Catatan Dari Hati

Cukup Menjadi Manusia: Sebuah Surat untuk Mereka yang Terlalu Lelah Berpura-pura Baik-baik Saja


“Why, why… tell ’em that it’s human nature.”

Michael Jackson, Human Nature (1982)


Ada malam-malam tertentu ketika kita berdiri di tepi jendela, menatap gemerlap lampu kota yang tak pernah padam, dan bertanya kepada diri sendiri: apakah hidup memang seharusnya serumit ini? Pertanyaan itu bukan kelemahan. Pertanyaan itu adalah tentang manusia.

Dan empat dekade lalu, Michael Jackson menyanyikannya dengan lembut , bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai pengakuan yang jujur tentang kerinduan jiwa yang paling dalam. Saya menyaksikan lagu itu dialunkan saat menonton film “Michael” yang dibintangi oleh Jaafar Jackson 2 pekan silam dan hingga saatnya gemanya masih terasa mengetuk hati.

Human Nature bukan sekadar lagu pop. Ia adalah bisikan dari seseorang yang terlalu lama hidup di bawah cahaya sorot, yang tahu betapa penatnya menjadi sempurna di mata dunia, dan yang pada akhirnya hanya ingin — seperti kita semua — berjalan bebas di antara keramaian, merasakan napas kota di malam hari, dan mengikuti ke mana hati membawa langkah. Itu saja. Bukan ambisi besar. Bukan penaklukan. Hanya kebebasan yang paling sederhana.

Namun kita hidup di zaman yang menjadikan kesederhanaan itu terasa seperti kemewahan langka. Hidup hari ini adalah sebuah marathon tanpa garis finish yang jelas. Tagihan datang lebih cepat dari gaji. Kabar buruk mengalir deras di layar kecil yang kita genggam sepanjang hari.

Perbandingan sosial — yang dulu hanya terjadi di antara tetangga satu kampung — kini terjadi secara global, dua puluh empat jam, tujuh hari seminggu. Kita membandingkan diri kita dengan seseorang yang sedang liburan di Santorini, dengan pengusaha muda yang baru IPO di usia dua puluh delapan, dengan ibu yang tampak sempurna sambil tetap menjalankan bisnis dan memasak makan malam organik.

Dan di antara perbandingan-perbandingan itu, kita perlahan lupa: siapa kita sebenarnya?

Ketika Dunia Bergerak Lebih Cepat dari Jantung Kita

Teknologi menjanjikan kemudahan, dan memang ia memberikannya , tapi ia juga mencuri sesuatu yang lebih berharga: keheningan. Kita dulu bisa duduk menunggu tanpa melakukan apa-apa, dan di sela-sela penantian itu, pikiran bisa mengembara, hati bisa berbicara, jiwa bisa bernapas.

Sekarang, bahkan satu menit menunggu lift pun kita isi dengan menggulir layar. Kita takut pada kesunyian. Kita takut pada diri sendiri yang tidak sedang melakukan sesuatu.

Michael Jackson menyanyikan soal berjalan-jalan di malam hari bukan tanpa tujuan. Ada sesuatu yang suci dalam tindakan itu : sebuah penyerahan diri kepada momen, kepada naluri, kepada apa yang para filsuf Yunani sebut sebagai eudaimonia: hidup yang mengalir selaras dengan kodrat terdalam kita.

Tapi kodrat manusia itu kini dikepung dari segala penjuru. Oleh ekspektasi. Oleh algoritma. Oleh versi ideal dari diri kita yang terus-menerus dipromosikan oleh dunia luar.

Looking out across the nighttimeThe city winks a sleepless eyeHear her voice shake my windowSweet seducing sighs
Get me out into the nighttimeFour walls won’t hold me tonightIf this town is just an appleThen let me take a bite
If they say why? (Why?) Why? (Why?)Tell ’em that it’s human natureWhy? (Why?) Why? (Why?) Does he do me that way?If they say, why? (Why?) Why? (Why?)Tell ’em that it’s human natureWhy? (Why?) Why? (Why?) Does he do me that way?
— Human Nature, Michael Jackson

Kalimat itu bukan pembelaan. Itu adalah keteguhan. Seolah Jackson berkata: ya, aku tahu ini tidak selalu masuk akal. Aku tahu dunia menginginkan aku menjadi berbeda. Tapi ini aku. Ini sifat manusiaku. Dan aku memilihnya.

Luka yang Tidak Terlihat di Balik Senyum yang Sempurna

Kita hidup di era di mana kesehatan mental akhirnya mulai dibicarakan, namun stigmanya belum sepenuhnya runtuh. Jutaan orang bangun setiap pagi dengan beban yang tidak terlihat : kecemasan yang menempel seperti bayangan, kesedihan yang tidak punya nama, kelelahan yang tidak bisa dijelaskan kepada atasan atau pasangan atau orang tua. Mereka tersenyum dalam foto, produktif di kantor, aktif di grup WhatsApp. Tapi di dalam, ada yang retak.

Dan yang paling menyakitkan adalah rasa sendirian itu. Perasaan bahwa hanya kita yang merasa begini. Bahwa orang lain entah bagaimana berhasil menjalani hidup dengan lebih anggun, lebih ringan, lebih benar. Ini adalah kebohongan terbesar dari era media sosial: ia menampilkan ringkasan terbaik dari kehidupan semua orang, dan kita membandingkannya dengan keseluruhan kekacauan hidup kita sendiri.

Padahal di balik setiap foto yang bersinar itu, ada manusia biasa : dengan tagihan yang menumpuk, dengan hubungan yang retak, dengan mimpi yang tertunda, dengan rasa takut yang tidak berani diakui keras-keras. Kita semua adalah manusia yang sedang berjuang. Dan justru di situlah letak keindahan yang selama ini kita lewatkan.

Memilih untuk Tetap jadi Manusia

Maka apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa keluar dari dunia. Kita tidak bisa menghentikan waktu atau memutar balik kompleksitas. Tapi kita bisa memilih — seperti yang Jackson nyanyikan — untuk mengikuti suara hati kita sendiri, bukan sorak-sorai kerumunan.

Memilih untuk tetap manusia artinya berani mengakui bahwa kita lelah, tanpa harus segera bangkit dan membuktikan sesuatu. Artinya membiarkan diri menangis di dalam mobil sebelum masuk rumah, karena air mata itu jujur dan itu manusiawi. Artinya menelpon seseorang bukan untuk melapor bahwa kita baik-baik saja, tapi untuk berkata pelan: “aku butuh didengar malam ini.”

Memilih untuk tetap manusia artinya melepaskan sedikit beban dari pundak yang sudah terlalu lama menanggung segalanya sendirian. Artinya belajar bahwa minta tolong bukan kekalahan , itu adalah keberanian.

Artinya menemukan kembali hal-hal kecil yang dulu membuat hati tenang: secangkir kopi di pagi yang sunyi, buku yang terbuka di pangkuan, hujan yang turun deras di luar jendela, tawa anak kecil yang belum belajar berpura-pura.

Di sinilah Human Nature menemukan relevansinya yang abadi. Bukan karena liriknya kompleks , justru sebaliknya. Karena ia sederhana. Karena ia mengingatkan kita bahwa di balik semua lapisan ambisi, performa, dan pencitraan yang kita bangun setiap hari, ada sesuatu yang lebih tua dan lebih nyata: keinginan untuk hidup dengan tulus, untuk dicintai apa adanya, dan untuk sesekali berdiri di bawah langit malam dan merasakan bahwa kita bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri.

Hidup memang tidak mudah. Mungkin ia tidak pernah dirancang untuk mudah. Tapi ia dirancang — atau setidaknya, ia bisa dipilih — untuk bermakna. Dan makna itu tidak selalu datang dari pencapaian besar.

Ia sering datang dari momen-momen kecil yang kita izinkan untuk benar-benar kita rasakan: ketika kita memaafkan diri sendiri, ketika kita memilih hadir di antara orang-orang yang kita sayangi, ketika kita berhenti sejenak di tengah kebisingan dunia dan memilih — dengan penuh kesadaran — untuk tetap menjadi manusia.

Karena itulah kodrat kita.

Kodrat Manusia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *