Aspal yang Berakhir di Tepi Zaman: Catatan Cinta untuk Film “The End of Oak Street”
ebuah jalan perumahan biasanya tidak menyimpan janji apa pun. Ia hanya aspal, kotak surat, sepeda yang disandarkan sembarangan, dan bunyi mesin pemotong rumput pada Sabtu pagi.
Namun David Robert Mitchell, sutradara yang delapan tahun lamanya menghilang dari layar lebar setelah Under the Silver Lake, memutuskan bahwa jalan semacam itu layak menjadi panggung bagi salah satu tontonan paling menggetarkan musim panas ini.
Ia mengangkat satu ruas jalan di pinggiran kota Amerika tahun 1980 an, mencabutnya dari peta, lalu menjatuhkannya di suatu tempat yang tidak lagi mengenal kalender manusia.
Di ujung Oak Street, tempat yang seharusnya bercabang menuju kompleks sebelah, kini menganga sebuah tebing. Dan dari balik pepohonan, terdengar raungan makhluk yang seharusnya sudah punah jutaan tahun lalu.
Premisnya sederhana sampai nyaris konyol, dan justru di situlah keberanian film ini.
Mitchell tidak repot menjelaskan mengapa peristiwa kosmis itu terjadi. Tidak ada ilmuwan yang berdiri di depan papan tulis sambil menerangkan lipatan ruang dan waktu.
Penonton dilempar begitu saja ke dalam kebingungan yang sama dengan yang dirasakan keluarga Platt, dan keputusan itu terasa murah hati.
Sebab film ini sesungguhnya tidak sedang bertanya tentang fisika. Ia sedang bertanya tentang sesuatu yang jauh lebih tua daripada dinosaurus mana pun, yaitu apa yang tersisa dari sebuah keluarga ketika segala hal yang menopangnya lenyap dalam semalam.
Anne Hathaway berperan sebagai Denise Platt, dan ia memberi salah satu penampilan paling membumi dalam kariernya. Denise bukan pahlawan. Ia perempuan yang jelas sudah lelah bahkan sebelum bencana datang, yang menyimpan kelelahannya di sudut mulut dan di jeda kecil sebelum menjawab pertanyaan anaknya.
Ketika dunia runtuh, Hathaway tidak memainkannya sebagai kebangkitan heroik. Ia memainkannya sebagai keputusan yang diambil berulang kali, setiap jam, untuk tidak menyerah dulu hari ini.
Ewan McGregor sebagai Greg melengkapinya dengan cara yang berbeda. Greg adalah ayah yang terbiasa memperbaiki keran bocor dan mengganti bohlam, dan kini dihadapkan pada kerusakan yang sama sekali di luar kemampuannya.
Ada keharuan tersendiri melihat lelaki yang seluruh identitasnya dibangun dari kemampuan menyelesaikan masalah kecil, tiba tiba berdiri tanpa kunci pas di hadapan sesuatu setinggi rumahnya.
Dua anak mereka, Audrey yang diperankan Maisy Stella dan Brian yang dihidupkan Christian Convery, menjadi denyut emosional film ini.
Stella memberi Audrey kegelisahan remaja yang jujur, campuran antara ingin lepas dari orang tua dan ketakutan bahwa mereka benar benar akan hilang. Convery, dengan mata yang terlalu paham untuk anak seusianya, memikul beban rasa ingin tahu sekaligus rasa takut.
Dan tentu saja ada Starbuck, anjing keluarga yang entah bagaimana menjadi salah satu karakter paling dicintai penonton pada pemutaran perdana.
Kehadiran binatang peliharaan dalam film bencana sering menjadi alat murahan untuk memancing air mata. Di sini, Starbuck justru berfungsi sebagai pengingat bahwa keluarga adalah lingkaran yang batasnya kita tentukan sendiri, dan bahwa kita akan mempertaruhkan banyak hal demi siapa pun yang berada di dalam lingkaran itu.
Secara visual, Mitchell jelas sedang bercakap cakap dengan masa kecilnya sendiri. Cahaya senja yang keemasan, sepeda yang melintas di trotoar, garasi yang terbuka setengah, semuanya membangkitkan ingatan pada tontonan keluarga era 1980 an yang dulu membentuk selera sinema banyak orang.
Namun Mitchell bukan tukang nostalgia yang malas. Ia menyisipkan kegelapan yang tidak biasa, humor yang nyaris absurd, dan kekejaman yang mengejutkan. Beberapa adegan serangan dirancang dengan kesabaran yang membuat bulu kuduk berdiri, memanfaatkan ruang ruang sempit rumah tinggal sebagai arena teror.
Musik gubahan Michael Giacchino mengikat semuanya dengan kehangatan yang justru membuat kengerian terasa lebih pedih. Ada momen ketika partitur itu menahan diri, membiarkan sunyi berbicara, dan di situlah film ini paling kuat.
Kejujuran menuntut saya mengakui bahwa The End of Oak Street bukan karya tanpa cela. Sejumlah kritikus menilai film ini terlalu banyak berutang pada Jurassic Park, dan tuduhan itu tidak sepenuhnya keliru.
Beberapa rangkaian ketegangannya terasa seperti variasi atas melodi yang sudah kita hafal. Logika ceritanya pun kerap goyah bila ditelisik dengan kepala dingin, dan penonton yang gemar membedah setiap sebab akibat akan menemukan banyak lubang.
Durasi satu jam tiga puluh sembilan menit juga membuat beberapa gagasan tentang keretakan rumah tangga dan tentang hubungan manusia dengan alam tidak sempat mekar sepenuhnya. Film ini menyentuh tema tema besar itu, lalu bergegas kembali ke aksi.
Namun kekurangan tersebut terasa kecil dibanding apa yang berhasil dicapainya. Dalam lanskap perfilman yang dipenuhi kelanjutan cerita dan semesta bersambung, sebuah film besar yang lahir dari gagasan asli, yang berani bertaruh pada pesona kelima anggota keluarga dan seekor anjing, layak dirayakan.
Ironisnya, film ini sempat diperlakukan kurang baik oleh studionya sendiri. Judulnya diganti di menit menit terakhir, jadwal tayangnya berpindah berkali kali, dan kampanye promosinya sempat menuai kecaman karena penggunaan konten hasil rekaan mesin. Perkiraan pembukaannya pun jauh di bawah potensi sesungguhnya.
Sungguh menyedihkan menyaksikan karya yang begitu tulus hampir tenggelam sebelum sempat bertemu penontonnya.
Yang paling melekat setelah lampu menyala bukanlah dinosaurus, melainkan gambaran sebuah jalan yang berakhir mendadak.
Kita semua, pada satu titik, pernah berdiri di tepi semacam itu.
Sebuah kabar dari dokter, sebuah amplop pemutusan kerja, sebuah percakapan yang mengubah segalanya.
Dunia yang kita kenal dicabut tanpa permisi, dan yang tersisa hanya orang orang di sekitar kita serta pilihan untuk saling menggenggam atau berpencar.
Mitchell memahami hal ini dengan sangat baik. Ia membungkusnya dalam tontonan penuh raungan dan debu, tetapi inti ceritanya adalah bisikan yang lembut, bahwa rumah tidak pernah benar benar berupa bangunan, melainkan kesediaan untuk tetap tinggal bersama ketika tinggal adalah hal yang paling sulit.
Tayang mulai empat belas Agustus, film ini pantas ditonton di layar terbesar yang bisa Anda temukan.
Bukan semata demi kemegahan makhluk purbanya, melainkan demi kesempatan langka menyaksikan sebuah tontonan besar yang masih percaya bahwa hal paling menakjubkan di layar adalah wajah manusia yang sedang berjuang untuk tidak kehilangan orang orang yang dicintainya.