CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN DELAPAN
Putry tiba di Jakarta dua minggu setelah Made.
Made tahu sebelum email itu datang.
Ia tidak bilang ini kepada siapapun , tidak juga kepada Putry ketika email itu akhirnya tiba dengan subjek “Hei, aku juga di Jakarta sekarang.”
Tapi dua hari sebelumnya, saat sedang minum kopi pagi di teras Om Nuntung, ada sebuah gambaran yang muncul begitu saja: wajah Putry dengan koper besar di tangan, berdiri di depan sebuah gedung apartemen yang tidak ia kenal, dengan ekspresi yang berusaha terlihat tenang tapi gagal.
Gambaran itu berlangsung kurang dari tiga detik. Tapi cukup.
Made menghela napas panjang saat itu, meletakkan cangkir kopinya, dan berbisik kepada dirinya sendiri: Aduh, Put.
Karena ia tahu — meski gambaran itu tidak menunjukkan alasannya — bahwa Putry tidak pindah ke Jakarta karena pekerjaan.
Mereka bertemu untuk pertama kalinya di Jakarta di sebuah restoran Makassar di Tebet. Putry menjawab dengan enteng, terlalu enteng, ketika Made menanyakannya langsung.
“Dapat tawaran kerja yang bagus. Di bidang desain grafis.”
“Putry.”
“Ya?”
“Jujur.”
Gadis itu akhirnya menurunkan daftar menunya. Menatap Made dengan mata yang berusaha terlihat biasa-biasa saja, tapi gagal total.
“Aku sudah tidak ada alasan untuk bertahan di Makassar kalau orang yang membuatku betah di sana sudah tidak ada di sana,” kata Putry pelan.
Made menghela napas. Ia tidak bisa pura-pura terkejut dan ia tidak mencoba pura-pura terkejut.
“Put—”
“Jangan khawatir,” potong Putry cepat. “Aku bukan di sini untuk mengejar-ngejar kamu. Aku sudah tahu perasaanmu.”
Senyum yang sedikit terlalu rapi. “Aku cuma ingin tetap dekat dengan teman baikku. Boleh kan?”
Made memandang perempuan di hadapannya. Di balik senyum yang terlalu rapi itu, inderanya menangkap sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa: lapisan-lapisan perasaan yang disusun dengan sangat rapi oleh seseorang yang sudah berlatih merapikannya bertahun-tahun.
Putry bukan perempuan yang lemah. Justru sebaliknya , kekuatannya terlalu besar hingga ia sanggup menyembunyikan sakitnya bahkan dari orang yang mengenalnya paling dekat.
Maafkan aku, Put, pikir Made. Aku tidak pernah bermaksud menjadi penyebab itu.
“Boleh,” kata Made akhirnya. “Selalu boleh.”
Putry mengangguk dan kembali menatap papan menu.
Made menatap meja di antara mereka. Terkadang, kemampuan membaca hal-hal yang tidak terucapkan itu bukan hadiah. Terkadang, itu hanya membuatmu menanggung pengetahuan yang tidak sanggup kamu lakukan apa-apapun dengannya.
Sebuah lagu khas Makassar berjudul “Cinna’ – Anci Laricci” terdengar syahdu mengiringi pertemuan mereka di tempat itu