CINTA DAN JALAN PULANG TAK BERTEPI – BAGIAN KETIGABELAS
Putry berdiri di lobi gedung kantor Made dengan wajah yang belum pernah Made lihat sebelumnya , campuran antara marah, khawatir, dan sesuatu yang lebih dalam dari keduanya.
“Aku ketemu Randy tadi siang,” kata Putry langsung setelah Made tiba.
Ia menariknya ke sudut lobi yang sepi dan menceritakan semuanya: Randy di kafe, perempuan lain, cara Randy menatap perempuan itu.
Made mendengarkan.
Tapi di dalam, inderanya sedang bekerja dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bukan melihat ke depan. Bukan membaca sinyal. Hanya… mengkonfirmasi. Karena apa yang
Putry ceritakan adalah sesuatu yang sudah ia rasakan — meski tidak ia lihat dengan jelas — sejak pertemuan singkat dengan Randy di acara networking: ada sesuatu yang retak di sana, ada sesuatu yang tidak beres.
Jadi benar, batinnya.
“Kamu mau lapor ke Andini?” tanya Made.
“Itu yang aku mau tanyakan ke kamu. Karena aku tahu kamu baru saja ketemu Andini. Kamu kelihatan beda waktu balas pesanku.”
Made menatapnya. Selalu begitu , Putry yang paling tahu wajah palsunya.
“Aku baru ketemu dia dua jam lalu,” akui Made.
Putry menutup matanya sebentar. “Bagaimana?”
“Baik. Singkat.” Made berhenti. “Tapi matanya, Put—”
“Matanya bagaimana?”
“Seperti seseorang yang sedang memendam sesuatu yang berat sendirian.”
Ia memandang lantai lobi. “Aku bisa membacanya. Selalu bisa membacanya. Dan yang kubaca bukan kebahagiaan.”
Putry memandangnya lama. Ada sesuatu di matanya , bukan cemburu, bukan tuduhan. Hanya tatapan seseorang yang sedang menimbang-nimbang sesuatu dengan sangat serius.
“Made,” katanya pelan. “Kamu menggunakan kemampuanmu untuk membaca Andini?”
“Bukan dengan sengaja. Aku tidak pernah mencoba menjangkau Andini dengan inderaku, kabut itu selalu menghalangi. Tapi saat berhadapan langsung…” ia menggeleng. “Beberapa hal tidak bisa tidak dibaca.”
“Dan kamu percaya pada yang kamu baca itu?”
“Selalu.”
Putry mengangguk pelan. Lalu: “Tapi ada pertanyaan yang harus kamu jawab jujur pada dirimu sendiri, Made. Apakah kamu akan memberitahu Andini karena kamu peduli padanya? Atau karena kamu berharap dengan runtuhnya hubungan itu, ada ruang untuk kamu masuk?”
Pertanyaan itu menghantam Made lebih keras dari yang ia perkirakan.
Dan kemampuannya — yang biasanya membantu ia melihat hal-hal dengan lebih jernih — kali ini tidak memberinya jawaban. Karena pertanyaan itu bukan tentang masa depan. Bukan tentang sinyal atau gambaran.
Pertanyaan itu tentang dirinya sendiri. Dan itu adalah satu-satunya hal yang inderanya tidak pernah bisa lihat dengan jernih.
“Aku tidak tahu,” kata Made akhirnya, jujur.
Putry mengangguk , bukan anggukan setuju, tapi anggukan seseorang yang sudah menduga jawabannya.
“Kalau begitu, mungkin yang lebih baik adalah membiarkan Andini menemukan kebenarannya sendiri. Bukan dari kita. Karena kalau kamu yang memberitahunya, Made , apapun yang terjadi setelah itu, kamu tidak akan pernah tahu: apakah dia memilihmu karena dia benar-benar memilihmu, atau karena dia tidak punya pilihan lain.”
Sebelum keluar, Putry berhenti di depan pintu.
“Dan aku bilang ini bukan sebagai orang yang cemburu. Aku bilang ini sebagai orang yang cukup mencintaimu untuk tidak mau melihatmu membangun sesuatu di atas pondasi yang goyah.”
Pintu terbuka. Putry menghilang ke dalam sore Jakarta yang mulai memerah.
Made berdiri sendirian. Di tangannya, ponsel yang masih menampilkan namanya sendiri — dark-knight.
Ia menatap nama itu lama.
Selama berminggu-minggu, ia berbicara dengan tuan-putri-malam — dengan seseorang yang tidak ia tahu namanya, yang kata-katanya terasa seperti berasal dari frekuensi yang sama.
Dan inderanya, yang tidak pernah bisa ia matikan sepenuhnya, sudah lama meniupkan sesuatu tentang percakapan-percakapan itu. Sesuatu yang belum cukup jelas untuk ia percayai.
Tapi malam itu ia tidak membuka Yahoo Messenger.
Karena ada hal-hal yang harus ia pikirkan terlebih dahulu , sendirian, tanpa bantuan indera apapun.