Catatan Dari Hati

Menjaga Selimut Tipis di Atas Kepala Kita, Refleksi Hari Preservasi Ozon Sedunia

“Perhaps the single most successful international agreement to date.”Kofi Annan, mendiang Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, tentang Protokol Montreal, sebagaimana dicatat Association for Diplomatic Studies & Training

Musim semi tahun 1985 di Antartika, sekelompok ilmuwan menemukan sesuatu yang membuat mereka mengulang pengukuran berkali kali karena tidak percaya: lapisan pelindung di langit kutub menipis begitu drastis sehingga alat mereka dikira rusak.

Dunia tersentak.

Dalam tempo yang nyaris mustahil bagi diplomasi internasional, negara negara menyepakati Konvensi Wina pada tahun yang sama, lalu menandatangani Protokol Montreal pada 16 September 1987, perjanjian yang mengatur hampir seratus bahan kimia buatan manusia perusak ozon dan menjadi salah satu dari sedikit perjanjian yang diratifikasi seluruh negara di dunia.

Sembilan belas Desember 1994, Majelis Umum PBB menetapkan 16 September sebagai Hari Internasional Preservasi Lapisan Ozon, agar tanggal itu tidak sekadar dikenang, melainkan dikerjakan ulang setiap tahun oleh setiap bangsa.

Indonesia ikut sejak dini melalui Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1992, lalu memperkuat langkah dengan meratifikasi Amendemen Kigali lewat Peraturan Presiden Nomor 129 Tahun 2022.

Hasilnya layak membuat siapa pun terharu. Sekretariat Ozon mencatat sekitar 99 persen bahan perusak ozon telah dihapuskan, setara kurang lebih 1,8 juta ton potensi perusakan ozon secara global, dengan sisa satu persen yang sebagian besar berupa HCFC. Panel ilmiah PBB memperkirakan lapisan ozon akan pulih ke kondisi tahun 1980 sekitar 2040 untuk sebagian besar dunia, 2045 di Arktik, dan 2066 di Antartika.

Tanda tanda itu semakin nyata: lembaga pemantau atmosfer Eropa melaporkan lubang ozon Antartika 2025 mencapai luas maksimum 21,08 juta kilometer persegi, jauh di bawah rekor 26,1 juta kilometer persegi pada 2023, sekaligus menjadi yang terkecil dalam lima tahun dan tertutup paling awal sejak 2019. Langit, ternyata, bisa belajar menyembuhkan diri bila manusia berhenti melukainya.

Tahun ini peringatan mengambil tema aksi global untuk planet yang lebih sejuk, merayakan satu dasawarsa pendinginan berkelanjutan di bawah Amendemen Kigali.

Tema itu jujur dan tajam, sebab tantangan telah berpindah wujud. Musuh lama bernama CFC nyaris tumbang, tetapi penggantinya, hidrofluorokarbon, tidak merusak ozon namun memerangkap panas jauh lebih kuat daripada karbon dioksida.

Sekretaris Jenderal PBB menegaskan bahwa penerapan penuh Amendemen Kigali dapat mencegah kenaikan suhu bumi hingga 0,5 derajat Celsius pada akhir abad, dan dua kali lipat bila dipadukan dengan pendingin hemat energi. Persoalannya, kebutuhan mendinginkan ruang justru meledak persis ketika dompet dunia menipis.

Angka angkanya bicara keras. Badan Energi Internasional mencatat permintaan listrik global untuk pendinginan ruang tumbuh 50 persen sejak 2015 hingga sekitar 2.900 terawatt jam, melampaui total konsumsi listrik seluruh Uni Eropa, menyumbang 14 persen pertumbuhan permintaan listrik dunia, dan meski hanya sekitar 10 persen dari konsumsi tahunan, pendinginan menguasai 30 persen beban puncak.

Semua itu terjadi di tengah cuaca ekonomi yang muram. Badan Pusat Statistik melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal kedua 2026, melambat dari 5,61 persen pada kuartal sebelumnya, di tengah lonjakan harga minyak dunia, gangguan rantai pasok, dan gejolak pasar keuangan global.

Di titik inilah dilema itu berdiri telanjang: teknologi pendingin ramah lingkungan berharga lebih mahal di muka, sementara rumah tangga dan usaha kecil sedang menghitung setiap rupiah.

Indonesia sesungguhnya punya rekam jejak yang pantas dibanggakan. Pemerintah mencatat penurunan konsumsi HCFC sebesar 37,5 persen pada 2020 dan 55 persen pada 2023, dengan jadwal pengurangan HFC dimulai 10 persen pada 2029 hingga 80 persen pada 2045 dibandingkan garis dasar.

Komitmen itu kini melekat pada dokumen kontribusi iklim nasional, artinya kegagalan di ruang mesin pendingin akan terbaca sebagai kegagalan Indonesia di forum iklim dunia. Jalan menuju 2045 menanjak, dan menanjaknya tepat ketika ruang fiskal menyempit.

Maka solusinya tidak boleh melayang di awang awang.

Kunci pertama terletak pada tangan para teknisi pendingin, profesi yang jarang disorot namun menentukan. Satu unit yang bocor dan dibiarkan melepaskan bahan pendingin ke udara menghapus kerja keras bertahun tahun.

Karena itu langkah pemerintah menyerahkan hibah peralatan pelatihan pendingin dan tata udara kepada empat belas balai pelatihan vokasi pada puncak peringatan 16 September 2026 sepatutnya diperluas menjadi gerakan sertifikasi massal di balai latihan kerja dan sekolah menengah kejuruan di seluruh provinsi, lengkap dengan insentif bagi bengkel kecil yang memasang alat penyedot dan pendaur ulang bahan pendingin.

Kunci kedua, standar kinerja energi minimum dan label hemat energi perlu dinaikkan bertahap serta ditegakkan di pasar daring. Pengalaman internasional menunjukkan kebijakan semacam ini berbuah: rata rata unit pendingin yang terjual secara global pada 2024 sekitar 20 persen lebih hemat energi dibandingkan satu dekade sebelumnya, dan Indonesia termasuk negara yang mempercepat langkah kebijakan efisiensi dalam beberapa tahun terakhir.

Produk murah berefisiensi rendah adalah utang listrik yang dibayar rakyat selama sepuluh tahun ke depan. Kunci ketiga, pembiayaan hijau berskala kecil: cicilan ringan, subsidi selisih bunga, atau tukar tambah unit tua bagi warung, kios, klinik desa, dan nelayan pemilik pendingin ikan akan jauh lebih mengena ketimbang imbauan moral. Rantai dingin perikanan dan vaksin yang efisien bukan sekadar urusan ozon, melainkan urusan gizi, harga jual nelayan, dan nyawa bayi di puskesmas terpencil.

Kunci keempat justru paling murah. Arsitektur tropis yang cerdas, ventilasi silang, atap berinsulasi, pohon peneduh, serta koridor hijau kota mampu memangkas kebutuhan pendinginan sebelum satu watt pun terpakai.

Analisis lembaga energi dunia menunjukkan pendingin yang disetel 26 derajat Celsius dan dipadukan dengan kipas memberi kenyamanan setara pendingin tunggal pada 24 derajat sambil memangkas pemakaian energi sekitar 25 persen, sementara penambahan ruang hijau dan penghijauan jalan masing masing sanggup menurunkan suhu kota hingga 5 derajat Celsius.

Membersihkan penyaring udara secara rutin dan menutup celah jendela terdengar sepele, namun bila dilakukan jutaan rumah tangga setara dengan membangun pembangkit listrik tanpa menambah cerobong asap.

Kunci kelima, pengawasan perdagangan ilegal bahan perusak ozon melalui perizinan yang terhubung dengan kepabeanan, karena kebocoran hukum di pelabuhan sanggup meruntuhkan kepatuhan yang dibangun puluhan tahun.

Perlindungan ozon pada akhirnya bukan cerita tentang molekul di ketinggian dua puluh kilometer. Cerita ini tentang tukang servis di gang sempit Surabaya yang memilih tidak membuang gas pendingin ke udara meski tidak seorang pun melihat.

Tentang ibu di Nusa Tenggara yang esnya tidak mencair sebelum ikan suaminya sampai ke pasar. Tentang anak anak yang bermain di halaman sekolah tanpa perlu takut sinar matahari melukai kulit dan mata mereka.

Empat puluh tahun lalu dunia membuktikan bahwa ilmu pengetahuan, diplomasi, dan keberanian politik bisa berjalan seiring.

Tugas generasi sekarang sederhana dan berat sekaligus: membuktikan bahwa keberhasilan itu bukan kebetulan sejarah, melainkan kebiasaan yang bisa diulang, bahkan ketika ekonomi sedang sulit dan godaan menunda terasa masuk akal.

“We are called to assist the Earth to heal her wounds and in the process heal our own… In the course of history, there comes a time when humanity is called to shift to a new level of consciousness, to reach a higher moral ground… That time is now.”Wangari Maathai, peraih Nobel Perdamaian 2004, Pidato Nobel di Oslo, 10 Desember 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *