Dari Kantor Menuju Algoritma: Jejak Air Mata di Balik Transformasi Digital Indonesia
“Kecerdasan buatan adalah salah satu hal paling mendalam yang sedang dikerjakan umat manusia; ia lebih mendalam daripada api atau listrik,” ujar CEO Google Sundar Pichai di Forum Ekonomi Dunia.
Ucapan itu terdengar megah di panggung Davos, namun di ruang-ruang rapat daring di Jakarta, kalimat tersebut menjelma menjadi surat elektronik singkat berisi pemberitahuan pemutusan hubungan kerja.
Di sanalah kisah ini bermula: pada jarak yang begitu jauh antara janji teknologi dan degup jantung manusia yang menerimanya.
Kronologinya panjang dan menyesakkan. Semua berawal ketika ByteDance, induk TikTok, mengakuisisi 75,01 persen saham Tokopedia dari GoTo pada awal 2024 dengan nilai investasi sekitar 1,5 miliar dolar AS untuk menggabungkan TikTok Shop dengan lokapasar hijau kebanggaan Indonesia itu.
Publik sempat berharap perkawinan dua raksasa ini melahirkan lapangan kerja baru. Kenyataannya justru sebaliknya. Pada Juli 2025, sekitar 180 karyawan Tokopedia dirumahkan, disusul 240 orang pada Agustus di tahun yang sama, sehingga total mencapai 420 pekerja dari divisi teknologi informasi, layanan pelanggan, hingga tim gudang.
Hampir bersamaan, pada Agustus 2025 TikTok secara global memangkas ratusan moderator konten di Inggris serta Asia Selatan dan Asia Tenggara, pekerjaan yang perlahan diambil alih sistem kecerdasan buatan yang diklaim telah menangani sekitar 85 persen penghapusan konten.
Shopee menempuh jalan serupa. Setelah memangkas lebih dari 1.000 karyawan sepanjang 2023 hingga 2024, pada April 2025 perusahaan ini kembali merumahkan sekitar 300 pekerja dari satu divisi proyek video.
Puncaknya, pada Juni 2026, Shopee dilaporkan memangkas sekitar 8 persen tenaga pengembangnya di berbagai negara, tepat ketika induknya, Sea Limited, semakin agresif berinvestasi pada kecerdasan buatan dan menggandeng Google untuk membangun agen belanja pintar. Lalu tibalah babak paling memilukan.
Pada awal Juli 2026, kabar mengguncang jagat maya: ByteDance disebut memangkas hingga 90 persen karyawan Tokopedia, hanya menyisakan sekitar 10 persen dari 2.500 pekerja, dan TikTok mengonfirmasi adanya penyelarasan organisasi riset dan pengembangan itu sambil menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan hal yang mudah.
Yang paling menyayat, dari sekitar 1.100 insinyur teknologi Tokopedia sebelum akuisisi, kini tersisa hanya 35 orang, sementara seluruh pengelolaan teknologinya berpindah ke Tiongkok.
Di pekan yang sama, TikTok juga memangkas sekitar 300 posisi di divisi kepercayaan dan keamanan di Dublin serta merumahkan karyawan di Singapura, Malaysia, dan Indonesia, lagi-lagi dengan alasan pemusatan operasi dan pemanfaatan teknologi terbaru.
Fenomena ini bukan anomali lokal, melainkan gelombang global. Sepanjang 2025, industri teknologi dunia mencatat lebih dari 120.000 pemangkasan pekerja, dengan Amazon memangkas 30.184 orang, Intel 27.058, dan Microsoft 15.347. Memasuki 2026, laju itu justru menggila: lebih dari 164.000 pekerja teknologi telah kehilangan pekerjaan hanya dalam enam bulan pertama, setara hampir 900 orang setiap hari.
Ironinya, perusahaan-perusahaan itu tidak sedang merugi. Mereka mencetak laba besar, namun memilih merampingkan diri demi mendanai ambisi kecerdasan buatan.
Sebuah simulasi MIT dan Oak Ridge National Laboratory bahkan memperkirakan teknologi ini sudah mampu mengerjakan 11,7 persen pekerjaan di pasar tenaga kerja Amerika Serikat dengan potensi penghematan upah hingga 1,2 triliun dolar AS.
Tantangan ke depan bagi Indonesia terasa berlapis. Di dalam negeri, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sekitar 43.000 kasus PHK hingga Juni 2026, dengan sektor manufaktur sebagai penyumbang terbesar.
Kondisi ini diperparah oleh indeks manufaktur yang anjlok ke level 46,9 pada Juni 2026, penurunan paling tajam dalam setahun akibat lemahnya daya beli, mahalnya bahan baku, dan pelemahan nilai tukar.
Artinya, badai datang dari dua arah sekaligus: otomatisasi menggerus pekerjaan kerah putih di sektor digital, sementara pelemahan ekonomi menekan pekerjaan kerah biru di pabrik-pabrik.
Persaingan lokapasar pun makin timpang; data GMV 2025 menunjukkan Shopee memimpin dengan 83,2 miliar dolar AS, TikTok Shop 45,6 miliar, sementara Tokopedia terpuruk di angka 9 miliar dolar AS.
Lebih dari sekadar angka, yang dipertaruhkan adalah kedaulatan talenta: ketika otak teknologi platform yang setiap hari digunakan jutaan rakyat Indonesia dikendalikan sepenuhnya dari luar negeri, kita kehilangan bukan hanya pekerjaan, tetapi juga kesempatan belajar, ruang berinovasi, dan harga diri sebuah bangsa digital.
Namun keputusasaan bukanlah pilihan, dan sejarah membuktikan bangsa ini pandai bangkit.
Solusi pertama harus datang dari negara: memperkuat program Jaminan Kehilangan Pekerjaan yang memberikan santunan tunai, pelatihan ulang, dan akses informasi kerja bagi korban PHK, sekaligus mempercepat pencairannya agar keluarga terdampak tidak jatuh ke jurang kemiskinan.
Pemerintah juga perlu berani menegosiasikan syarat alih teknologi dan kuota talenta lokal dalam setiap akuisisi asing atas perusahaan digital nasional, agar tragedi hilangnya seribu insinyur Tokopedia tidak terulang.
Kedua, dunia usaha wajib memandang pelatihan ulang bukan sebagai beban melainkan investasi; setiap rupiah yang ditanam untuk mengajari karyawan bekerja bersama kecerdasan buatan akan kembali berlipat dalam bentuk produktivitas dan loyalitas.
Ketiga, ekosistem harus digerakkan: kampus, balai latihan kerja, dan komunitas teknologi perlu bahu-membahu mencetak keahlian yang tidak mudah digantikan mesin, seperti penalaran kompleks, empati dalam layanan, kepemimpinan, serta kemampuan merancang dan mengawasi sistem cerdas itu sendiri.
Keempat, para pekerja terdampak dapat diarahkan menjadi wirausaha digital; jutaan UMKM Indonesia yang kini berjualan di lokapasar justru membutuhkan pendamping yang paham seluk-beluk platform, iklan digital, dan pengelolaan data, dan siapa yang lebih paham selain mantan orang dalamnya sendiri?
Kelima, kecerdasan buatan harus dijinakkan menjadi kawan: alih-alih menolaknya, Indonesia yang tercatat sebagai salah satu pengadopsi AI tercepat di Asia Tenggara dapat menjadikannya alat pengungkit bagi petani, nelayan, guru, dan pedagang kecil, sehingga nilai tambah teknologi mengalir ke bawah, bukan hanya menumpuk di menara-menara korporasi.
Pada akhirnya, PHK massal ini adalah alarm, bukan lonceng kematian. Ia mengingatkan bahwa di era ini kecepatan beradaptasi menentukan nasib, baik bagi perusahaan, pekerja, maupun negara.
Mereka yang hari ini menangis kehilangan pekerjaan bisa menjadi mereka yang esok membangun perusahaan, mendidik generasi, atau merumuskan kebijakan yang lebih manusiawi.
Seperti diingatkan pendiri Forum Ekonomi Dunia Klaus Schwab, “Di dunia baru, bukan ikan besar yang memakan ikan kecil, melainkan ikan cepat yang memakan ikan lambat.”
Maka berenanglah lebih cepat, Indonesia.
Bukan untuk memangsa, tetapi agar tidak tenggelam, dan lebih dari itu, agar bisa menolong lebih banyak yang hampir karam.