Catatan Dari Hati

(Narsis) Perempuan yang Berdiri di Tepi Kenangan

Di usia enam puluh tujuh tahun, Wening belajar bahwa kehilangan punya banyak wajah.

Ada kehilangan yang datang seperti gempa : tiba-tiba, mengoyak segalanya, meninggalkan puing yang butuh bertahun-tahun untuk dirapikan.

Itu yang ia rasakan ketika suaminya pergi dua puluh tahun lalu , bukan meninggal, tapi memilih pergi, yang terasa jauh lebih menyakitkan karena ada keputusan di dalamnya.

Dan ada kehilangan yang datang seperti air laut surut : pelan, tidak terasa, sampai suatu hari kamu berdiri di pantai dan menyadari betapa jauh air sudah mundur.

Cucu Wening, Ara, datang mengunjunginya setiap Minggu.

Hari ini mereka duduk di teras belakang, melihat kebun kecil yang Wening rawat sendiri selama bertahun-tahun.

Mawar putih. Lavender. Beberapa tanaman yang Wening tidak tahu namanya tapi terlanjur sayang karena sudah tumbuh besar.

“Nenek nggak kesepian?” tanya Ara tiba-tiba.

Wening tersenyum. Senyum yang tidak perlu dibuat-buat, yang datang dari tempat dalam di dalam dirinya yang sudah damai.

“Kesepian dan sendirian itu beda,” jawabnya.

Ara mengerutkan dahi. Dua puluh tiga tahun, masih di usia di mana semua pertanyaan terasa sangat mendesak untuk dijawab.

“Bedanya apa?”

Wening menatap mawarnya.

Ada satu yang sedang mekar sempurna : putih bersih, tidak ada satu pun kelopak yang rusak.

“Sendirian itu kondisi. Kesepian itu pilihan.”

“Tapi Nenek pernah nggak… kangen dipeluk? Kangen ada yang nemenin?”

Pertanyaan itu menghantam dengan cara yang lembut , seperti angin, bukan batu.

Wening diam sejenak. Membiarkan pertanyaan itu duduk di antara mereka.

“Pernah,” akhirnya ia menjawab. “Bertahun-tahun, Nek selalu kangen itu. Selalu ada bagian di dalam diri yang ngerasa… kurang. Kosong.”

“Terus?”

“Terus Nek sadar,” kata Wening, “bahwa menunggu seseorang untuk mengisi kekosongan itu sama saja dengan membiarkan hidupmu ditentukan oleh ketidakhadiran orang lain. Dan itu terlalu mahal harganya.”

Ara terdiam.

“Jadi Nenek berhenti nunggu?”

“Nenek belajar hadir,” jawab Wening. “Buat diri sendiri. Seperti yang harusnya Nenek lakukan dari dulu.”

Angin bertiup. Mawar putih itu bergoyang sedikit , tidak jatuh, tidak patah.

Hanya bergerak, menerima angin, lalu kembali ke tempatnya.

Ara menatap neneknya lama.

Di wajah tua itu , keriput yang masing-masing punya cerita, rambut putih yang tidak pernah mau dikurangi, mata yang pernah menyimpan banyak air mata tapi sekarang hanya menyimpan kejernihan , ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Bukan kebahagiaan yang sempurna.

Bukan kedamaian yang palsu.

Tapi perempuan yang sudah berdamai dengan semua tepi-tepi tajam dalam hidupnya. Yang sudah belajar bahwa tidak semua luka perlu sembuh untuk bisa hidup dengan baik.

Yang sudah menemukan bahwa pelukan paling panjang adalah pelukan yang kita berikan pada diri sendiri , bukan karena tidak ada orang lain, tapi karena kita akhirnya cukup.

“Nenek,” kata Ara pelan.

“Hm?”

“Aku mau belajar dari Nenek.”

Wening menoleh.

Mengulurkan tangan. Menggenggam jari-jari Ara yang masih muda, masih belum banyak tahu tapi sudah mulai mau tahu.

“Nggak usah belajar dari Nenek,” katanya. “Belajar dari dirimu sendiri. Lebih cepat sampainya.”

Mereka tertawa bersama.

Di kebun kecil itu. Di bawah langit Minggu yang tidak terlalu cerah tapi tidak juga mendung. Di antara bunga-bunga yang tidak tahu apa-apa tentang kesedihan manusia tapi tetap memilih mekar.

Seperti yang selalu dilakukan hidup , terus saja mekar, meski tidak ada yang meminta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *