Resensi Film “Operasi Pesta Copet” : Balada Sepuluh Jari di Tengah Riuh Pestapora
Panggung menyala, gitar meraung, ribuan tubuh berdesakan sambil menyanyikan lirik yang mereka hafal luar kepala. Di sela euforia itu, ada tangan yang bergerak pelan, nyaris tak terasa, mencari saku belakang yang lengah.
Dari titik paling sepi di tengah keramaian paling riuh itulah Operasi Pesta Copet memulai ceritanya, dan dari sanalah film ini menolak menjadi sekadar tontonan ringan akhir pekan.
Film ini resmi tayang di bioskop Indonesia pada 27 Agustus 2026, menandai debut Edy Khemod sebagai sutradara film panjang, sosok yang selama ini lebih dikenal publik sebagai penabuh drum grup musik Seringai.
Ia tidak hanya duduk di kursi sutradara, tetapi juga menulis naskahnya bersama Rino Sarjono, dengan Imajinari, Angin Segar, dan Boss Creator sebagai rumah produksi. Berdurasi sekitar 113 menit, film ini menampilkan Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal, Kristo Immanuel sebagai Adut, Zulfa Maharani sebagai Tia, Kawai Labiba sebagai Melodi, serta Fauzan Lubis sebagai Silet.
Kisahnya sederhana dan justru karena itu terasa menusuk. Hidup Ijal berantakan setelah ia kehilangan pekerjaan, dan keadaan makin menghimpit karena ibunya terlilit utang lima belas juta rupiah. Bersama sahabatnya Adut, ia mencoba berbagai pekerjaan serabutan, termasuk menjadi badut jalanan, tetapi keringat mereka tak pernah cukup menutup lubang.
Di tengah kebuntuan itulah Silet datang menawarkan jalan pintas, dimulai dari pasar yang padat, lalu meluas hingga ke arena festival. Ada sesuatu yang menyayat dalam adegan badut itu. Seseorang mengenakan kostum ceria, menari untuk menghibur orang lain, sementara di balik topengnya ia sedang menghitung sisa uang untuk makan esok hari. Film ini paham bahwa penderitaan paling dalam sering kali datang dengan wajah yang tertawa.
Yang membuat film ini terasa hidup adalah keberaniannya turun langsung ke lapangan. Sebagian pengambilan gambar dilakukan di tengah gelaran Pestapora yang sesungguhnya, melibatkan ratusan figuran dan rekaman suasana kerumunan asli yang dipadukan dengan set studio, sehingga menghasilkan keaslian visual yang jarang ditemui dalam film Indonesia bertema pencurian terencana. Keputusan itu bukan gaya-gayaan.
Penonton bisa merasakan panas tubuh yang berimpitan, bau keringat bercampur asap, dan detak jantung yang naik ketika satu tangan mendekat ke ransel orang asing. Kamera tidak menonton dari kejauhan, ia ikut berdesakan.
Ide ceritanya sendiri lahir dari pengalaman nyata sang sutradara. Saat tampil di Solo, Edy Khemod dan rekan sebandnya mendapat kabar tentang komplotan pencopet yang datang jauh dari Jakarta khusus untuk beraksi di festival musik.
Komplotan itu menyiapkan diri dengan serius, menghafalkan lirik lagu dan mengenakan atribut band agar menyatu dengan penonton, bahkan menyusup ke area moshpit. Detail semacam ini terlalu ganjil untuk dikarang, dan justru kegetiran itulah yang menjadi denyut film. Untuk mencuri, orang harus terlebih dahulu belajar mencintai apa yang dicintai korbannya. Sungguh perih membayangkan seseorang menghafal lagu bukan karena rindu, melainkan karena lapar.
Persiapan para pemain pun tidak main-main. Mereka menjalani latihan intensif sekitar dua bulan untuk mempelajari teknik kecepatan tangan agar gerakan mengambil barang tampak natural dan meyakinkan di depan kamera.
Kristo Immanuel bahkan harus menjalani tes jongkok saat proses pembacaan naskah, untuk mengukur kekuatan paha sekaligus menyesuaikan dirinya dengan gambaran anak tongkrongan pinggiran. Kerja keras itu berbuah. Akting Kristo menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian, dengan pembawaan santai yang seolah tanpa usaha namun terasa meyakinkan, dan dialog serta gesturnya kerap menjadi pemantik tawa.
Zulfa Maharani menggilas porsi drama dan komedi sama baiknya, sementara Kawai Labiba piawai meniupkan nyawa pada momen yang paling remeh sekalipun. Pujian khusus layak diberikan kepada Fauzan Lubis, vokalis Sisitipsi yang menjalani debut aktingnya di sini dengan kenaturalan yang hanya bisa ditampilkan seorang penampil sejati.
Kekuatan lain film ini terletak pada caranya membiarkan aktor bernapas. Edy Khemod sengaja mendesain ruang gerak yang longgar, menempatkan skenario sebagai peta situasi sementara percakapan antarkarakter dibiarkan mengalir lewat improvisasi spontan.
Hasilnya, dialog tidak terdengar seperti kalimat yang dihafal semalaman, melainkan reaksi organik orang biasa yang panik, canggung, dan saling melempar sarkasme jalanan. Komedi di sini tidak dipaksa lahir, ia meletup dari kekacauan yang tertangkap kamera secara alami. Karena itu tawa penonton terasa jujur, dan keheningan yang menyusulnya terasa lebih berat.
Film ini juga menjadi semacam catatan zaman bagi dunia musik dalam negeri. Perhatian pada detail terlihat dari kaus band yang dikenakan para karakter, mulai dari The Adams, Teenage Death Star, The Jansen, hingga Seringai. Pada aspek atmosfer inilah film terasa paling hidup, dengan lagu-lagu yang pas dan penjelasan tentang konser, moshpit, serta perilaku penonton yang membuat orang awam sekalipun tetap bisa mengikuti.
Tentu saja film ini tidak sempurna, dan kritik yang muncul patut didengar dengan jujur. Sejumlah pengulas menilai ambisi menggabungkan kehidupan festival musik, cerita pencurian terencana, dan pesan moral sekaligus terasa terlalu muluk.
Naskahnya juga memilih pembagian yang tegas antara karakter baik dan buruk, dan penampilan Iqbaal dianggap masih terlalu mulus untuk mewakili mereka yang benar-benar pusing mencari uang. Ada pula suara penonton yang menganggap film ini terlalu jauh meromantisasi kalangan pencopet. Keberatan itu masuk akal, sebab garis antara memahami dan memaklumi memang setipis kertas.
Namun di situlah letak keberanian film ini. Keempat tokohnya digambarkan sebagai anak-anak yang sejak lahir sudah kalah start, bukan karena malas, melainkan karena sistem di sekitar mereka tak pernah benar-benar berpihak. Ketika pintu kesempatan tertutup satu per satu, mencopet lahir bukan sebagai cita-cita, melainkan sebagai jalan pintas yang terasa paling masuk akal di tengah keterbatasan pilihan.
Menariknya, film ini tidak membiarkan penontonnya begitu saja memaklumi tindakan mereka. Pertanyaan yang ditinggalkan pun jauh lebih besar daripada nasib empat sekawan itu. Sejauh mana sebuah pilihan masih pantas disebut pilihan, ketika sebagian besar jalan sudah lebih dulu ditutup?
Keluar dari studio, yang tertinggal bukan kekaguman pada kelihaian jari, melainkan rasa nyeri yang tenang. Kita mungkin pernah berdiri di keramaian yang sama, bernyanyi sekencang-kencangnya, tanpa sadar bahwa di sebelah kita ada orang yang datang bukan untuk merayakan musik, melainkan untuk bertahan hidup. Operasi Pesta Copet mengajak kita menoleh ke arah itu, dan sekali kita menoleh, sulit untuk kembali berpura-pura tidak melihat.
Sebagai debut, ini pencapaian yang jauh melampaui sopan santun film pertama. Sebagai cermin, ia berani memantulkan wajah yang tidak nyaman kita pandang. Dan sebagai hiburan, ia tetap sanggup membuat satu studio tertawa bersama sebelum mendadak terdiam.