Catatan Dari Hati

Satu Nama, Sejuta Luka: Ketika Bioskop Memeluk Michael Jackson

Dunia telah lama menunggu momen ini.

Bukan sekadar sebuah film, melainkan sebuah peristiwa : upaya gigantik untuk meletakkan satu nama terbesar dalam sejarah musik populer ke atas layar dengan cara yang jujur, penuh cinta, namun tidak buta.

Dan ketika layar itu akhirnya menyala di Berlin pada 10 April 2026, saat Michael memulai perjalanan perdananya di hadapan dunia, yang terdengar bukan hanya gemuruh tepuk tangan, melainkan juga isak tangis jutaan orang yang pernah tumbuh besar bersama lagu-lagu sang Raja Pop.

Michael (2026) adalah film biografi musikal garapan sutradara Antoine Fuqua, yang selama ini dikenal lewat karya-karya tegang penuh adrenalin seperti Training Day dan trilogi The Equalizer.

Kali ini, Fuqua menanggalkan senapannya dan mengangkat sesuatu yang jauh lebih berat: kenangan kolektif umat manusia tentang seorang anak kecil berbakat dari Gary, Indiana, yang tumbuh menjadi entitas paling bersinar dalam sejarah hiburan dunia.

Skenario ditulis oleh John Logan, penulis berpengalaman di balik Gladiator, The Aviator, serta dua film James Bond (Skyfall dan Spectre). Kolaborasi antara Fuqua dan Logan menghasilkan sebuah kisah yang bergerak dari masa kecil Michael bersama Jackson 5 di era 1960-an hingga puncak kejayaan solo karier awalnya, dengan soundtrack yang menampilkan 13 lagu ikonik mencakup materi dari album Off the Wall (1979), Thriller (1982), dan Bad (1987).

Namun di atas semua elemen produksi yang megah itu, ada satu pilihan casting yang menjadi jantung dari seluruh proyek ini: Jaafar Jackson. Lahir pada 25 Juli 1996, Jaafar adalah keponakan kandung Michael Jackson dan putra dari Jermaine Jackson.

Ini adalah penampilan akting pertamanya dalam sebuah film layar lebar , sebuah pertaruhan luar biasa yang, berdasarkan reaksi awal para kritikus, tampaknya berhasil dimenangkan dengan gemilang.

Proses casting sendiri bukan hal yang mudah. Jaafar mengungkapkan bahwa ia menjalani proses audisi selama dua tahun penuh yang ia gambarkan sebagai “tidak konvensional.”

Sang nenek, Katherine Jackson?—?ibu kandung Michael?—?dengan hangat menyetujui pilihan ini, mengatakan bahwa Jaafar “benar-benar menjelma” menjadi putranya.

Jaafar sendiri mempersiapkan diri dengan cara yang luar biasa disiplin: dua tahun penelitian mendalam, latihan gerakan tari berjam-jam setiap hari di depan cermin, mempelajari rekaman arsip, mendengarkan musik, hingga menyelami tulisan-tulisan pribadi sang paman.

Para koreografer yang pernah bekerja langsung dengan Michael Jackson pun dilibatkan untuk melatihnya. Seperti yang ia ungkapkan kepada Jimmy Fallon, “Mereka langsung melemparkanku ke ujung kolam yang paling dalam.” Namun ia berenang. Dan ia berenang dengan indah.

Para kritikus yang menyaksikan pemutaran perdana di Berlin bereaksi dengan antusias yang sulit disembunyikan. Cinemablend melaporkan beragam pujian yang deras mengalir: “Jaafar Jackson memukau dan memesona, dan benar-benar menjelma menjadi Michael Jackson. Colman Domingo (pemeran ayah Michael Jackson) luar biasa dan menunjukkan mengapa ia adalah salah satu yang terbaik”.

Adegan-adegan musik yang menakjubkan menjadikan ini tontonan wajib.” Satu ulasan menyebutnya “genuinely uncanny” , sebuah ungkapan yang berarti betapa mencengangkannya kemiripan Jaafar dengan sang paman, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam cara tubuhnya bergerak, cara suaranya terbentuk, dan cara matanya menyimpan kesedihan di balik senyum yang paling terang sekalipun.

Yang membuat penampilan Jaafar benar-benar melampaui ekspektasi bukanlah kemampuannya meniru gerakan moonwalk atau mereplikasi falseto yang terkenal itu meskipun keduanya ia lakukan dengan presisi yang mendebarkan.

Yang membuat penonton terdiam adalah keberanian Jaafar untuk menampilkan sisi Michael yang paling manusiawi: seorang pria yang kesepian di tengah keramaian, yang terluka jauh sebelum dunia punya kesempatan untuk melukainya.

Sebuah ulasan dari Discussing Film menyatakan, “Jika ada yang layak dipuji dari Jaafar Jackson dan Antoine Fuqua, itu adalah keberanian mereka untuk tidak hanya membuat ulang kehidupan MJ dengan mudah. Keduanya benar-benar menangkap bagaimana MJ adalah individu yang sangat kesepian dan terluka oleh ketenaran ,menunjukkan kelemahannya di samping kebaikannya.”

Di sisi pemeran pendukung, Colman Domingo tampil sebagai Joe Jackson, sang ayah yang kontroversial : sosok yang dengan tangan besinya membentuk para putranya menjadi mesin hiburan, tetapi dengan cara yang meninggalkan luka tak kasat mata pada jiwa-jiwa muda mereka.

Domingo, yang sebelumnya mencuri perhatian dunia lewat Sing Sing, memberikan penampilan yang oleh banyak kritikus disebut sebagai kandidat terkuat untuk penghargaan pendukung terbaik tahun ini.

Ia tidak memainkan Joe Jackson sebagai penjahat sederhana, melainkan sebagai manusia kompleks yang keyakinan dan kekerasannya lahir dari sebuah dunia yang tidak pernah memberinya pilihan lain.

Nia Long memerankan Katherine Jackson, sang ibu yang kehadirannya menjadi sumber kelembutan di tengah keluarga yang penuh tekanan. Long membawa kehangatan dan kerapuhan yang pas untuk sosok perempuan yang harus menyaksikan putranya dipersembahkan kepada dunia jauh sebelum ia sempat sepenuhnya menjadi seorang anak.

Miles Teller?—?yang telah membuktikan dirinya lewat Whiplash dan Top Gun: Maverick?—?berperan sebagai John Branca, pengacara bisnis berpengaruh Michael Jackson. Laura Harrier memerankan Suzanne de Passe, eksekutif Motown yang menjadi salah satu orang pertama yang melihat kilau luar biasa dalam diri anak-anak Jackson 5. Sementara Kendrick Sampson tampil sebagai Quincy Jones, Larenz Tate sebagai Berry Gordy, Kat Graham sebagai Diana Ross, dan Derek Luke sebagai Johnnie Cochran.

Film ini tidak berjalan tanpa guncangan. Proses produksinya panjang dan berliku: tertunda akibat pemogokan SAG-AFTRA 2023, baru mulai syuting pada Januari 2024 dan selesai Mei di tahun yang sama.

Kemudian datang kabar tentang proses pengambilan ulang adegan yang cukup besar?—?sebuah penghujung cerita orisinal dinyatakan “tidak dapat digunakan” karena alasan hukum yang rumit, terkait klausul dalam perjanjian damai yang pernah ditandatangani Michael Jackson yang membatasi penggambaran tokoh-tokoh tertentu dalam karya fiksi.

Anggaran produksi pun dilaporkan membengkak hingga 200 juta dolar Amerika. Putri Michael, Paris Jackson, secara terbuka menyatakan tidak dilibatkan dalam proses pembuatan dan mengkritik naskah awal sebagai terlalu menutupi sisi-sisi kelam sang ayah.

Semua kontroversi ini justru menjadi cermin bagi betapa rumit dan berwarna-warninya warisan yang hendak dirayakan film ini.

Antoine Fuqua dengan cerdas memilih untuk tidak membuat film ini sebagai pembelaan ataupun penghakiman. Michael adalah sebuah portret, gambar besar seorang manusia yang dilahirkan dengan bakat yang begitu menyilaukan sehingga dunia lupa bertanya apakah ia baik-baik saja.

Film ini dimulai dari awal yang paling sederhana: seorang anak kecil di Gary, Indiana, dengan suara yang mampu membuat orang dewasa berhenti dan menoleh. Kemudian kita menyaksikan perjalanan itu , dari panggung-panggung kecil bersama saudara-saudaranya, ke studio Motown yang menentukan nasib, hingga ke pentas-pentas dunia yang menjadikan satu nama itu sebagai simbol dari sebuah era.

Adegan-adegan konser direkam dengan penuh semangat, dengan lebih dari 400 figuran yang memenuhi stadion buatan, menciptakan energi yang terasa nyata dan menular.

Kostum-kostum ikonik?—?jaket militer, sarung tangan putih, sepatu loafer hitam, setelan merah Thriller?—?direkonstruksi dengan ketelitian tinggi oleh desainer kostum Marci Rodgers.

Dan di atas panggung itu, Jaafar Jackson bergerak seolah tubuhnya telah menyimpan memori otot yang melampaui latihan , seolah ada sesuatu dalam darahnya yang mengingatnya tentang cara seorang Michael Jackson berdiri di bawah sorotan lampu dan mengubah seluruh ruangan menjadi miliknya.

Film berdurasi sekitar dua jam sepuluh menit ini?—?dipangkas dari rancangan awal yang sempat mencapai empat jam?—?memiliki beberapa kelemahan yang diakui para kritikus.

Ritme cerita di bagian tengah terasa kurang konsisten, dan penghujung cerita, meskipun telah melalui pengambilan ulang yang mahal, masih dianggap belum sepenuhnya memuaskan oleh sebagian penonton.

Namun kelemahan-kelemahan itu terasa kecil dibandingkan dengan kekuatan keseluruhan karya ini: sebuah pernyataan sinematik yang berani tentang betapa mahalnya harga dari kejeniusan, dan betapa sunyi kehidupan seorang yang dicintai seluruh dunia namun tidak pernah benar-benar dipahami oleh siapapun.

Michael tayang di Amerika Serikat pada 24 April 2026 dalam format IMAX, didistribusikan oleh Lionsgate di Amerika dan Universal Pictures di seluruh penjuru dunia lainnya.

Dengan anggaran sebesar 200 juta dolar dan ekspektasi pendapatan yang mengincar angka 700 juta dolar secara global?—?mendekati rekor Bohemian Rhapsody yang meraup 910 juta dolar pada 2018?—?film ini membawa beban yang sangat besar di pundaknya. Namun beban itu tidak terasa berat di tangan Fuqua dan Jaafar Jackson.

Pada akhirnya, Michael bukan sekadar film tentang seorang bintang. Ini adalah film tentang apa yang terjadi ketika kita mengambil seorang anak dari masa kecilnya, meletakkannya di atas altar ketenaran, dan memanggilnya dengan nama yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Ini adalah pertanyaan yang belum pernah benar-benar kita jawab sebagai masyarakat: apakah kita pernah benar-benar mengenal Michael Jackson? Atau kita hanya mengenal pantulan diri kita sendiri yang bersinar dari panggungnya?

Saat lampu teater menyala kembali, dan deruman musik Thriller masih bergema di dalam dada, jawabannya terasa seperti ini: mungkin kita tidak pernah benar-benar mengenalnya. Tetapi berkat film ini, untuk pertama kalinya, kita sangat ingin mencoba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *