Catatan Dari Hati

CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KESEBELAS

Dua hari kemudian, Made berdiri di depan gedung Spectrum Communications di kawasan Kuningan.

Ia datang bukan karena rencana. Ia datang karena inderanya sudah dua hari ini mengirimkan sinyal yang tidak bisa ia abaikan lagi — bukan gambaran yang jelas, hanya tarikan. Seperti seseorang yang memanggil namamu dari ruangan sebelah, suaranya tidak cukup keras untuk kamu dengar kata-katanya, tapi cukup untuk membuatmu tahu bahwa ada suara.

Ia berdiri di trotoar. Memandang gedung itu.

Apakah kamu di dalam sana? pikirnya. Apakah di balik salah satu jendela itu ada perempuan bermata lembut yang sedang minum teh sambil memutar-mutar cangkirnya?

Ia tidak mencoba melihat. Ia menghormati batasnya sendiri — batas yang Pak Hasan sudah ajarkan: bahwa mengintip kehidupan seseorang menggunakan indera itu, tanpa izin, adalah pelanggaran yang jauh lebih serius daripada yang kebanyakan orang pahami.

Maka ia hanya berdiri. Menunggu. Membiarkan apapun yang akan terjadi, terjadi dengan cara yang paling manusiawi.

Dan kemudian seseorang menabrak bahunya dari belakang.

“Aduh, maaf—” suara perempuan itu terputus.

Made berbalik.

Ia tidak membutuhkan indera keenamnya untuk mengenali wajah itu. Cukup mata biasa. Cukup memori yang sudah bertahun-tahun menyimpan setiap detailnya.

Andini.

Tidak ada pelangi seperti dalam mimpinya. Tidak ada tebing yang runtuh. Hanya trotoar Kuningan yang ramai dan wajah yang sudah terlalu lama hanya hidup di dalam kepalanya, kini nyata, berjarak satu langkah, dengan mata yang menatapnya dengan campuran keterkejutan dan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kaget.

“Made?” suaranya keluar hampir tanpa disengaja.

“Hei,” kata Made pelan.

Dan di balik kata sesederhana itu, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya ketika kemampuannya bekerja: bukan gambaran masa depan, bukan peringatan, bukan tanda. Hanya ketenangan.

Seperti kompas yang selama ini jarum-jarumnya terus bergetar , akhirnya berhenti. Menunjuk ke satu arah. Diam dan pasti.

Kamu ada di sini, batinnya. Akhirnya.

“Kamu… kamu di Jakarta?” suara Andini memecah lamunannya.

“Baru pindah.” Ia memasukkan tangannya ke saku celana. “Kamu… baik-baik saja?”

Andini menatapnya. Dan Made, dengan indera yang sudah bertahun-tahun ia asah, membaca matanya seperti ia membaca halaman yang familier: ada kebaikan di sana, ada kelelahan, ada pertanyaan yang tidak siap ditanyakan, ada sesuatu yang sedang ia tanggung sendirian.

“Baik,” kata Andini. Satu kata. Yang artinya jauh lebih dari itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *