Catatan Dari Hati

(Narsis) : Kemana Angin Membawamu

Ada yang aneh dari cara Dara dan Langit mencintai mimpi masing-masing , mereka terhubung justru karena impian mereka saling bertolak belakang.

Dara ingin tinggal. Di kota kecil ini, di antara gang-gang sempit, di warung kopi Pak Slamet yang selalu buka jam lima pagi. Ia ingin menjadi guru, ingin menanam sesuatu yang bisa tumbuh di tanah yang sama dengan tempat ia lahir.

Langit ingin pergi. Ke mana saja. Sejauh mungkin. Ia punya peta tua di dinding kamarnya, penuh dengan tanda bintang : kota-kota yang belum pernah ia jejak tapi sudah ia impikan sejak lama.

Mereka bertemu di tepi danau ketika hujan turun tiba-tiba dan keduanya berlindung di bawah pohon beringin tua yang sama.

Langit membuat perahu dari kertas bungkus catatannya. Dara tertawa, katanya, “itu pasti tenggelam.”

“Semua perahu pada akhirnya tenggelam,” jawab Langit. “Tapi sebelum itu, dia berlayar.”

Dara tidak punya jawaban untuk itu.

****

Mereka menghabiskan satu musim hujan dengan berdebat soal hal-hal kecil , apakah akar lebih penting dari sayap, apakah rumah adalah tempat atau perasaan, apakah cinta harus sejalan dengan impian agar bisa bertahan.

Tidak ada yang menang. Tidak ada yang mau mengalah.

Ketika Langit akhirnya membeli tiket kereta , satu arah, ke kota yang ada bintangnya di peta itu , Dara mengantarnya ke stasiun tanpa menangis.

Ia hanya menyerahkan sebuah amplop kecil.

“Buka kalau sudah di atas kereta,” kata Dara.

Di dalam amplop itu ada selembar kertas yang sudah dilipat jadi perahu.

Dan di dalamnya, tulisan kecil: Berlayarlah sejauh yang kamu mau. Tapi tahu kah kamu , aku akan tetap di sini, menunggu angin membawamu pulang.

Langit membaca itu tiga kali.
Lalu ia menatap jendela kereta yang basah oleh hujan dan untuk pertama kalinya, kota-kota di petanya terasa lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *