Catatan Dari Hati

(Narsis) Senandung Dibawah Flamboyan

Hujan baru saja berhenti ketika Sari tiba di halaman sekolah lamanya. Rumput masih basah, tanah mengeluarkan aroma yang akrab: aroma masa kecil yang sudah lama tidak ia sentuh.

Ia datang bukan untuk reuni, bukan pula untuk nostalgia semata, tetapi untuk sesuatu yang lebih berat dari keduanya: mengucapkan selamat tinggal.

Di sudut halaman, berdiri flamboyan tua yang dahulu menjadi pusat dunia kecilnya. Pohon itu tidak banyak berubah, masih tegap, masih penuh bunga merah yang jatuh seperti serpihan senyum dari langit.

Namun ada satu yang berubah: tidak ada lagi sosok lelaki tua bersuara lirih yang biasanya menyapu halaman sambil bersenandung lagu “Flamboyan” karya Bimbo.

Pak Jamil, penjaga sekolah yang membesarkannya seperti cucu sendiri, telah tiada dua minggu lalu.

Sari melangkah mendekat. Ia meraba kulit batang pohon itu seolah menyentuh tangan seseorang yang dikenalnya dengan sangat baik. Di bawah flamboyan inilah Pak Jamil dulu sering duduk bersamanya, menunggu ibunya menjemput. Lelaki itu sering berkata:

“Kalau hidup terasa berat, lihat yang jatuh dari flamboyan ini. Ia jatuh bukan untuk mati… tapi untuk memberi warna pada tanah.”

Sari tersenyum getir. Ia masih ingat bagaimana Pak Jamil menyuruhnya menyanyi tiap kali ia menangis. Suaranya yang lembut sering menyambung lagu itu:

Senja itu

Flamboyan berguguran

Seorang dara memandang

Terpukau …

Dulu, Sari tidak mengerti apa maknanya. Ia hanya tahu lagu itu membuat sedihnya mereda, seolah seseorang menyalakan lilin kecil di dalam dadanya.

Kini, berdiri sendirian di bawah flamboyan tua, ia merasakan dada itu sesak kembali.

“Terlalu cepat, Pak…” bisiknya, seolah lelaki itu masih ada dan sedang menatapnya dengan mata yang selalu hangat.

Sari menutup mata. Hujan yang tersisa masih menetes dari dedaunan flamboyan, terjatuh lembut di rambut dan bahunya.

Rasanya seperti sentuhan terakhir dari seseorang yang pergi terlalu sunyi.

Ia mengeluarkan kertas kecil dari sakunya.

Sebuah lagu yang pernah mereka nyanyikan bersama , ditulis dengan tinta yang sudah memudar.

Sari membacanya pelan, lalu bersenandung meski suaranya bergetar:

Bunga flamboyan itu diraihnya

Wajahnya terlihat sayu

Flamboyan berguguran

Berjatuhan, berserakan

Lagu itu melayang di udara senja, mengisi ruang kosong di antara ranting flamboyan yang bergerak pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak kepergian Pak Jamil, Sari merasa tidak begitu sendirian.

Saat ia membuka mata, sebuah kelopak flamboyan jatuh tepat di telapak tangannya, merah, lembut, seolah pemberian kecil dari langit.

Sari tersenyum.
“Terima kasih, Pak. Saya akan baik-baik saja.”

Ia melangkah pergi dengan langkah yang lebih ringan, sementara flamboyan itu berdiri tegak, mekar, menjaga kenangan seperti yang selalu dilakukan. Dan angin senja membawa jauh senandung yang dulu mereka bagi bersama, senandung yang kini menjadi bagian dari hatinya sendiri.

Karena cinta, seperti flamboyan, tidak pernah benar-benar gugur. Itulah yang membuatnya abadi.

Dari kejauhan ia seperti mendengarkan bait terakhir lagu itu : lembut, namun menenangkan..

Sejak itu sang dara berharapkan

Esok lusa kan bersemi kembali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *