Catatan Dari Hati

Di Balik Ledakan dan Darah: Cerita Cinta yang Tak Terpadamkan dalam Film “Sisu : Road to Revenge”

Ada keheningan yang lebih mengerikan daripada teriakan perang. Ada kesunyian yang lebih keras daripada ledakan bom. Dalam Sisu: Road to Revenge, sutradara Finlandia Jalmari Helander membuktikan bahwa kekuatan sejati manusia tak selalu diukur dari kata-kata yang diucapkannya, melainkan dari tekad yang mengalir dalam darahnya.

Film sekuel yang tayang di Amerika Serikat pada 21 November 2025 ini bukan sekadar pelanjut kisah, tetapi sebuah pernyataan berani tentang martabat manusia yang tak bisa dipatahkan.

Kisah dimulai di tahun 1946, ketika Aatami Korpi—yang kembali diperankan dengan penuh intensitas oleh Jorma Tommila—pulang ke wilayah Karelia yang kini dikuasai Soviet. Di tanah yang penuh kenangan kelam itu, rumah tempat keluarganya dibantai selama Perang Dunia II masih berdiri, meskipun rapuh dan ditinggalkan.

Dalam keputusan yang tampak sederhana namun syarat makna, Aatami memutuskan untuk membongkar rumah itu balok demi balok, memuatnya ke truk, dan membangunnya kembali di tempat yang aman. Ini bukan sekadar tentang rumah. Ini tentang memori, tentang kehormatan, tentang menghidupkan kembali cinta yang telah mati dalam kekejaman perang.

Namun takdir berkata lain. Kedatangan Aatami tidak luput dari perhatian Tentara Merah. Lebih buruk lagi, Igor Draganov—komandan yang bertanggung jawab atas pembunuhan keluarga Aatami—kembali muncul dengan satu misi: menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.

Diperankan oleh veteran layar lebar Stephen Lang—yang dikenal dari karya-karyanya di Avatar dan Don’t Breathe—Draganov adalah antagonis yang sempurna: kejam, tanpa ampun, namun sepenuhnya manusiawi dalam ambisinya. Lang membawa aksen tebal dan energi psikotik yang membuat setiap kemunculannya di layar terasa seperti ancaman nyata.

Yang menakjubkan dari Sisu: Road to Revenge adalah bagaimana film berdurasi 88 menit ini berhasil menyampaikan emosi mendalam dengan dialog minimal. Aatami hampir tidak berbicara sepanjang film, namun setiap tatapan matanya, setiap gerakan tubuhnya, setiap luka yang ia terima, semuanya berbicara lebih keras daripada seribu kata.

Tommila, yang kini berusia 60-an tahun, menjalani peran fisik yang sangat menuntut dengan dedikasi luar biasa. Ia pernah menyatakan dalam wawancara bahwa ia menerapkan pelajaran dari sutradara teater legendaris Finlandia Jouko Turkka untuk bertahan dalam peran yang menguras tenaga ini.

Helander, sang sutradara yang sebelumnya menciptakan film pertama Sisu dengan anggaran sekitar 6 juta euro, kini kembali dengan sekuel yang memiliki anggaran dua kali lipat sekitar 11 juta euro, menjadikannya salah satu film Finlandia termahal yang pernah dibuat. Namun dana yang lebih besar ini tidak disia-siakan.

Setiap sen terasa hadir di layar—dari adegan kejar-kejaran lintas negara yang mencekam, hingga adegan aksi yang menampilkan pesawat, kereta api, mobil, bahkan tank. Ya, Anda tidak salah baca. Ada adegan di mana protagonis kita melakukan salto dengan tank, dan entah bagaimana, Helander membuatnya terasa masuk akal dalam dunia yang ia ciptakan.

Film ini juga diperkuat oleh kehadiran Richard Brake, yang berperan sebagai perwira KGB yang mengirim Draganov untuk menangkap Korpi. Brake, yang dikenal dari perannya di Barbarian dan serial Mayor of Kingstown, membawa nuansa ancaman birokratis yang dingin—jenis kejahatan yang bersembunyi di balik meja dan dokumen resmi.

Yang membuat Sisu: Road to Revenge begitu istimewa adalah cara film ini menggabungkan kengerian perang dengan semangat hidup yang tak terpadamkan. Helander sendiri mengakui bahwa nada film ini terinspirasi dari Indiana Jones, James Bond, dan film-film Buster Keaton.

Hasilnya adalah sebuah karya yang serius namun tidak tanpa humor, brutal namun tidak kehilangan kemanusiaan. Ada momen-momen yang membuat penonton terpingkal karena absurditas yang disengaja, namun tidak pernah terasa memaksa atau keluar dari karakter.

Secara teknis, film ini adalah mahakarya aksi modern. Sinematografi menangkap keindahan dingin lanskap Estonia—di mana film ini direkam, bukan di Lapland seperti film pertama—dengan palet warna yang sedikit lebih hangat dan organik, mencerminkan pergeseran motivasi protagonis dari emas ke kayu, dari kekayaan material ke warisan emosional.

Koreografi aksi dirancang dengan presisi bedah, menggabungkan kerja stunt praktis dengan efek CGI minimal untuk menciptakan urutan yang terasa nyata dan mendebarkan.

Namun di balik semua kekacauan darah dan ledakan, ada hati yang berdetak. Ini adalah cerita tentang seorang pria yang kehilangan segalanya namun menolak untuk kehilangan martabatnya.

Ini tentang bagaimana cinta bisa bertahan bahkan ketika objek cinta itu telah lama tiada. Aatami tidak hanya membawa balok-balok kayu di truknya—ia membawa ingatan akan kehangatan, tawa, dan kehidupan yang pernah ia miliki. Setiap papan adalah doa, setiap paku adalah janji untuk tidak melupakan.

Resepsi kritis terhadap film ini sangat positif. Rotten Tomatoes mencatat 95% ulasan positif dari 43 kritikus, dengan konsensus yang menyebut film ini “secara konsisten dan kreatif membunuh kompetisi.”

Metacritic memberikan skor 75 dari 100, menunjukkan ulasan yang umumnya menguntungkan. Kritikus Rafael Motamayor bahkan membandingkan aksi berpacu cepat film ini dengan Mad Max: Fury Road dan menyebutnya sebagai sekuel terbaik sejak John Wick: Chapter 4.

Bagi penonton Indonesia yang mungkin belum familiar dengan konsep “sisu”—kata Finlandia yang tidak memiliki terjemahan langsung—film ini adalah pengantar sempurna.

Sisu adalah tentang keberanian dalam bentuk paling putih dan mentah, tentang ketabahan yang melampaui logika, tentang kemampuan untuk terus berjuang bahkan ketika segala sesuatu mengatakan Anda harus menyerah. Ini adalah filosofi yang universal, yang bisa dipahami oleh siapa saja yang pernah menghadapi kesulitan yang tampak mustahil.

Yang mengharukan adalah bahwa meskipun film ini penuh dengan kekerasan eksplisit—diberi rating R untuk “kekerasan berdarah yang kuat, darah, dan bahasa kasar”—pada intinya, ini adalah film tentang cinta.

Cinta seorang pria kepada keluarganya, cinta kepada tanah air, cinta kepada prinsip yang membuatnya tetap manusia di tengah dunia yang telah kehilangan kemanusiaan.

Helander sendiri menyatakan bahwa ia menganggap Road to Revenge sebagai kesimpulan yang baik untuk cerita ini, meskipun ia tidak sepenuhnya menutup kemungkinan sekuel ketiga jika ada kesempatan.

Tommila juga memberikan petunjuk bahwa jika ia diundang untuk memainkan Aatami Korpi dalam film ketiga, ia akan melakukannya selama masih memiliki kekuatan yang cukup.

Namun entah ada film ketiga atau tidak, Sisu: Road to Revenge sudah berdiri sebagai pencapaian luar biasa dalam sinema aksi kontemporer. Ini adalah film yang mengingatkan kita bahwa pahlawan sejati tidak selalu berbicara paling keras atau tampil paling flamboyan.

Terkadang, pahlawan sejati adalah orang yang diam, yang menanggung bebannya dengan tenang, yang terus melangkah maju bahkan ketika setiap langkah terasa seperti siksa.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi oleh kebisingan dan kehebohan kosong, Sisu: Road to Revenge adalah pengingat yang kuat dan menyentuh bahwa kekuatan terbesar sering kali datang dalam bentuk yang paling hening.

Dan dalam keheningan Aatami Korpi, kita semua bisa mendengar gema perjuangan kita sendiri—untuk bertahan, untuk melindungi apa yang kita cintai, untuk tidak pernah menyerah pada kegelapan.

Ini bukan sekadar film aksi. Ini adalah puisi tentang ketahanan manusia, ditulis dengan darah, keringat, dan air mata.

Related Posts
Di Balik Topeng Pemburu: Ketika Predator Menemukan Kemanusiaannya
da momen langka dalam sinema ketika sebuah waralaba berani mengubah arah kompas narasinya seratus delapan puluh derajat. Predator: Badlands, yang tayang 7 November 2025 di bioskop-bioskop Amerika Serikat, adalah bukti ...
Posting Terkait
FILM LEHER ANGSA : PADUAN KOMEDI & IRONI DARI KAKI GUNUNG RINJANI
ari Jum'at siang (28/6), saya memenuhi janji kepada putra tertua saya Rizky untuk menonton film "Leher Angsa" seusai 3 gigi susunya dicabut di Rumah Sakit Siloam Cikarang. Film ini ...
Posting Terkait
Ketika Cinta Mengajarkan Arti Hijrah: Sebuah Perjalanan Spiritual dalam Film “Bidadari Surga”
Ada sesuatu yang menggetarkan jiwa ketika sinema Indonesia berani mengangkat pertanyaan mendasar tentang bagaimana cinta sejati mampu mengubah manusia. Film Bidadari Surga, yang tayang di bioskop mulai 15 Januari 2026, hadir ...
Posting Terkait
FILM BRANDAL-BRANDAL CILIWUNG : PATRIOTISME DALAM NUANSA KEBHINEKAAN
ejak iklan dan poster film ini ditayangkan bulan lalu, kedua anak saya, Rizky dan Alya sudah penasaran dan meminta saya untuk menyiapkan waktu bersama untuk menontonnya. Alhamdulillah, saat itu tiba ...
Posting Terkait
FILM “ANAK MUDA PALSU” : TENTANG KESETIAKAWANAN DAN IKHTIAR MERAIH IMPIAN
ari Kamis petang, 11 Juli 2019, seusai jam kantor, saya bergegas menuju ke Blok M Square, Jakarta Selatan. Disana, tepatnya di Studio XXI lantai 5, saya bergabung dengan teman-teman alumni ...
Posting Terkait
MISSION IMPOSSIBLE 4 (GHOST PROTOCOL) : SPEKTAKULER & MENEGANGKAN !
inggu (18/12), bersama istri tercinta, saya berkesempatan menonton film Mission Impossible IV (Ghost Protocol) di Studio 1 Blitz Megaplex Pacific Place. Hari itu, kedua anak kami sedang mengikuti outing ...
Posting Terkait
Resensi Film “Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung” : Cinta Terlarang di Bawah Bayang-Bayang Hantu
Sinema Indonesia kembali membuktikan kehebatannya dalam mengolah cerita rakyat menjadi hiburan modern yang menawan melalui "Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung", sebuah karya komedi horor yang disutradarai Herwin ...
Posting Terkait
FILM TANAH SURGA, KATANYA : IRONI KEBANGSAAN DALAM KEMELARATAN DI PERBATASAN
ari Minggu (26/8) kemarin, kami sekeluarga menyempatkan diri menonton film "Tanah Surga, Katanya" di Studio 4 XXI Mal Lippo Cikarang. Kedua anak saya sangat antusias ingin menonton film ini setelah ...
Posting Terkait
FILM WRECK-IT RALPH : MAKNA KEPAHLAWANAN DAN SETIA KAWAN
emarin siang, Minggu (11/11) kami sekeluarga menonton film "Wreck it Ralph" di XXI Bekasi Square. Sejak melihat trailer filmnya dalam iklan televisi, kedua anak saya sudah meminta saya menonton film ...
Posting Terkait
Ketika Kasih Sayang Bersandar pada Ketidakberdayaan: Membaca Kemanusiaan dalam “Pangku”
Ada semacam kesakitan yang tertahan di setiap adegan film Pangku. Bukan teriakan yang menggema, melainkan bisikan lirih tentang keputusasaan yang dipaksa bertahan hidup. Dalam debut penyutradaraannya, Reza Rahadian menghadirkan kisah Sartika, ...
Posting Terkait
FILM DON’T LOOK UP: KISAH SATIRE JELANG KIAMAT KOMET
Jaringan TV streaming berbayar, Netflix, baru saja meluncurkan film anyarnya bertajuk "Don't Look Up". Film bertabur bintang ini dirilis di Indonesia, 24 Desember 2021 dan mendapatkan beragam pendapat. Disutradarai oleh Adam McKay ...
Posting Terkait
FILM “KARTINI” : TENTANG KEMERDEKAAN BERFIKIR & MELEPAS BELENGGU TRADISI
ila pekan lalu saya memenuhi janji anak sulung saya menonton film FF8 (sudah saya review filmnya disini), maka hari Minggu (23/4) siang, di bioskop yang sama, namun film yang berbeda, ...
Posting Terkait
GULLIVERS TRAVELS : RAKSASA CENTIL DI NEGERI LILIPUT
ebuah motivasi romantik menjadi alasan saya untuk penasaran menonton film Gulliver’s Travel ini tanpa perlu membaca resensi filmnya lebih dulu di beberapa media, seperti biasa. Kisah Gulliver di Negeri Liliput ...
Posting Terkait
FILM COBOY JUNIOR : TENTANG JADI YANG TERBAIK DAN DEMAM UNYU-UNYU
eusai mengikuti hari terakhir ujian kenaikan kelas, Sabtu (8/6) saya menunaikan "janji" kepada kedua anak saya, Rizky dan Alya, untuk menonton film Coboy Junior di XXI Mall Lippo Cikarang. Yang ...
Posting Terkait
RESENSI BUKU “DALAM DEKAPAN ZAMAN” : SENARAI KISAH INSPIRATIF SANG PEGIAT HARMONI BUMI
Judul Buku : Dalam Dekapan Zaman (Memoar Pegiat Harmoni Bumi) Penulis : Amanda Katili Niode, PhD Cetakan : Pertama, Oktober 2024 Halaman : xxxviii + 420 halaman ISBN : 978-623-8228-51-5 Penerbit : CV Diomedia Buku "Dalam Dekapan ...
Posting Terkait
FILM AMAZING SPIDERMAN-2 : PADUAN ROMANTISME REMAJA & AKSI SPEKTAKULER YANG MEMUKAU
epat di hari libur dalam rangka peringatan Hari Buruh Internasional, Kamis (1/5) kemarin, saya dan keluarga berkesempatan untuk menonton film "Amazing Spiderman-2 - Rise of Electro" di XXI Mall Lippo ...
Posting Terkait
Di Balik Topeng Pemburu: Ketika Predator Menemukan Kemanusiaannya
FILM LEHER ANGSA : PADUAN KOMEDI & IRONI
Ketika Cinta Mengajarkan Arti Hijrah: Sebuah Perjalanan Spiritual
FILM BRANDAL-BRANDAL CILIWUNG : PATRIOTISME DALAM NUANSA KEBHINEKAAN
FILM “ANAK MUDA PALSU” : TENTANG KESETIAKAWANAN DAN
MISSION IMPOSSIBLE 4 (GHOST PROTOCOL) : SPEKTAKULER &
Resensi Film “Kang Solah from Kang Mak x
FILM TANAH SURGA, KATANYA : IRONI KEBANGSAAN DALAM
FILM WRECK-IT RALPH : MAKNA KEPAHLAWANAN DAN SETIA
Ketika Kasih Sayang Bersandar pada Ketidakberdayaan: Membaca Kemanusiaan
FILM DON’T LOOK UP: KISAH SATIRE JELANG KIAMAT
FILM “KARTINI” : TENTANG KEMERDEKAAN BERFIKIR & MELEPAS
GULLIVERS TRAVELS : RAKSASA CENTIL DI NEGERI LILIPUT
FILM COBOY JUNIOR : TENTANG JADI YANG TERBAIK
RESENSI BUKU “DALAM DEKAPAN ZAMAN” : SENARAI KISAH
FILM AMAZING SPIDERMAN-2 : PADUAN ROMANTISME REMAJA &

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *