Catatan Dari Hati

Nurani yang Menolak Diam: “The Social Reckoning” dan Harga Sebuah Kejujuran

Enam belas tahun silam, The Social Network menutup kisahnya dengan seorang pemuda kesepian yang berulang kali memuat ulang layar, menanti jawaban pertemanan dari perempuan yang pernah ia sakiti.

Gambar itu melekat di kepala saya sampai hari ini, sebab ia merangkum sebuah zaman: kita menciptakan mesin untuk saling terhubung, lalu justru semakin sendirian di hadapannya.

Kini Aaron Sorkin, penulis naskah film tersebut, kembali ke dunia yang sama lewat The Social Reckoning, yang tayang di bioskop Amerika Serikat sejak 9 Oktober 2026. Kali ini ia tidak hanya menulis, ia juga duduk di kursi sutradara untuk keempat kalinya, dan pertanyaan yang ia bawa jauh lebih berat. Bukan lagi siapa pemilik sebuah gagasan, melainkan siapa yang menanggung akibatnya.

Jawaban film ini bernama Frances Haugen. Diperankan Mikey Madison, ia adalah pekerja muda di Facebook yang perlahan menyadari bahwa tempatnya mencari nafkah menyimpan sesuatu yang busuk. Sorkin memusatkan cerita pada keputusan perusahaan mengubah algoritma demi menaikkan keterlibatan pengguna, sebuah perubahan yang ternyata menyuburkan kebencian dan pikiran ekstrem.

Frances lalu mempertaruhkan kariernya dengan menyerahkan dokumen internal perusahaan kepada Jeff Horwitz, wartawan Wall Street Journal yang dimainkan Jeremy Allen White.

Dari kerja sama itulah lahir rangkaian laporan yang kelak dikenal dunia sebagai Facebook Files. Di sela kisah mereka, film berulang kali berpindah ke ruang lain yang dingin dan senyap, tempat Mark Zuckerberg versi Jeremy Strong berlatih menghadapi sidang Senat tahun 2021.

Madison adalah jantung film ini. Setelah meraih Oscar lewat Anora, ia bisa saja memilih peran yang lebih berkilau. Ia justru memilih perempuan biasa dengan pekerjaan biasa, yang keberaniannya tidak datang dengan dentuman, melainkan tumbuh perlahan dari rasa tidak tenang yang enggan pergi.

Itulah yang paling menyentuh saya dari sosok Frances. Ia bukan pahlawan yang lahir dengan jubah. Ia seorang pegawai yang tahu persis apa yang akan hilang jika ia bicara, yaitu penghasilan, nama baik, mungkin juga rasa aman, dan tetap memilih bicara.

Para kritikus yang berbeda pendapat tentang filmnya pun nyaris seia sekata bahwa Madison adalah bagian terbaiknya dan pantas kembali masuk bursa penghargaan. Dalam kisah tentang mesin raksasa yang mengolah miliaran manusia menjadi angka, kehadirannya mengingatkan bahwa perubahan selalu berawal dari satu orang yang tidak sanggup lagi menutup mata.

Hubungan Frances dan Jeff menjadi sumber tenaga cerita. Keduanya tidak langsung saling percaya. Sang wartawan butuh berita, sang narasumber butuh jaminan bahwa pengorbanannya tidak akan percuma, dan dari tarik ulur itulah Sorkin memeras dialog cepat yang sudah menjadi tanda tangannya.

Madison dan White melahap setiap kalimat dengan gairah, saling menyela, saling menguji, sampai rasa curiga itu pelan berubah menjadi hormat. Alurnya bergerak seperti kisah detektif, ketika dua orang ini menyusuri bagaimana suka, komentar, dan tombol bagikan menggiring pengguna ke sudut paling gelap dari sebuah layanan yang mereka pakai setiap hari.

Bagi saya, inilah surat cinta Sorkin kepada kerja wartawan, pekerjaan sunyi yang menuntut kesabaran memeriksa lembar demi lembar, jauh dari sorak sorai, dan sering kali dibayar dengan ancaman.

Di seberang mereka berdiri Jeremy Strong. Ia memainkan Zuckerberg sebagai kaisar yang terkurung di istananya sendiri, dikelilingi para pembisik yang hanya berani mengiyakan, seorang pria kikuk yang memaksa dirinya tampil seperti manusia di depan kamera.

Tafsir ini sengaja dibuat kaku, nyaris seperti mesin, dan tidak semua penonton akan menyukainya.

Namun saya menemukan kepedihan di sana. Sorkin tidak menggambar penjahat bertanduk. Ia menggambar seseorang yang begitu lama mendengar gema suaranya sendiri sampai lupa bagaimana rasanya dibantah.

Bill Burr, pelawak yang di sini tampil sebagai penasihat utama sang pendiri, mencuri perhatian setiap kali berhadapan dengan Strong, sementara Wunmi Mosaku dan Betty Gilpin memberi bobot pada setiap adegan yang mereka singgahi.

Tentu film ini tidak tanpa cela, dan kejujuran menuntut saya menyebutkannya. Sorkin sang penulis masih seorang empu, tetapi Sorkin sang sutradara belum memiliki mata setajam David Fincher.

Gambarnya kerap terasa datar, kegemarannya pada gaya panggung membuat beberapa bagian tampak kuno, dan musik Alexandre Desplat tidak pernah menggigit seperti denyut dingin gubahan Trent Reznor dan Atticus Ross dulu.

Babak penutup yang bernada kemenangan juga terasa janggal, sebab kita semua tahu dunia di luar gedung bioskop tidak berubah sebanyak itu. Sebagian kritikus bahkan menilai judulnya keliru, karena perhitungan yang dijanjikan tidak pernah sungguh terjadi. Penilaian pun terbelah.

Saat tulisan ini disusun, hanya sedikit di atas separuh kritikus di Rotten Tomatoes yang memberi nilai baik, sedangkan penonton umum menyambutnya jauh lebih hangat.

Meski begitu, saya menolak anggapan bahwa film ini datang terlambat. Benar, kita sudah tahu hampir semua yang diungkapnya. Kita tahu linimasa dirancang agar kita marah, sebab orang yang marah lebih lama menatap layar.

Kita tahu, lalu kita tetap menggulir. Justru di situlah letak ngerinya, dan di situlah film ini menemukan alasannya untuk hadir. Ia tidak sedang membongkar rahasia. Ia sedang menggugat rasa kebas kita.

Lewat mulut Frances, film ini melontarkan pertanyaan sederhana yang terus terngiang lama setelah lampu menyala: seberapa sulit sebenarnya membuat mereka yang berkuasa mengubah apa yang sedang mereka kerjakan?

Bagi kita di Indonesia, negeri yang warganya termasuk paling betah menatap layar, pertanyaan itu tidak terasa jauh. Kita pernah merasakan sendiri bagaimana kabar bohong meretakkan grup keluarga, bagaimana musim pemilihan mengubah tetangga menjadi lawan, bagaimana remaja belajar membenci tubuhnya dari gambar yang tidak pernah nyata.

Maka nilai terbesar The Social Reckoning bukan pada kecanggihan teknisnya, melainkan pada keyakinannya yang nyaris keras kepala bahwa kebenaran masih layak diperjuangkan, walaupun yang kalah sering kali adalah mereka yang jujur.

Selama satu jam lima puluh dua menit, Sorkin mengajak kita berpihak pada orang kecil yang berani, dan keberpihakan semacam itu makin langka di layar lebar hari ini.

Film ini tidak sempurna, kadang terlalu banyak berkhotbah, kadang terlalu yakin pada kepandaiannya sendiri. Tetapi ia punya hati, dan hati itu berdegup keras.

Pada akhirnya karya brilian ini menjelma melebihi batasan mediumnya, ia bukan sekadar kritik atas tatanan sosial yang timpang, melainkan sebuah pelukan sarat makna bagi kemanusiaan kita yang kadangkala terasa babak belur.

Mahakarya sinematik ini kembali mengingatkan kita pada poin esensi paling fundamental dari keberadaan spesies manusia di muka bumi, yaitu kebutuhan mutlak tak terbantahkan untuk mencintai orang lain dan dicintai seutuhnya, untuk sudi melihat serta dilihat eksistensinya secara murni tanpa pretensi apa pun.

Di tengah kebisingan berbagai tontonan komersial yang sungguh cepat berlalu dari ingatan kolektif kita, sajian puitis ini berhasil menancapkan akarnya sangat dalam pada lahan sanubari terdalam kita semua.

Ia hadir menuntut sebuah pencerahan kesadaran sekaligus berjanji memberikan jalan penyembuhan bagi jiwa yang lelah. Tontonan ini merupakan sebuah monumen perayaan atas daya tahan mental jiwa kemanusiaan yang enggan padam.

Jika film pertama berakhir dengan seorang pemuda yang menunggu layar memberinya jawaban, film ini berakhir dengan ajakan yang berbeda: angkat wajahmu dari layar, lihat orang di sebelahmu, dan tanyakan apa yang telah kita biarkan terjadi.

Saya keluar dari kisah ini dengan dada sesak sekaligus menyala.

Sesak karena sadar betapa sedikit yang berubah. Menyala karena masih percaya bahwa satu suara, bila cukup berani, mampu membuat sebuah kerajaan gemetar.

Tontonlah, lalu bicarakan dengan orang yang Anda sayangi. Barangkali perhitungan yang sesungguhnya memang tidak pernah terjadi di ruang sidang, melainkan di meja makan kita sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *