris tak pernah meleset. Reaksinya yang berlebihan menghadapi situasi absurd, ekspresi wajahnya yang autentik, dan timing-nya yang tajam membuat setiap adegannya terasa seperti pertunjukan tersendiri. Ketika Juna menghilang ke dunia demit, film seolah kehilangan sebagian napasnya, dan itu justru membuktikan betapa karakter ini memegang peranan vital dalam keseluruhan energi cerita.

Indra Pramujito sebagai Andrew mendapat porsi drama yang jauh lebih besar dibanding film pertama. Karakter ini harus menanggung beban sebagai tokoh yang keluarganya terancam, sekaligus menyimpan rahasia masa lalu yang kelam. Indra memerankannya dengan kepala dingin dan nuansa emosi yang cukup meyakinkan.

Firza Valaza sebagai Dicky tampil sebagai rekan komedi yang solid bagi Beni. Keduanya membentuk duo yang saling melengkapi, seperti garam dan merica dalam masakan Jawa Timur yang terasa tidak sempurna tanpa keduanya hadir bersama.

Deretan pemain pendukung turut memperkaya semesta film ini. Cak Kartolo, seniman legendaris Jawa Timur, hadir sebagai dukun dengan aura yang mampu membuat bulu kuduk berdiri sekaligus bibir tertarik untuk tersenyum. Ferry Salim memerankan ayah Andrew dengan wibawa yang terasa alami.

Gisella Anastasia tampil sebagai Yu Chen, karakter yang berkaitan langsung dengan lapis cerita paling berat dalam film ini. Sementara Joshua SuhermanBrandon Salim, dan Jihane Almira Aruna menambah keramaian dengan kehadiran yang terasa organik di tengah kekacauan Gunung Klawih. Ellea Candice memerankan Angel, putri Andrew yang menjadi titik awal ledakan konflik. Dayu Wijanto hadir sebagai Oma, tokoh kecil namun berkesan.

Yang membuat Sekawan Limo 2 berbeda dari kebanyakan film horor Indonesia adalah keberaniannya mengangkat isu yang jarang disentuh secara eksplisit dalam genre ini. Film ini menyinggung tragedi sosial 1998 dan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa sebagai akar dari praktik pesugihan yang terjadi di Gunung Klawih. Gagasan itu ambisius dan menyentuh, memberikan lapisan emosional yang membuat film ini terasa lebih dari sekadar tontonan hiburan biasa. Ketika sejarah kelam dihadirkan dalam bingkai fiksi horor, ia menjadi cara bercerita yang unik tentang luka kolektif bangsa yang belum sepenuhnya sembuh.

Pesan moral yang disampaikan pun langsung dari hati sang sutradara. Seperti yang diungkapkan Bayu Skak sendiri, “ojo nggolek dalan pintas” atau jangan mencari jalan pintas adalah inti dari seluruh kisah ini. Di era media sosial yang mempertontonkan kilau kesuksesan orang lain setiap detik, godaan untuk memotong jalan menjadi lebih nyata dari sebelumnya. Film ini tidak menggurui. Ia hanya bertanya dengan lembut: seberapa jauh kita rela menjual diri demi sesuatu yang instan?

Dari sisi kualitas produksi, Sekawan Limo 2 menunjukkan peningkatan yang nyata dibanding film pertamanya. Sinematografi lebih matang, visual lokasi gunung dan dunia demit terasa lebih imersif berkat tata artistik serta penggarapan rias yang lebih serius. Penggunaan bahasa Jawa yang dipertahankan sepanjang film juga menjadi kekuatan tersendiri yang memberi roh pada setiap dialog. Ini bukan hanya soal keaslian. Ini adalah pernyataan bahwa cerita daerah pun layak berdiri tegak di layar lebar nasional.

Tentu film ini bukan tanpa cela. Naskahnya belum sepenuhnya mampu menyeimbangkan antara drama, komedi, dan horor. Durasi film terasa cukup panjang, sementara konflik utamanya baru benar-benar berjalan setelah hampir satu jam pertama. Beberapa karakter terasa belum dimanfaatkan secara maksimal. Dan seperti yang diakui beberapa pengulas, gagasan besar soal tragedi 1998 itu sedikit terasa menggantung, seperti kalimat yang belum mendapat titik di tempat yang tepat.

Namun justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat film ini terasa manusiawi. Seperti persahabatan yang sesungguhnya, ia tidak selalu rapi. Ia tidak selalu tahu apa yang harus dikatakan. Tapi ia selalu datang ketika dibutuhkan.

Lebih dari 30.000 tiket penayangan perdana pada 27 Mei habis terjual melalui sistem penjualan tiket awal, sebuah capaian yang berbicara lebih keras dari ulasan manapun. Masyarakat Indonesia tidak hanya menonton. Mereka merayakan. Mereka merayakan cerita mereka sendiri, dalam bahasa mereka sendiri, tentang nilai-nilai yang mereka jaga dalam keseharian.

Sekawan Limo 2: Gunung Klawih adalah bukti bahwa sinema Indonesia tidak harus berkiblat ke mana-mana untuk menemukan kekuatannya. Kadang cukup dengan duduk melingkar bersama lima sahabat yang saling percaya, tertawa bersama hal-hal yang menakutkan, dan melangkah maju meski dengkul gemetar.

Di ujung film ini, ketika cahaya bioskop kembali menyala, ada sesuatu yang tertinggal di dalam dada. Bukan rasa takut. Bukan juga semata tawa. Melainkan sebuah keinginan sederhana yang sangat manusiawi: untuk menelepon sahabat lama dan mengatakan, aku ada untukmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *