Perempuan Tangguh di Balik Beton dan Baja: Refleksi Hari Ibu tentang Kesetaraan dalam Konstruksi Indonesia
Ketika fajar menyingsing di Jakarta pada pukul empat pagi, Sari, bukan nama sebenarnya, sudah bangun meninggalkan kehangatan kamar kontrakannya. Di ruang sempit berukuran tiga kali empat meter itu, dua anaknya masih terlelap.
Ia menatap wajah-wajah kecil itu sejenak, mengecup kening mereka dengan lembut, sebelum bergegas menuju lokasi proyek pembangunan gedung perkantoran di kawasan Cawang. Sari adalah satu dari ribuan perempuan Indonesia yang bekerja di sektor konstruksi, industri yang masih sangat didominasi laki-laki, dan ia adalah seorang ibu.
Pada Hari Ibu 22 Desember 2025, yang tahun ini memasuki peringatan ke-97 sejak Kongres Perempuan Indonesia pertama tahun 1928, kita perlu mengingat bahwa semangat perjuangan perempuan Indonesia bukan hanya tentang peran di dalam rumah tangga.
Sejak para perempuan pejuang berkumpul di Gedung Dalem Joyodipuran Yogyakarta hampir seabad silam, mereka sudah menyuarakan hak pendidikan, kesetaraan dalam pekerjaan, dan kesempatan untuk membangun bangsa.
Kini, di tengah gemuruh pembangunan Indonesia yang nilai bisnisnya mencapai Rp423,4 triliun pada tahun 2024, setara dengan 12,73 persen dari total anggaran belanja negara—ada sosok-sosok ibu yang turut menyumbang tenaga dan pikiran di balik megahnya infrastruktur negeri ini.
Sektor konstruksi menyumbang sekitar 10,43 persen terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia pada kuartal keempat 2024, menjadikannya sektor keempat terbesar dalam ekonomi nasional.
Namun di balik angka-angka megah tersebut, terdapat kenyataan pahit: dari total pekerja Indonesia per Februari 2024, hanya 33,52 persen adalah perempuan, sementara laki-laki mencapai 66,48 persen.
Rasio ini menunjukkan bahwa untuk setiap dua pekerja laki-laki, hanya ada satu pekerja perempuan. Di sektor konstruksi, kesenjangan ini bahkan lebih tajam. Industri yang identik dengan helm pengaman, rompi keselamatan berwarna mencolok, dan debu semen ini masih dianggap sebagai wilayah laki-laki.
Namun realitas di lapangan berkata lain. Ibu-ibu seperti Sari bekerja keras mengangkat material, mengaduk semen, memasang bata, bahkan mengoperasikan alat-alat berat. Mereka datang dari berbagai latar belakang, ada yang janda, ibu tunggal, atau istri yang harus membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga.
Pekerjaan mereka tidak ringan. Setiap hari, mereka harus menghadapi tekanan fisik yang luar biasa, bekerja di bawah terik matahari atau guyuran hujan, dengan upah yang masih jauh dari layak. Kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan masih nyata: menurut data World Economic Forum 2024, perempuan Indonesia hanya menghasilkan sekitar 51,9 sen untuk setiap dolar yang dihasilkan laki-laki, sebuah kesenjangan yang mencapai hampir 50 persen.
Tantangan yang dihadapi ibu-ibu pekerja konstruksi ini berlapis-lapis dan kompleks. Pertama, mereka menghadapi stigma sosial yang kuat. Budaya patriarki yang mengakar dalam masyarakat Indonesia menganggap bahwa tempat perempuan adalah di rumah, bukan di lapangan konstruksi yang keras dan berbahaya.
Pandangan ini menciptakan tekanan psikologis yang berat. Seorang ibu yang bekerja di konstruksi sering dianggap gagal menjalankan kodratnya sebagai pengasuh anak, seolah-olah keputusannya bekerja adalah pilihan yang salah, bukan sebuah keberanian dan keterpaksaan ekonomi.
Kedua, lingkungan kerja yang tidak ramah terhadap perempuan. Penelitian menunjukkan bahwa budaya maskulinitas mendominasi industri konstruksi, menciptakan kesulitan bagi perempuan untuk merasa diterima atau dihormati di tempat kerja.
Fasilitas yang minim, seperti toilet khusus perempuan, ruang ganti yang layak, atau area untuk menyusui bagi ibu yang masih memiliki bayi, menjadi hambatan nyata. Belum lagi risiko pelecehan dan kekerasan seksual yang mengintai.
Data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan tahun 2024 mencatat 34.682 perempuan menjadi korban kekerasan, dengan kekerasan seksual mencapai 15.621 kasus—angka tertinggi di antara jenis kekerasan lainnya. Angka ini kemungkinan besar hanya puncak gunung es, karena banyak kasus yang tidak dilaporkan karena rasa malu dan takut akan stigma sosial.
Ketiga, tantangan dalam menyeimbangkan peran sebagai pekerja dan sebagai ibu. Waktu kerja yang panjang dan tidak fleksibel membuat para ibu ini harus berpisah dengan anak-anak mereka sejak dini hari hingga petang.
Tidak ada cuti melahirkan yang memadai, tidak ada fasilitas penitipan anak di lokasi kerja, dan tidak ada pengertian dari sistem yang mengakui bahwa seorang ibu pekerja memiliki tanggung jawab ganda yang sama beratnya.
Eksperimen sosial ILO-Magdalene pada tahun 2024 menunjukkan bahwa perempuan Indonesia menghabiskan sekitar 100 jam per minggu untuk kerja perawatan tidak berbayar, lebih dari dua kali lipat waktu laki-laki.
Ini berarti setelah pulang dari lokasi konstruksi yang melelahkan, para ibu ini masih harus memasak, membersihkan rumah, membantu anak mengerjakan pekerjaan rumah, dan mengurus segala kebutuhan keluarga.
Keempat, ketidakamanan pekerjaan dan minimnya jaminan sosial. Sebagian besar pekerja perempuan di konstruksi adalah pekerja harian lepas atau kontrak jangka pendek, tanpa perlindungan hukum yang memadai.
Mereka tidak memiliki asuransi kesehatan, tidak ada dana pensiun, dan tidak ada kepastian bahwa besok mereka masih akan memiliki pekerjaan. Penelitian mengungkapkan bahwa pekerja perempuan di sektor informal sering mengalami upah rendah, eksploitasi, dan kurangnya perlindungan sosial, terutama selama krisis seperti pandemi Covid-19 yang membuat ekonomi mereka semakin terpuruk.
Namun di tengah semua tantangan ini, ada kekuatan luar biasa yang terpancar dari sosok-sosok ibu pekerja konstruksi. Mereka adalah perempuan tangguh yang tidak menyerah pada keadaan.
Setiap pagi, mereka bangkit dengan tekad untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Setiap keringat yang menetes, setiap otot yang pegal, setiap luka kecil di tangan mereka adalah bukti cinta seorang ibu yang tanpa batas.
Mereka membangun gedung-gedung tinggi, jembatan-jembatan kokoh, jalan-jalan yang menghubungkan kota, dan infrastruktur yang menjadi tulang punggung kemajuan bangsa. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang kontribusinya sering kali tidak terlihat dalam statistik resmi.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi tantangan ini? Solusinya harus datang dari berbagai pihak dan bersifat menyeluruh. Pertama, perlu ada kebijakan pemerintah yang tegas dan berpihak pada pekerja perempuan. Undang-undang ketenagakerjaan harus memastikan adanya kesetaraan upah untuk pekerjaan yang sama, tanpa diskriminasi gender.
Pemerintah juga perlu mengawasi implementasi undang-undang tindak pidana kekerasan seksual yang sudah disahkan pada 2022, memastikan bahwa setiap kasus dilaporkan dan ditangani dengan serius, serta memberikan perlindungan dan pendampingan bagi korban.
Kedua, perusahaan konstruksi harus mengubah budaya kerja mereka. Mereka perlu menyediakan fasilitas yang layak bagi pekerja perempuan, termasuk toilet yang bersih dan aman, ruang ganti yang privat, area untuk menyusui, dan bahkan tempat penitipan anak di lokasi proyek jika memungkinkan.
Program seperti Respectful Workplace Programme dari Better Work Indonesia telah menunjukkan bahwa investasi dalam keselamatan dan kesejahteraan pekerja perempuan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mengurangi tingkat ketidakhadiran dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis.
Ketiga, diperlukan pendidikan dan pelatihan keterampilan yang berkelanjutan untuk perempuan. Program pelatihan tidak hanya soal keterampilan teknis dalam konstruksi, tetapi juga tentang hak-hak pekerja, keselamatan kerja, dan literasi keuangan agar mereka bisa mengelola penghasilan dengan lebih baik.
Memberikan akses ke pendidikan dan pelatihan akan membuka jalan bagi perempuan untuk menduduki posisi-posisi yang lebih strategis dalam industri konstruksi, bukan hanya sebagai buruh kasar tetapi juga sebagai mandor, pengawas, insinyur, arsitek, dan pengambil keputusan.
Keempat, perlu ada perubahan narasi dan kampanye sosial untuk mengubah stigma terhadap perempuan pekerja. Masyarakat harus memahami bahwa seorang ibu yang bekerja di konstruksi bukanlah ibu yang gagal, melainkan ibu yang luar biasa hebat. Ia adalah sosok yang berani mengambil risiko, yang rela berkorban, yang melawan arus, demi memberikan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anaknya.
Media massa, tokoh masyarakat, dan pemuka agama perlu bersama-sama menyuarakan penghargaan dan dukungan terhadap perempuan pekerja, menghapus prasangka yang merugikan, dan membangun kesadaran bahwa pembangunan bangsa adalah tanggung jawab bersama, laki-laki dan perempuan.
Kelima, diperlukan sistem jaminan sosial yang kuat dan inklusif. Pemerintah perlu memastikan bahwa semua pekerja, termasuk pekerja harian lepas dan informal, memiliki akses ke asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan kerja, dan program pensiun. Ini adalah hak dasar yang tidak boleh diabaikan.
Selain itu, penting juga untuk menyediakan program bantuan seperti subsidi penitipan anak, bantuan pendidikan untuk anak-anak pekerja perempuan, dan akses mudah ke layanan kesehatan reproduksi.
Pada peringatan Hari Ibu ke-97 ini, mari kita merenungkan kembali makna sejati dari peringatan tersebut. Hari Ibu bukan hanya tentang merayakan sosok ibu di rumah yang memasak dan merawat anak.
Hari Ibu adalah tentang menghormati perjuangan perempuan Indonesia di semua bidang kehidupan, termasuk mereka yang bekerja gigih di sektor-sektor yang keras dan penuh tantangan seperti konstruksi.
Mereka adalah pewaris semangat para perempuan pejuang di Kongres Perempuan Indonesia 1928, yang berjuang untuk kesetaraan, pendidikan, dan hak-hak perempuan.
Sari, dan ribuan ibu pekerja konstruksi lainnya, adalah tulang punggung pembangunan Indonesia yang tersembunyi. Mereka adalah saksi hidup bahwa perempuan Indonesia mampu melakukan apa saja, bahkan pekerjaan yang selama ini dianggap hanya untuk laki-laki.
Mereka membuktikan bahwa kekuatan seorang ibu tidak hanya terletak pada kelembutan dan kehangatannya, tetapi juga pada ketangguhannya menghadapi dunia yang tidak selalu ramah. Mereka adalah ibu-ibu yang membangun negeri dengan tangan mereka sendiri, sambil tetap merawat api cinta di hati untuk anak-anak mereka.
Ketika kita melihat gedung-gedung pencakar langit, jembatan-jembatan megah, atau jalan tol yang membelah pulau, ingatlah bahwa di balik semua itu ada tangan-tangan perempuan yang turut merancang dengan tekun bahkan menyusun batu demi batu, mengaduk semen, dan mengangkat beban.
Ingatlah bahwa ada ibu-ibu yang harus meninggalkan anak-anak mereka di pagi buta, berkorban waktu bersama keluarga, demi membangun masa depan Indonesia yang lebih baik. Mereka berhak mendapatkan penghargaan, perlindungan, kesetaraan, dan kesempatan yang sama seperti pekerja laki-laki.
Hari Ibu 2025 dengan tema “Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Emas 2045” adalah pengingat bahwa perjalanan menuju kesetaraan gender masih panjang, tetapi bukan tidak mungkin.
Dengan kebijakan yang tepat, dukungan dari semua pihak, dan perubahan mindset masyarakat, kita bisa menciptakan dunia kerja yang lebih adil dan manusiawi bagi semua pekerja, termasuk ibu-ibu yang berjuang di sektor konstruksi. Mereka bukan hanya membangun fisik Indonesia, tetapi juga karakter bangsa yang tangguh, penuh pengharapan, dan tidak pernah menyerah.
Mari kita hormati mereka, bukan hanya dengan ucapan selamat atau bunga pada Hari Ibu, tetapi dengan tindakan nyata: memperjuangkan hak-hak mereka, mengubah sistem yang tidak adil, dan menciptakan lingkungan kerja yang aman dan layak. Karena ketika kita mengangkat seorang ibu pekerja konstruksi, kita juga mengangkat anak-anaknya, keluarganya, dan pada akhirnya seluruh bangsa.
“Behind every successful working mom is a village of support, resilience, and unwavering determination.” — Hillary Clinton