Catatan Dari Hati

Menanam Harapan di Tanah yang Diuji: Refleksi Hari Pangan Sedunia 2026

“Jika Anda menginginkan perdamaian, tegakkan keadilan, tetapi pada saat yang sama olahlah ladang agar menghasilkan lebih banyak roti; jika tidak, tidak akan ada perdamaian.” Norman Borlaug, peraih Nobel Perdamaian 1970, dalam kuliah Nobel-nya di Oslo.

Setiap butir nasi yang kita suap pagi ini menyimpan sebuah perjalanan panjang. Ia lahir dari punggung petani yang membungkuk sejak subuh, dari air irigasi yang dibagi bergiliran di pematang, dari doa seorang ibu di desa agar harga gabah tidak jatuh saat panen raya.

Hari ini, 16 Oktober, dunia kembali memperingati Hari Pangan Sedunia, hari lahirnya Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada 1945.

Tahun ini FAO memilih tema Innovate today. Nourish tomorrow., berinovasi hari ini untuk menghidupi hari esok. Tema itu terasa seperti panggilan langsung kepada bangsa agraris seperti Indonesia, yang sedang berdiri di persimpangan antara kebanggaan dan kewaspadaan.

Kabar dari panggung dunia sebetulnya memberi sedikit kelegaan. Laporan SOFI 2026 yang dirilis lima badan PBB mencatat jumlah orang yang kelaparan turun menjadi sekitar 645 juta jiwa atau 7,8 persen penduduk bumi pada 2025, lebih rendah dibanding 8,6 persen pada 2022.

Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu bahkan menyebut tiga tahun berturut-turut penurunan itu sebagai bukti bahwa kelaparan bukanlah takdir. Namun di balik angka yang membaik, luka tetap menganga.

Sekitar 2,7 miliar orang masih tidak mampu membeli makanan sehat, dan 150 juta balita di dunia masih tumbuh pendek karena kurang gizi. Laporan yang sama memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah, lewat lonjakan harga energi dan pupuk, membuat proyeksi kelaparan pada 2030 tertahan di kisaran 510 sampai 520 juta jiwa.

Perekonomian global pun bergerak dalam bayang-bayang ketidakpastian. Dalam laporan Oktober 2026, IMF memproyeksikan ekonomi dunia tumbuh 3,1 persen tahun ini, melambat dari 3,5 persen pada 2025, sementara inflasi global justru diperkirakan naik ke 4,7 persen.

Bagi rumah tangga kecil, angka-angka makro ini menjelma menjadi sesuatu yang sangat konkret: belanja dapur yang makin berat. Ketika jalur Selat Hormuz terganggu, harga urea dunia melonjak dua kali lipat dari sekitar 400 dolar menjadi 800 dolar AS per ton.

Indonesia memang beruntung memiliki industri urea yang ditopang gas dalam negeri, tetapi kita masih bergantung pada kawasan Teluk untuk sekitar 70 persen pasokan sulfur, bahan penting bagi pupuk majemuk.

Di dalam negeri, kita patut bersyukur sekaligus waspada. Ekonomi nasional masih tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026. Gudang Bulog pun sempat menyentuh stok 5,4 juta ton beras, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka, dengan serapan gabah petani yang hingga awal Oktober mencapai 4,11 juta ton, melampaui target dan memecahkan rekor 2012.

Neraca pangan nasional memperkirakan produksi beras 2026 sekitar 34,7 juta ton, di atas kebutuhan konsumsi sekitar 31,2 juta ton. Ini capaian yang lahir dari keringat jutaan petani, dan sudah selayaknya kita rayakan.

Akan tetapi, swasembada sejati tidak berhenti pada tumpukan karung di gudang. Badan Pusat Statistik memperkirakan produksi beras Januari hingga September 2026 sebesar 28,71 juta ton, hanya naik 0,01 persen dibanding tahun lalu. Artinya, produksi kita sedang mendatar.

Sementara itu, inflasi tahunan September 2026 naik ke 3,28 persen, dengan cabai rawit, cabai merah, daging ayam, dan beras sebagai penyumbang utama kenaikan harga bulan itu.

Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 4,37 persen. BPS juga mencatat bahwa kenaikan harga daging ayam antara lain dipicu kebutuhan program Makan Bergizi Gratis di sejumlah daerah serta kenaikan harga pakan ternak. Program yang mulia itu ternyata menuntut kesiapan pasokan yang jauh lebih matang.

Langit pun tidak sepenuhnya bersahabat. BMKG memprediksi El Nino bertahan hingga awal 2027 dengan peluang mencapai kategori kuat, disertai kemarau yang lebih kering dari biasanya di banyak sentra produksi. Musim tanam berikutnya akan menjadi ujian bagi ketangguhan kita.

Tantangan terdalam justru tidak terlihat di layar harga, melainkan di wajah para penjaga lumbung itu sendiri. Sensus Pertanian 2023 mencatat 17,25 juta dari 27,8 juta petani pengguna lahan adalah petani gurem yang menggarap kurang dari setengah hektare.

Jumlah petani menyusut dari 31,7 juta pada 2013 menjadi 29,3 juta pada 2023, dan sekitar 66,44 persen pengelola usaha tani kini berusia 45 tahun ke atas. Sawah kita semakin sempit, petani kita semakin tua, dan anak-anak desa semakin jarang yang bermimpi menjadi petani.

Ketergantungan pada pangan impor juga belum terurai. Keterangan ahli di Mahkamah Konstitusi mencatat Indonesia mengimpor 11,76 juta ton gandum pada 2025, dengan ketergantungan pada kedelai impor mencapai sekitar 97 persen.

Ironisnya, di saat yang sama kita membuang begitu banyak makanan. Kajian Bappenas memperkirakan susut dan sisa pangan Indonesia mencapai 23 sampai 48 juta ton per tahun dengan kerugian Rp213 hingga Rp551 triliun, setara porsi makan 61 sampai 125 juta orang.

Lalu, ke mana kita melangkah?

Saya meyakini jawabannya terletak pada keberanian menyatukan tiga hal: petani yang sejahtera, rantai pasok yang efisien, dan inovasi yang membumi.

Langkah pertama adalah menyatukan lahan yang terserak tanpa mencabut hak milik petani. Petani gurem tidak akan pernah efisien bila bekerja sendirian. Melalui koperasi modern dan korporasi petani, puluhan hektare sawah kecil dapat dikelola sebagai satu kawasan, berbagi alat tanam dan panen, membeli pupuk bersama, serta menjual hasil dengan daya tawar yang setara.

Pengalaman Vietnam dan Thailand menunjukkan bahwa biaya produksi gabah bisa ditekan jauh lewat mekanisasi dan sistem klaster. Kita tidak kalah lahan, kita hanya belum menyatukan kekuatan.

Langkah kedua adalah membuat bertani kembali menarik bagi anak muda. Regenerasi tidak akan lahir dari pidato, melainkan dari pendapatan yang layak. Kemitraan usaha antara petani muda dengan industri pengolahan, pembiayaan berbasis kontrak panen, asuransi pertanian, dan akses lahan bagi lulusan sekolah pertanian akan mengubah citra petani dari pekerjaan terakhir menjadi pilihan masa depan. Nilai Tukar Petani yang mencapai 131,11 pada September 2026 merupakan modal awal yang baik untuk meyakinkan mereka.

Langkah ketiga adalah menjadikan Makan Bergizi Gratis sebagai pembeli utama hasil petani lokal. Bila dapur-dapur penyedia makanan bergizi wajib menyerap sayur, telur, ikan, dan umbi dari kelompok tani di kecamatan yang sama, program ini tidak lagi menjadi pemicu inflasi, melainkan mesin penggerak ekonomi desa.

Di sini dunia usaha punya peran besar: membangun pusat pengumpulan, gudang berpendingin, dan sistem logistik yang memastikan pasokan stabil sepanjang tahun.

Langkah keempat adalah menekan susut pangan dari hulu sampai meja makan. Alat pengering gabah, gudang yang layak, penggilingan modern, dan kemasan yang baik dapat menyelamatkan jutaan ton pangan.

Di sisi konsumen, gerakan menghabiskan makanan dan menyalurkan kelebihan pangan kepada yang membutuhkan adalah cara paling murah untuk memperkuat ketahanan pangan.

Langkah kelima adalah kembali mencintai pangan nusantara. Sagu, jagung, sorgum, singkong, talas, dan ubi jalar adalah kekayaan yang selama ini terpinggirkan oleh tepung terigu.

Industri pengolahan pangan lokal yang kreatif, didukung riset perguruan tinggi, dapat menurunkan ketergantungan pada gandum sekaligus membuka lapangan kerja di daerah.

Langkah keenam adalah bersiap menghadapi iklim yang berubah. Kalender tanam berbasis prakiraan cuaca, embung dan irigasi tetes, benih padi tahan kekeringan, serta pupuk hayati dan organik yang mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor harus menjadi praktik sehari-hari, bukan sekadar proyek percontohan. Inilah makna sejati tema FAO tahun ini: inovasi yang sampai ke pematang, bukan berhenti di ruang seminar.

Semua langkah itu memerlukan satu hal yang tidak bisa diimpor, yaitu kebersamaan. Pemerintah menyiapkan kebijakan dan infrastruktur, dunia usaha menghadirkan modal dan pasar, perguruan tinggi menyumbangkan ilmu, dan kita semua sebagai konsumen menghargai setiap butir yang sampai di piring.

Hari Pangan Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa di balik kenyang kita ada kerja keras orang lain, dan di balik lapar seseorang ada tanggung jawab kita bersama.

Pada 27 April 1952, saat meletakkan batu pertama gedung fakultas pertanian yang kini menjadi IPB, Bung Karno mengingatkan bangsanya dengan suara yang masih bergema hingga hari ini:

“Soal pangan rakyat adalah soal hidup atau mati.” Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia, dalam pidatonya di Kampus IPB Baranangsiang.

Tujuh puluh empat tahun kemudian, pesan itu tetap benar. Mari kita jawab dengan menanam, merawat, dan menjaga, agar setiap anak negeri tumbuh kenyang, sehat, dan bermartabat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *