Catatan Dari Hati

CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KEDUABELAS

Mereka minum kopi.

Tidak ada rencana untuk itu — Andini seharusnya kembali ke kantor, Made seharusnya ada di pertemuan klien — tapi entah bagaimana keduanya berjalan bersama ke kafe kecil di sudut gedung sebelah, memesan dua cangkir kopi, dan duduk berhadapan di meja paling pojok.

Selama beberapa menit pertama, tidak ada yang berbicara.

Made menggunakannya untuk menenangkan inderanya. Karena duduk semeja dengan Andini setelah selama ini hanya bertemu dalam gambaran-gambaran yang tidak jelas terasa seperti terlalu banyak informasi yang datang sekaligus , bukan gambaran masa depan, bukan sinyal, tapi kehadiran yang terlalu nyata hingga ia butuh waktu sebentar untuk menyesuaikan diri.

Ini nyata, ucapnya dalam hati. Ini bukan firasat. Ini bukan latihan. Ini Andini, duduk di depanmu, memutar-mutar cangkir kopinya persis seperti dulu.

“Sudah berapa lama di Jakarta?” tanya Andini.

“Hampir sebulan.”

“Kerja di mana?”

“Konsultan manajemen. Di Sudirman.”

Andini mengangguk. Made memperhatikan tangannya , cara memutar cangkir itu. Kebiasaan lama yang tidak berubah. Dan dari kebiasaan kecil itu, inderanya membaca sesuatu yang lebih besar: ini adalah tangan seseorang yang terbiasa memendam sesuatu sendirian, yang mencari pegangan kecil di saat-saat tidak menentu.

“Kamu masih suka hujan?” tanya Made tiba-tiba.

Andini mendongak. Matanya sebentar menyimpan ekspresi yang sulit dibaca. “Masih. Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Hanya bertanya.” Made tersenyum. “Beberapa hal yang tidak berubah itu selalu menyenangkan untuk dikonfirmasi.”

Yang tidak ia katakan: bahwa setiap kali inderanya mencoba menjangkau frekuensi Andini selama bertahun-tahun dan mendapatkan kabut putih yang hangat — ia selalu membayangkan kabut itu bau hujan. Dan sekarang ia tahu mengapa.

“Kamu masih suka keluar malam dan mengobrol dengan orang asing?” tanya Andini.

Made terkekeh. “Mungkin iya. Kamu masih suka marah kalau nasi gorengmu terlalu pedas?”

“Aku tidak pernah marah,” protes Andini, tapi bibirnya melengkung ke atas.

“Kamu melempar serbet ke mejaku.”

“Itu bukan melempar, itu menaruh dengan dramatis.”

Mereka tertawa , tawa kecil, spontan, yang muncul sebelum keduanya sempat menghalang-halanginya.

Dan dalam tawa itu, Made merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan dari kemampuannya: kesederhanaan. Bahwa momen ini — dua orang yang tertawa bersama karena kenangan tentang serbet — lebih nyata dan lebih bermakna dari seribu gambaran masa depan yang pernah ia lihat.

Lalu Andini melihat jam tangannya.

“Aku harus kembali ke kantor.”

Made berdiri bersamaan dengannya.

Di depan kafe, Andini mengulurkan tangannya — jabatan tangan yang resmi dan berjarak. Tapi tangannya bergetar sedikit.

Dan inderanya — yang tidak pernah bisa ia matikan — menangkap itu. Bukan sebagai sinyal, hanya sebagai manusia yang bisa membaca manusia lain: bahwa pertemuan ini bukan tanpa dampak. Bagi keduanya.

“Andini,” kata Made sebelum ia berbalik. “Aku senang ketemu kamu.”

Perempuan itu berhenti. Menatapnya sebentar.

“Aku juga,” bisiknya. Kemudian berbalik dan melangkah pergi.

Made berdiri memandangi punggungnya. Di saku kemejanya, ponselnya bergetar — pesan dari Putry. Bukan dari Tuan Putri Malam.

“Made, kamu di mana? Perlu ngobrol. Penting.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *