Ayah yang Pulang: Merawat Kehadiran di Tengah Badai Zaman
“Vater werden ist nicht schwer, Vater sein dagegen sehr.” (“Menjadi ayah tidaklah sulit, namun menjadi ayah sejati sungguh sulit.”) — Wilhelm Busch, penyair dan pelukis Jerman, dari puisi Julchen (1877).
Kalimat itu menggantung seperti lonceng tua yang berdentang pelan setiap kali kita memperingati Hari Ayah Sedunia.
Tahun ini, dunia kembali menundukkan kepala penuh hormat pada Minggu, 21 Juni 2026, mengikuti tradisi panjang yang menetapkan peringatan tersebut pada pekan ketiga bulan Juni. Sejarahnya bermula dari sebuah ruang gereja sederhana di Spokane, Washington, Amerika Serikat.
Seorang perempuan bernama Sonora Smart Dodd duduk mendengarkan khotbah tentang Hari Ibu, lalu hatinya bertanya lirih: mengapa para ayah tidak memiliki harinya sendiri? Pertanyaan itu lahir dari pengalaman paling personal.
Ayahnya, William Jackson Smart, seorang veteran Perang Saudara, membesarkan enam anak seorang diri setelah sang istri berpulang.
Dari kerinduan seorang anak pada perjuangan ayahnya itulah perayaan pertama digelar pada 19 Juni 1910, sebelum akhirnya diresmikan menjadi undang-undang nasional di Amerika Serikat oleh Presiden Richard Nixon pada tahun 1972.
Indonesia memiliki kisahnya sendiri yang tak kalah menyentuh. Hari Ayah Nasional kita lahir dari sebuah pertanyaan sederhana dalam acara Hari Ibu di Solo pada tahun 2014, ketika seorang peserta bertanya apakah negeri ini punya hari khusus untuk para ayah.
Dari Kota Bengawan itu, gagasan Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi tumbuh hingga 12 November ditetapkan sebagai Hari Ayah Indonesia. Maka kita sesungguhnya punya dua momen untuk satu sosok yang sama, dua kesempatan untuk mengucapkan terima kasih yang kerap tertahan di ujung lidah.
Namun di balik bunga dan kartu ucapan, ada luka senyap yang menganga lebar di rumah-rumah kita. Inilah ironi yang harus kita berani sebut. Hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025 yang dirilis Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional mencatat bahwa 25,8 persen keluarga Indonesia yang memiliki anak mengalami kondisi fatherless, sebuah istilah yang berarti minimnya kehadiran ayah, baik secara fisik maupun secara emosional.
Artinya, satu dari empat anak Indonesia tumbuh besar dengan sosok ayah yang nyaris menjadi bayangan. Bahkan analisis Litbang Kompas atas data Survei Sosial Ekonomi Nasional menemukan sekitar 15,9 juta anak berpotensi tumbuh tanpa pengasuhan ayah, dan menempatkan Indonesia pada urutan ketiga negara dengan kondisi tersebut di dunia.
Di antara jumlah itu, 11,5 juta anak sebetulnya tinggal seatap dengan ayah mereka, hanya saja sang ayah bekerja lebih dari enam puluh jam dalam sepekan, sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah ketimbang bersama buah hatinya.
Mengapa luka ini begitu dalam? Sebagai seorang yang menggeluti psikologi, saya melihat akarnya bukan pada niat buruk para ayah, melainkan pada tekanan zaman yang menggencet bahu mereka.
Para psikolog klinis dalam kajian Litbang Kompas menyebut bahwa selain perceraian, salah satu penyebab utama adalah ayah yang harus bekerja jauh dari rumah demi sesuap nasi. Ketika lapangan kerja di daerah menipis, seorang ayah terpaksa merantau, dan jarak fisik perlahan menjelma menjadi jarak hati. Tekanan ekonomi kerap memicu stres dan konflik, yang berujung pada ayah menarik diri dari kehangatan keluarganya sendiri.
Di sinilah tantangan ke depan menjadi semakin pelik di tengah situasi perekonomian yang berdenyut tak menentu. Di permukaan, angka-angka tampak menggembirakan. Badan Pusat Statistik melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan pertama 2026, pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Akan tetapi, di balik kilau itu tersimpan sinyal yang harus dibaca dengan hati-hati. Sebagian besar dorongan tersebut bersifat musiman, ditopang momentum Ramadan dan Idulfitri serta stimulus pemerintah yang sementara sifatnya. Nilai tukar Rupiah sempat melemah ke kisaran Rp17.346 per dolar pada akhir April, sementara Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi cukup dalam sepanjang awal tahun.
Yang paling menyentuh nurani, sepanjang tahun 2025 tercatat 88.519 pekerja terkena pemutusan hubungan kerja menurut data Kementerian Ketenagakerjaan. Setiap satu angka dalam statistik itu adalah seorang ayah yang pulang ke rumah dengan kepala tertunduk, memikul rasa malu dan kekhawatiran tentang bagaimana esok hari anak-anaknya akan makan.
Bayang-bayang itulah tantangan sesungguhnya. Ketika seorang ayah kehilangan pekerjaan, ia bukan hanya kehilangan penghasilan, melainkan juga sebagian rasa percaya dirinya sebagai pelindung. Tekanan finansial mengubah meja makan menjadi medan keheningan yang canggung.
Anak-anak yang seharusnya mendapat pelukan justru menyaksikan ayah yang gelisah dan mudah tersulut. Kondisi psikologis anak yang kekurangan sosok ayah, yang dalam kajian disebut father hungry, terbukti meningkatkan kerentanan terhadap rasa rendah diri, kesulitan mengatur emosi, hingga pencarian sosok teladan di luar rumah yang belum tentu membawa pengaruh baik. Inilah harga jangka panjang yang jauh lebih mahal daripada sekadar angka pertumbuhan.
Lantas, solusi apa yang bisa kita tawarkan dalam konteks Indonesia?
Pertama, kita perlu menggeser paradigma lama yang menempatkan ayah semata-mata sebagai pencari nafkah. Kehadiran emosional tidak menuntut biaya. Memasak makanan kesukaan, menemani anak mengerjakan tugas, atau sekadar mendengarkan cerita harinya, semua itu adalah investasi yang nilainya tak terukur rupiah.
Pemerintah telah memulai langkah baik melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia yang dirintis Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, termasuk ajakan sederhana namun bermakna agar para ayah hadir mengambil rapor anaknya di sekolah. Gerakan semacam ini perlu didukung dan diperluas hingga ke tingkat desa.
Kedua, dunia kerja dan kebijakan publik harus lebih ramah keluarga. Perusahaan dapat mempertimbangkan cuti ayah yang memadai, jam kerja yang lebih manusiawi, serta budaya yang tidak memuja lembur sebagai tanda dedikasi.
Negara, di sisi lain, perlu memastikan pemulihan ekonomi tidak hanya bersandar pada momentum musiman, melainkan membuka lapangan kerja yang stabil di daerah agar para ayah tak perlu lagi memilih antara mencari nafkah dan menyaksikan anaknya tumbuh.
Ketiga, kita perlu membangun ruang dukungan psikologis bagi para ayah yang sedang terpuruk, baik melalui komunitas, tempat ibadah, maupun layanan kesehatan jiwa, agar tekanan ekonomi tidak berubah menjadi luka yang diwariskan ke generasi berikutnya.
Pada akhirnya, Hari Ayah bukanlah tentang seberapa mahal hadiah yang kita berikan, melainkan tentang kesediaan untuk hadir, benar-benar hadir, di tengah rumah sendiri.
Sebab seorang anak tidak pernah meminta ayah yang sempurna. Ia hanya meminta ayah yang pulang, yang mendengar, yang menatap matanya dan berkata bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Di tengah badai ekonomi yang menerpa, mungkin justru di situlah keberanian sejati seorang ayah diuji, yaitu pada kemampuannya tetap menjadi tempat berteduh meski dirinya sendiri sedang basah kuyup.
Maka pada peringatan tahun ini, marilah kita rayakan bukan sekadar sosok yang gagah dan tak pernah goyah, melainkan sosok yang berani lembut, yang berani pulang, dan yang berani mencintai dengan kehadiran. Karena seperti pesan abadi seorang tokoh dunia:
“Seorang ayah adalah seseorang yang menggendongmu di pundaknya dan membiarkanmu melihat dunia lebih luas daripada yang ia lihat sendiri.” — sebuah perenungan yang mengingatkan kita bahwa warisan terindah seorang ayah bukanlah harta, melainkan cara ia mengajari anaknya memandang dunia dengan penuh harapan.